Rabu, 30 Oktober 2013

Berdirinya Kerajaan Samudra Pasee

 
 Sebelum berdiri Kerajaan Islam Samudra/Pase, didaerah itu telah berdiri kerajaan-kerajaan kecil, yang dipimpin oleh raja yang bergelar "Meurah", seperti negeri Jeumpa, Samudra, Tanoh Data, dll. Dalam tahun 433 H . (1042 M.), datanglah kenegeri Tanoh Data (kira-kira sekitar Cotgirik sekarang) Meurah Khair, salah seorang dari keluarga Sulthan Mahmud Peureulak, untuk mengembangkan Islam dan membangun Kerajaan Islam Samudra/Pase dimana beliau diangkat menjadi rajanya yang pertama, dengan gelar Maharaja Mahmud Syah, dan disebut juga Meurah Giri, 433-470 H. (1042- 1078 M).
 
Untuk menyaksikan perkembangan Islam dalam Kerajaan Islam Pase/Samudra, pada tahun 560 H . (1166 M.) datanglah seorang Ulama Besar dari Mekkah, Syekh Abdullah Arif, dan sebagai kenang-kenangan oleh Ulama Besar tersebut diberi gelar Sulthan Al Kamil kepada Maharaja Nurdin atau Meurah Nur. Dalam masa Sulthan Al Kamil ini telah banyak datang tokoh-tokoh pemimpin/ ulama dari Malabar dan Sarkasih. Salah seorang diantaranya telah diangkat menjadi Panglima Angkatan Perang Kerajaan, yaitu Qaidul Mujahidin Maulana Naina bin Naina A l Malabary, wafat Syawal 623 H . (1226-M.), makamnya di Meunasah Ple Geudung, yang terkenal dengan nama "Kubur Teungku Cot Mamplam".

Seorang lagi Ulama yang diangkat menjadi Perdana Menteri oleh Sulthan Alkamil, yaitu Quthbulma'aly Abdurrahman A l Pasy, wafat bulan Zulqa'idah 610 H . (1213 M.), dikebumikan di Geudung dan terkenal dengan nama "Kubur Teungku di Iboh". Seorang lagi ulama besar bernama (Syekh Ja'kub Blang Raya, menjadi pembesar kerajaan, seorang Muballigh dan ahli pikir. Wafat Muharram 630 H . (1233 M.), dimakamkan di Blang Perija Geudung, terkenal dengan "Kubur Teungku Jirat Raya". Pada waktu Pemerintahan Sulthan Malikussaleh, telah datang ke Samudra Pase perutusan dari Syarif Mekkah, yang diketuai oleh Syekh Ismail Al Zarfy, dimana didapatinya Kerajaan Islam telah mempunyai lembaga-lembaga Negara yang teratur dengan Angkatan Perang, Laut dan Darat yang kuat, antara lain didapatinya:

  1.  Lembaga kabinet yang menjadi perdana menterinya Sri Kaya Said Khiatuddin,
  2.   Lembaga Mahkamah Agung, yang menjadi Mufti Besarnya (Syaikhul Islam) Said Ali bin Ali Al Makarany,
  3.  Lembaga Kementerian Luar Negeri yang menjadi menterinya Bawa Kaya Ali Hisamuddin Al Malabary.

