Minggu, 08 November 2009

Plus Minus Pembangunan Kota Langsa


Plus Minus Pembangunan Kota Langsa

Oleh: Eddyanto
PADA 17 Oktober 2009, Pemko Langsa genap berusia 8 tahun. Sebagai sebuah kota hasil pemekaran dari kabupaten induk Aceh Timur, sudah sepantasnya pula kita sebagai warga yang lahir dan dibesarkan di daerah ini bersyukur dengan hasil yang telah dicapai. Memang, plus-minus dalam derap pembangunan kota Langsa masih kita jumpai dan rasakan, namun yang patut kita sadari bahwa pembangunan akan terwujud dan berhasil bila mendapat dukungan dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah atau pejabat pemerintah hanya sebagai salah satu alat untuk menakhodai pembangunan, namun pelaku-pelaku utama pembangunan itu adalah masyarakat kota Langsa seluruhnya. Tanpa dukungan masyarakat, mustahil pembangunan yang diharapkan dapat terwujud apalagi bila masyarakat sendiri menaruh rasa apatis dan tak mau peduli dengan keberadaan kotanya yang tercinta.
Seiring dengan 8 tahun usia Pemko Langsa ini, ternyata hanya satu sisi saja yang menunjukkan pertumbuhan luar biasa di sektor fisik yakni menjamurnya pembangunan pusat pertokoan atau ruko-ruko di sejumlah sudut kota ini. Sementara pembangunan dunia pendidikan yang selama ini cukup memberikan kebanggaan bagi daerah ini masih jalan di tempat, tidak banyak gedung sekolah baru yang dibangun.


Pembangunan infrastruktur berupa sarana dan prasarana umum masih belum membanggakan. Bahkan pembangunan infrastruktur ini banyak program tambal sulam, sudah dibangun, dibongkar dan dibangun yang lainnya. Untuk kondisi ruas jalan di wilayah Pemko Langsa, masih banyak dijumpai jalan-jalan yang rusak demikian juga pembangunan sarana irigasi masih sangat minim.
Kota Langsa yang memiliki beberapa desa dan kecamatan yang pantas diberdayakan sebagai lumbung pangan daerah ini masih kerap terabaikan dibanding-kan sektor jasa lainnya.
Desa Alur Merbau, Buket Metuah, Alur Pinang yang merupakan pemasok utama padi sawah untuk Pemko Langsa malah masyarakatnya masih mengandalkan sawah tadah hujan. Bila hujan turun, maka persawahan ditanami namun bila kemarau petani kelimpungan kekurangan air.
Masih Kurang Zulkifli, salah seorang pengurus KTNA Kecamatan Langsa Timur kepada wartawan baru-baru ini menyatakan perhatian Pemko Langsa terhadap sektor ini masih sangat kurang. Irigasi yang didambakan petani masih sangat minim. Kalaupun ada banyak yang rusak akibat dibangun asal jadi seperti irigasi di Desa Asam Petek yang hancur akibat diterjang banjir.
Hal senada juga dikatakan M Yusuf, salah seorang pengurus KTNA Kota Langsa. Pemko Langsa masih kurang perhatian terhadap nasib para petani. Pemerintah Pusat sudah berencana menaikkan harga pupuk bersubsidi, tapi Pemko Langsa masih terkesan diam saja. "Harga tidak naik saja, pupuk susah kita dapatkan apalagi bila harga naik, maka penderitaan rakyat akan makin bertambah," katanya.


Sejumlah masyarakat yang berdomisili di kawasan daerah aliran sungai (DAS) Krueng Langsa yang selama ini kerap menjadi langganan banjir, masih saja terus berkutat dengan banjir. Upaya pelurusan Krueng Langsa yang sedang dikerjakan belum memberikan hasil positif. Ironisnya, bronjong penahan abrasi yang baru dibangun sudah ambruk.
Di bidang olahraga, harapan besar yang didambakan dari prestasi PSBL Langsa sebagai peserta Divisi I PSSI Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) hingga saat ini belum memberikan prestasi berarti. Miliaran rupiah dana APBK Langsa yang diplotkan untuk tim ini, terbuang percuma karena PSBL masih setia sebagai pecundang di Divisi I. Sementara lawan-lawannya dari tim lokal Aceh maupun lainnya sudah naik kasta ke level lebih tinggi Divisi Utama dan Liga Super.
Untuk bidang olahraga lainnya, masih kurang mendapat perhatian dibandingkan sepakbola. Padahal ada sejumlah cabang olahraga yang lebih berprestasi membanggakan.
Hanya di bidang pendidikan yang patut dibanggakan, karena prestasi-prestasi pelajar Langsa cukup disegani oleh daerah lain.
Sektor pemerintahan, kinerja aparatur Pemko Langsa masih belum baik, masih banyak klaim dari masyarakat yang mengkritik buruknya kinerja pejabat daerah ini. Pejabat yang terkait dengan proses hukum juga masih kerap dijumpai.


Untuk sektor perdagangan, persoalan pelik antara pedagang pasar dan pemerintah Kota Langsa masih terus berlangsung. Pedagang masih banyak menolak peraturan dan penertiban dari Pemko Langsa sementara solusi bagi penertiban para pedagang kakilima belum ada kejelasan.
Menyimak dari uraian diatas, rasanya masyarakat kota Langsa pantas menaruh harapan tinggi pada Walikota Zulkifli Zainon, apalagi Aceh sudah memasuki dan menikmati gerbang damai, UU-PA sudah lahir dan sebagainya. Demikian pula dengan anggota dewan (DPRK) Langsa yang baru sudah dilantik dan ureung nanggroe (sebutan untuk orang Aceh-red) sudah memimpin dewan yang terhormat ini.
Mungkin pada masa Pj Walikota Langsa perdana H.Azhari Aziz, Pemko Langsa masih meraba-raba, pada masa Pj Walikota HM Yusuf Yahya mulai berpikir lebih maju untuk berbuat sesuatu bagi kota ini, dan Pj Walikota Muchtar Achmadi Pemko Langsa sedang berupaya keras memacu derap pembangunan, maka pada masa walikota pilihan rakyat, Zulkifli Zainon ini lah masyarakat menikmati berbagai kemajuan yang diidamkan.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.