Senin, 09 November 2009

40 Warga Aceh Terinfeksi HIV/AIDS

40 Warga Aceh Terinfeksi HIV/AIDS ; 15 Diantaranya Meninggal Dunia

Banda Aceh, (Analisa).
Sedikitnya 40 warga Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), hingga saat ini sudah positif terkena Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS). Data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Aceh, dari jumlah penderita itu, sebanyak 15 orang diantaranya telah meninggal dunia beberapa waktu lalu.
Sekretaris KPA Provinsi Aceh, dr. Ormaia Nyak Oemar M.Kes, mengatakan, pada 2004 terdata satu kasus AIDS di Aceh, 2005 dua kasus, 2006 tujuh kasus tiga di antaranya HIV, tahun 2007 sembilan kasus, satu di antaranya HIV dan 2008 12 kasus dua kasus HIV dan sembilan kasus AIDS. "Jumlah kasus AIDS hingga Oktober 2009 bertambah sembilan orang, tiga di antaranya meninggal dunia," kata Ormaia Nyak Umar di Banda Aceh, Sabtu (7/11).

Dijelaskan, sembilan kasus AIDS yang ditemukan sepanjang 2009 tersebut, tiga ditularkan dari hubungan seksual dan selebihnya akibat penggunaan narkotika suntik (injection drug user/IDU). Sebagian besar penderita akibat IDU adalah laki-laki dan seorang perempuan, sedangkan penderita AIDS akibat hubungan seksual adalah perempuan.
Kasus tersebut terjadi di 17 kabupaten/kota. Salah satu penyebab meningkatnya kasus HIV/AIDS di Aceh adalah semakin terbukanya daerah ini pascatsunami sehingga arus informasi dan transportasi semakin terbuka. Ormaia menambahkan, dari 40 kasus HIV/AIDS yang sudah ditemukan, 16 kasus ditularkan akibat penggunaan narkotika suntik dan selebihnya disebabkan hubungan seksual. Kasus HIV/AIDS di Aceh didominasi laki-laki yakni 25 penderita dan 15 lainnya perempuan.

Lhokseumawe dan Langsa terbanyak ditemukan kasus AIDS masing-masing 4 kasus. Disusul, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, Pidie dan Aceh Besar, masing-masing 3 kasus. Selanjutnya, Banda Aceh, Aceh Barat, Aceh Tamiang, Simeulue, Bener Meriah dan Aceh Tengah 12 kasus. Sedangkan Aceh Selatan dan Sabang baru ditemukan 2 kasus.
KPAP Aceh memperkirakan, pengindap HIV/AIDS di Aceh tahun ini 1.686 orang (1426 HIV dan 260 AIDS). Sementara estimasi 2010, jumlahnya bertambah mencapai 1.916 pengindap (1627 HIV dan 289 AIDS).

Komisi Pengawasan

Terkait terjadinya peningkatan penyebaran HIV/AIDS di Aceh, Ormaia menyatakan, pihaknya terus mengaktifkan komisi pengawasan di kabupaten/kota. Melalui komisi itu, masyarakat yang tak paham dengan HIV/AIDS bisa membuka diri ke sana agar mengerti. "Dengan terbentuknya komisi ini masyarakat khususnya yang terkena HIV/AIDS sudah bisa berkomunikasi seperti kemana dia mau cari VCT atau konselor yang dibutuhan," jelasnya.
Diakuinya, upaya penanggulangan virus HIV/AIDS agar tidak terus meluas di Aceh agak sulit dengan adanya diskriminasi dan pengucilan terhadap para penderita yang sudah dinyatakan positif terkena virus itu. Hal ini membuat para penderita yang positif, tidak mau mengakui dirinya sudah tertular penyakit itu karena akan dikucilkan.
"Kita masih ada diskriminasi terhadap para penderita sehingga menyulitkanpenanggulangan.
Stigma yg masih ada terlalu tinggi karena kita memang berlaku syariat Islam di NAD, mungkin kalau di provinsi lain tidak, kalau mereka positif virus HIV/AIDS tidak dikucilkan oleh masyarakat, dan tidak ada perbedaan,"ujar Ormaia.

Pengelola Program KPA Provinsi Aceh, Safwan mengatakan, ada delapan unit Voluntary Counseling and Testing (VCT) di Aceh, yaitu RSUZA Banda Aceh, RS Kesdam dan RS Bhayangkara Polri di Banda Aceh. Kemudian, RSU Aceh Tamiang, RSU Langsa, RSU Cut Mutia Lhokseumawe, RSU Sigli dan RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh.
Selain RSUZA, VCT lainnya belum memberikan pelayanan efektif, karena kekurangan sarana dimilikinya. "Khususnya masalah obat, semua pasien harus mengambil di VCT RSUZA, katanya. (mhd)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.