Didapatinya juga yang berpengaruh dalam pemerintahan yaitu golongan Ahlussunnah dengan mashab Syafi'i.  Dalam masa pemerintahan Sulthan Muhammad Malikud Dhahir (688-725 H.), digabungkan Kerajaan Islam Peureulak dengan Kerajaan Islam Samudra/Pase. Dan dalam masa pemerintahan Sulthan Ahmad Malikud Dhahir, Kerajaan Beunua (Tamieng) digabungkan pula dengan Kerajaan Samudra Pase. Dalam masa pemerintahan Sulthan Zainul Abidin Malikud Dhahir (750-796 H.) Kerajaan Mojopahit menyerang Pase dibawah pimpinan panglima Patih Nala, dengan bekerja sama dengan kerajaan Siam, dimana dengan tipu daya yang licik utusan Raja Siam menculik Sulthan Zainul Abidin. Karena tidak tahan peperangan gerilya yang dilakukan rakyat/tentera, akhirnya balatentara Majapahit terpaksa meninggalkan Pase, dengan membawa sejumlah tawanan, tawanan mana kemudian menjadi pembawa Islam pertama kepulau Jawa. Daiam Zaman Pemerintahan Ratu Nihrasiyah (801-831 H.), berkembang-suburlah paham Thariqat Wujudiyah (mystic) yang bercabang dari gerakan Syi'ah.
Hal ini tersebab karena Ratu telah mengangkat seorang tokoh terkemuka dari gerakan Thariqat Wujudiyah menjadi Mangkubumi (Perdana Menteri), seorang yang kejam yang telah menyuruh bunuh lebih 40 orang ulama-ulama Ahlussunnah, dengan dalih karena mencegah dia memperisterikan anak-kandungnya sendiri, Puteri Madoong Periya. Mangkubumi pemuka Thariqat Wujudiyah ini kemudian dibunuh oleh Malik Mustafa, suami Ratu Nihrasiyah.

Adapun silsilah dari Raja-raja Samudra Pase, yaitu
  1. Maharaja Mahmud Syah (Meurah Giri), 433-470 H. (1042-1078M.),
  2. Maharaja Mansur Syah, 470-527 H . (1078-1133 M.),
  3.  Maharaja Khiyasyuddin Syah, 527-550 H. (1133-1155 M.),
  4. Maharaja Nurdin Sulthan A l Kamil, 550-607 H . (1155-1210 M.),
  5. Sulthan Malikus Salih, 659-688 H. (1261-1289 M.),
  6. Sulthan Muhammad Malikud Dhahir, 688-725 H . (1289-1326 M.)
  7. Sulthan Ahmad Malikud Dhahir, 725-750 H . (1326-1350 M.),
  8. Sulthan Zainulabidin Malikud Dhahir, 750-796 H. (1350-1394 M.),
  9. Malikah Nihrasiyah Rawangsa Khadiyu, 801-831 H. (1400-1427 M).
Setelah terbunuh Sulthan Zainulabidin Malikud Dhahir, pemerintahan dijalankan oleh Maharaja Nagur Rabath Abdulkadir Syah selama empat tahun (sampai tahun 801 H.), kemudian diapun terbunuh. Menurut Muhammad Said, setelah Nihrasiyah masih ada beberapa orang raja lagi, dan yang terakhir Sulthan Abdullah, meninggal tahun 1513 M.  Dari catatan-catatan sejarah, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa Kerajaan Islam Samudra Pase telah pernah mempunyai tamaddun dan kebudayaan yang tinggi, antara lain dapat dibuktikan dengan :
 
1.    1.Telah mempunyai pemerintahan dan lembaga-lembaga negara yang teratur, perekonomian dan keuangan yang setabil, perdagangan yang maju, lembaga-lembaga ilmu pengetahuan yangberkembang, angkatan perang yang kuat dan hubungan luar negeri yang teratur, mata uang sendiri.
 
2.     2 Tentang kemajuan dan teraturnya Kerajaan Islam Samudra Pase, ibnu Bathuthah yang dua kali singgah di Samudra Pase dalam perjalanan pergi dan pulang dari negeri Cina, melukiskan dalam bukunya betapa tinggi sudah kebudayaan Islam dalam Kerajaan tersebut, dimana beliau menceriterakan tentang rajanya yang alim, bijaksana, berani dan cinta kepada ulama; menterimenterinya yang arif budiman, ulama-ulama yang salih dan jujur, keprotokolan yang sempurna, tatacara dan susunan pemerintahan yang teratur, angkatan perang yang kuat, kemakmuran merata, keadilan menyeluruh, kapal-kapal dagang yang melayari segala penjuru samudra dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.