Senin, 07 Desember 2009

Kini, Gudang Hikayat itu Nyaris Kosong!


Kini, Gudang Hikayat itu Nyaris Kosong!
Oleh T.A. Sakti
UU.Hamidy, pakar Hikayat Aceh asal Unri, Pekanbaru-Riau; yang setahun penuh meneliti hikayat di Aceh tahun 1974 menyebutkan, bahwa jumlah hikayat Aceh tempo dulu hampir 1000 (seribu) judul(Baca: Aceh Gudang Hikayat Nusantara; Serambi Indonesia, Minggu, 12 Agustus 2007/Budaya). Dr. Snouck Hurgronje, orientalis Belanda dalam bukunya, tahun 1894; yang sejak tahun 1985  sudah diterjemahkan,: “Aceh di Mata Kolonialis” menyebutkan, bahwa ia telah mengkaji 98 judul hikayat (sebagian besarnya mungkin masih tersimpan di Belanda). Pustaka Ali Hasjmy dan Museum Aceh, Banda Aceh juga masing-masing menyimpan puluhan judul hikayat Aceh. Bila yang tersimpan di Belanda dan di Aceh dijumlahkan ternyata tidak sampai 200 judul. Dulu, di tahun 1974 sewaktu UU.Hamidy sedang meneliti hikayat;kita ketahui pula bahwa Teungku Anzib Lamnyong juga punya koleksi hikayat 200 judul;– sekarang entah dimana naskah hikayat itu setelah beliau almarhum!(?). Dan saya yakin pula, masih ada pribadi-pribadi warga Aceh yang menyimpan hikayat;walaupun tak pernah dibaca lagi. Beginilah gambaran umum penyebaran naskah hikayat Aceh di NAD dewasa ini!. Sekarang,  tepatlah digelar “Aceh Bekas Gudang Hikayat Nusantara”.
Hikayat adalah hasil kebudayaan Aceh masa lalu. Kejayaannya pun telah berlalu. Kini, hanya serpihannya tinggal berserakan di sana-sini dalam masyarakat Aceh. Sekiranya ada pihak yang mau sungguh-sungguh membangkitkannya kembali, hikayat Aceh  pasti bersinar lagi, walau tak semeriah dulu!!!.
Dalam tradisi Aceh, hikayat terbagi dalam tiga nama, yaitu Hikayat, Nadham/nazam dan Tambeh. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat, sebab sebagian orang menyebutkan Nazam dan Tambeh bukanlah Hikayat. Tetapi kitab tentang agama Islam dalam bentuk syair Aceh. Namun, penulis banyak mendapati, bahwa dalam naskah Nazam dan Tambeh itu  sendiri tersurat penyebutan dirinya sebagai Hikayat, yang biasa dijumpai di bagian penutupnya, dan malah kadang-kadang di pembukaannya. Salah satu contoh yang paling menyolok adalah Hikayat Akhbarul karim – karya Teungku Syik Seumatang – yang langsung pada judulnya tertera nama : Hikayat Akhbarul Karim. Padahal isinya melulu masalah agama Islam.
Dalam Hikayat terkandung beberapa hal, diantaranya perihal sejarah, adat-istiadat, tuntunan hidup, petuah-petuah dan lain-lain.. Sementara dalam Nazam dan Tambeh yang boleh dinamakan “Hikayat Agama” isinya terdiri dari masalah hukum, tauhid, akhlak, sejarah, tasawuf dan filsafat; yang semuanya terkait dengan agama Islam.
Hikayat, Nazam serta Tambeh semuanya tertulis dalam bahasa Aceh dengan menggunakan huruf Arab Melayu (Bahasa Aceh : Harah Jawoe). Jumlah hasil karya hikayat bila dibandingkan dengan naskah-naskah Nazam dan Tambeh memang jauh berbeda.
