Kamis, 05 November 2009


KEPEMIMPINAN YANG CERDAS
DAN BERTANGGUNG JAWAB


Disampaikan di depan “AMSA LEADERSHIP TRAINING” Universitas Syiah Kuala pada 11 Maret 2007.

“ Orang yang paling cerdas adalah orang yang banyak-banyak ingat mati dan dengan penuh kesungguhan mempersiapkan diri menghadapi kematian. Itulah orang-orang yang paling cerdas. Kembali kepada Allah dengan kemuliaan duniawi dan ukhrawi (Al-Hadist)

Dari Hadis ini dapat dipahami:

1. Kendati dalam kehidupan kontemporer gelar kesarjanaan formal merupakan indikator kepintaran/kecerdasan seseorang, namun tidak demikian menurut konsep Rasul.

2. Hakikat orang-orang pintar menurut hadist di atas ialah orang-orang yang mulia dan di muliakan oleh sesama manusia ketika hidup di dunia dan mulia serta di muliakan Allah ketika kembali ke alam akhirat (Alam Baqa)


3. Hidup di dunia hanya sementara dengan batas umur yang tertentu dan tidak ada seorangpun yang mampu melampauinya:

At- Taubah, ayar 38
Al- ‘Ankabut, ayat 64
Al- Baqarah, ayat 32

Niscaya mendapat tempat/derajat yang terhormat di dunia dan di akhirat, Allah SWT memberi pedoman melalui firman-Nya:

“Allah mengangkat tempat/derajat orang-orang yang beriman dan berilmu” (Al-Mujadalah, ayat 11)

Siapa dan bagimanakah sosok orang-orang yang beriman dan berilmu sehingga mendapat tempat/derajat mulia di dunia dan di akhirat?

1. Orang-orang beriman:

Mengimani 6 (enam) rukun iman
Al- Hujarat, ayat 15

2. Orang-orang berilmu, yakni memiliki ilmu pengetahuan dalam bidang apapun yang bermanfaat bagi kemaslahatan manusia dan alam sekitarnya (lat batat kayee bate)

-------ooo------




“Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin diminta pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya” (Al-Hadist).


Teks hadis ini cukup jelas, bahwa setiap orang adalah pemimpin dengan ruang lingkup yang variatif:

Pemimpin untuk dirinya
Pemimpin dalam keluarganya
Pemimpin komunitas/masyarakatnya dengan tingkatan/level yang berbeda
Kepemimpinan ada pertanggungjawaban duniawi dan ukhrawi

Terhadap hal ini Allah mengingatkan:

“Dialah Allah yang menjadikan kamu pemimpin-pemimpin di muka bumi dengan berbagai tingkatan dan itu semua adalah ujian bagimu. (Al- Qur’an)

Dari ayat ini dapat dipahami:

1. Mendapat jabatan kepemimpinan adalah Anugerah dari Allah
2. Jabatan kepemimpinan adalah ujian/cobaan, bukan sesuatu yang harus di banggakan.

Dengan pemahaman seperti ini, maka:

1. Seseorang tidak akan memburu kekuasaan dengan cara-cara syaithanis/machiavelistis:

Politik uang
Politik preman
Politik manipulatif, dan sebagainya

2. Kekuasan yang dimiliki dijadikan sebagai alat dalam usaha/upaya agar masyarakat/rakyat:

Tenang beribadah
Sejahtera dalam kehidupan, dan
Aman dari ketakutan (Quraisy, ayat 3 dan 4).

Aktualisasi dari usaha/upaya ini, pemimpin/penguasa harus:

a. Menjaga agama (Hifdzud Din)
b. Menjaga eksistensi fisik jiwa, harkat dan martabat manusia (Hifdzun Nafs)

Al- Isra’, ayat 70
Al-Maidah, ayat 32
Al- An’am, ayat 151
c. Memelihara kelangsungan keturunan (Hifdzun Nals)

An-Nisa, ayat 1
An-Nisa, ayat 9

d. Memelihara harta benda (Hifdzul Mal)

Hud, ayat 61
Al- Baqarah, ayat 29
Al- Baqarah, ayat188

e. Memelihara akal (Hifdzul Aql)


------ooOoo------

Semua aktivitas manusia dengan rupa-rupa profesinya dalam segala ruang dan waktu senantiasa di bawah pantauan dan kontrol Allah SWT dengan kensekuensi duniawi dan ukhrawi:

Ibrahim, ayat 51
Thaha, ayat 15
Al- Hadid, ayat 4
Al- Infithar, ayat 10-14.


Lamprit, (Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia) DDII-NAD
28 Februari 2007 M
10 Shafar 1428 H


Ghazali Abbas Adan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.