Diantara ketiga jenis sastra Aceh itu, ternyata hikayat yang sempat beredar  sampai beratus-ratus judul naskahnya. Dipihak lain, Nazam dan Tambeh memiliki judul naskah yang amat sedikit dibandingkan Hikayat(Dari tahun 1992 s/d 2008;  27 judul hikayat/tambeh/nazam dan 3 naskah bentuk prosa bahasa Melayu; sudah saya salin/transliterasikan dari huruf Arab Melayu/Jawoe ke aksara Latin, namun sebagian besarnya belum diterbitkan/dicetak). Akibat peredaran waktu dan perkembangan zaman, jumlah judul hikayat yang tersisa sekarang memang tidak banyak lagi; sebagaimana diungkapkan di atas. Apalagi dengan naskah Nazam dan Tambeh. Timbul pertanyaan, mengapa Hikayat lebih banyak ditulis? Hal ini menyangkut masalah kepopuleran atau” permintaan pasar” saat itu. Dimana sepanjang sejarah Aceh Hikayatlah yang lebih populer dalam masyarakat dibandingkan Nazam dan Tambeh. Pada era Aceh belum dibanjiri sarana hiburan produksi teknologi; seperti koran, radio, tivi, internet dan sebagainya; hikayat termasuk sumber hiburan paling utama. Saat itu, hikayat digemari kaum tua dan  muda . Selain itu, untuk mengarang naskah Nazam atau Tambeh juga perlu keahlian khusus dalam seluk-beluk agama Islam, Jadi tidak sekedar memiliki bakat “Penyair” dan melek huruf Arab Melayu; seperti syarat yang harus dipunyai pengarang Hikayat.
Penulis, memang belum pernah menyaksikan sendiri jumlah judul Hikayat yang beratus-ratus buah itu. Hanya dalam buku Prof. Dr. Aboebakar Atjeh (lihat: “Aceh dalam Sejarah Kebudayaan Sastra & Kesenian”, pt. alma’arif, halaman 21), yang pernah menyebutkan hal itu. Didalamnya disebutkan bahwa Prof. Hoessein Djajadiningrat(asisten Snouck Hurgronje) dulu memiliki 600 judul Hikayat yang merupakan hasil alih aksara(transliterasi)) dari huruf Arab Melayu (Aceh : Jawoe) ke huruf Latin. Usaha penggantian aksara itu dilakukan Tgk. Syekh Moh. Noerdin serta dibantu oleh Aboebakar Atjeh sendiri.
Setelah Hoessein Djajadiningrat meninggal, koleksi Hikayat itu dibeli oleh Mr. Mohd. Yamin- Pelopor Sumpah Pemuda 1928- dan tersimpan dalam perpustakaannya di Jakarta. Sejak itu, Prof. Dr. Aboebakar Atjeh sudah berkali-kali mengajak pemimpin-pemimpin Aceh untuk membeli kembali Hikayat-hikayat itu guna dibawa pulang ke Aceh. Tetapi usulnya selalu sia-sia. Cukup lama cerita naskah itu tak pernah terdengar lagi. Baru pada tanggal 31 Juli 1994 termuat kabar(-tulisan Nab Bahany As-) dalam Harian Serambi Indonesia, bahwa koleksi Hikayat Aceh telah berada di Perpustakaan Pertamina, Jakarta;  dalam keadaan lapuk dan dimakan rayap. Kini, setelah empat belas(14) tahun berlalu; seandainya masih bersisa dari 600 Hikayat itu, mungkinkah Pemda NAD menebusnya kembali?. Anggaplah itu  sebagai “Bungong jaroe” tahun baru 2009. Menstransliterasikan 600 judul  Hikayat dari huruf  Arab Jawoe ke aksara Latin; termasuklah karya raksasa!. Dan  kini tidak mungkin lagi diwujutkannya; di era Pemda NAD kurang peduli budaya. ApalagI naskah hikayat pun amat langka,  mau  cari dimana???.
Begitulah periode kejayaan Hikayat telah menoreh sejarah yang amat panjang di Aceh. Hikayat ditulis dan disalin dari generasi ke generasi. Dalam pandangan masyarakat Aceh zaman itu, Hikayat adalah kisah kehidupan masyarakatnya sendiri. Malah, sebagian tokoh-tokoh dalam cerita Hikayat telah dianggap sebagai orang-orang dari kalangan warga Aceh  sendiri. Selain itu, mereka juga yakin bahwa peristiwa-peristiwa yang dikisahkan Hikayat adalah benar-benar terjadi, bukan hasil khayalan penyair/pengarang.
Kini, segalanya telah berubah. Hikayat Aceh telah ditinggalkan peminatnya. Bahkan, sudah pada tingkat ‘dibenci’ terutama dikalangan generasi muda. Seorang remaja  Aceh sekarang, sangat merasa malu sekiranya terpergok temannya sedang membeli Hikayat di sebuah toko buku. Sebab, Hikayat sekarang dianggap sebagai ’lambang kekolotan dan kemunduran’. Masih adakah jalan menciptakan “rasa bangga” memiliki Hikayat  bagi generasi muda  Aceh?. Para pemimpin Aceh-lah yang mampu mewujudkannya!!!.
Saran-saran:
(1) Pemda NAD perlu mengumpulkan sisa-sisa Hikayat, Nazam dan Tambeh yang masih dimiliki masyarakat dan di luar negeri, lalu menyimpannya di sebuah Museum Hikayat. (2.) Hikayat-hikayat itu perlu direproduksi dengan menstransliterasikannya ke dalam huruf Latin. Kemudian, mencetak/menerbitkannya agar generasi muda Aceh dapat membaca kembali Hikayat-hikayat tersebut. (3) Setiap tahun Pemda NAD perlu menyelenggarakan sayembara mengarang dan membaca Hikayat Aceh, baik dalam aksara Latin maupun dalam huruf Arab Melayu/Jawoe. Sayembara itu perlu diikuti oleh peserta mulai kalangan anak-anak sampai kakek dan nenek dengan jumlah hadiah yang menggiurkan. (4) Pemda NAD perlu menciptakan sejenis “rasa bangga” atau rasa kagum dan rasa memiliki terhadap Hikayat bagi kalangan remaja di Aceh. Sekurang-kurangnya citra Hikayat sebagai simbol kekolotan atau lambang kemunduran dapat terhapuskan. (5) Bahasa dan sastra Aceh perlu diajarkan secara sungguh-sungguh di lembaga pendidikan; mulai dari Dayah, SD/MIN sampai SMU/MAN dan Perguruan Tinggi. Pengadaan buku pelajaran yang cukup dan bermutu merupakan pendukung utama keberhasilannya. (6) Pelajaran menulis/membaca huruf Arab Melayu/Jawoe perlu ditingkatkan semaksimal mungkin di sekolah-sekolah. Pengadaan buku pedoman penulisan yang seragam merupakan kebutuhan yang sudah mendesak. (7.)Perlu dibentuk sebuah ’Fakultas Budaya’ yang mengajarkan masalah kebudayaan Aceh. Atau paling kurang sebuah program studi bahasa dan Sastra Aceh yang mendidik calon-calon guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Aceh di sekolah-sekolah. (8) Pemda NAD perlu memiliki sebuah majalah “Bahasa dan Sastra Aceh” yang berkualitas dan bergengsi. Bahasa pengantar majalah itu tentunya dalam Bahasa Aceh. (9) Perlu dibentuk sebuah organisasi para penulis Bahasa dan Sastra Aceh. (10) Ada baiknya, dalam jangka tertentu Pemda NAD mengumpulkan para pengarang Hikayat dari seluruh Aceh. Dalam pertemuan antar generasi pengarang Hikayat itu diharapkan timbul saling tukar pengalaman tentang ketrampilan mengarang Hikayat. Sebab, pengarang Hikayat generasi muda hanya mengarang berdasarkan ’bakat’ semata-mata, – termasuk penulis sendiri -, sementara generasi tua mengarang Hikayat juga dilengkapi dengan “Ilmu Mengarang Syair Aceh”. (11) Pada setiap acara perlombaan yang diadakan oleh lembaga atau sekolah-sekolah, selain  jenis lomba yang dilombakan selama ini; eloklah pula dimasukkan lomba membaca/menulis Hikayat  atau lomba melukis cerita/isi Hikayat. (12) Pemda NAD diharapkan menyediakan dana abadi untuk membayar pemuatan hikayat
Setiap hari di sebuah koran lokal yang pemuatannya serupa “iklan harian” sepanjang tahun. Upaya ini perlu dilakukan untuk membumikan kembali Hikayat Aceh di bumi Aceh sendiri. (13) Berbagai lembaga lain, baik NGO/LSM dan perorangan juga dihimbau menyumbang demikian!!!.
T.A. Sakti, peminat budaya dan sastra Aceh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.