Jumat, 18 Juli 2014

Ie Bu Peudah, Menu Berbuka dari 44 Jenis Rempah Khas Aceh

Bubur khas Aceh dengan citarasa kaya mengandalkan berbagai rempah.

VIVAlife - Di teras toko itu terpajang beberapa bahan pokok kebutuhan rumah tangga. Sebagian lagi tersusun rapi di dalam toko milik Djailani. Toko ini letaknya di kawasan Blang Cut, Lueng Bata, Banda Aceh.

Setiap bulan Ramadan di toko Djailani menjual bahan-bahan Ie Bu Peudah--penganan berbuka serupa bubur. Pembeli tinggal merebus bahan-bahan dengan tambahan dedaunan dan sayuran untuk mendapatkan bubur pedas.

Bahan Ie Bu Peudah tidak diolah sendiri oleh Djailani. Ia hanya menampung dari adiknya, Khairiah Ibrahim Saad atau kerap disapa Nyak Neh. Di rumahnya yang tak jauh dari toko Djailani, Nyak Neh bercerita tentang kegiatannya meracik bahan Ie Bu Peudah.
 

Dari dalam sebuah ruangan kosong yang bersisian dengan tangga menuju rumah panggungnya, Nyak Neh mengeluarkan beberapa bahan yang lalu dibawanya ke dapur. Sore itu, dapur Nyak Neh agak berantakan. Menjelang Puasa, ia memang berbenah menyiapkan pelbagai pesanan.
 

Apalagi, Ramadan tahun ini ia dapat pesanan dari Jakarta untuk meracik Ie Bu Peudah. Dulu kesibukan ini baru terasa dua hari menjelang Ramadan. Biasanya ia meracik bahan bersama ibunya. Namun setelah ibunya meninggal enam tahun silam, Nyak Neh melanjutkan usaha itu seorang diri.
 

“Sepuluh hari atau seminggu sebelum Puasa, saya sudah mulai mengolah bahan-bahan ini sendirian,” ujarnya sambil beranjak ke ruangan yang bersisian dengan tangga.

Dari sana ia mengeluarkan keranjang rotan. Di dalamnya terdapat daun-daun kering bahan utama ie bu peudah. Sebagian bahan-bahan itu ia peroleh dari beberapa pasar, seperti Pasar Sibreh dan Pasar Lambaro. Nyak Neh bercerita kalau sangat sulit mencari bahan-bahan Ie Bu Peudah saat ini. Terkadang ia meminta bantuan adiknya yang tinggal di Aron-Ketapang untuk mencari bahan  di kebun warga atau di hutan kaki bukit.

“Bahan-bahannya sudah susah saya beli di pasar. Kadang-kadang kalau tidak ketemu, harus cari di kebun atau di hutan,” ujarnya.

Bahan racikan ie bu peudah terbilang asing bagi masyarakat awam. Masakan ini menggunakan 44 bahan berbeda. Namun terkadang, Nyak Neh tidak mampu menemukan semua bahan itu.

Ie bu peudah adalah makanan serupa bubur yang penuh rempah-rempah. Namun ie bu peudah berbeda dengan bubur kebanyakan. Ie Bu Peudah tidak menggunakan potongan ayam ataupun udang seperti bubur kanji. Isinya didominasi rempah-rempah sehingga sangat kaya rasa.
 

Makanan ini jarang ditemui, kecuali saat Puasa. Selain dijual di pasar, warga di setiap Meunasah di Aceh rutin bersama-sama menyantap masakan ini saat berbuka. Sebelumnya, warga secara bersama-sama memasak penganan tersebut.

Bahan meracik masakan itu antara lain kacang hijau, beras, jagung, lada, jahe, kunyit, serai, ketumbar, bawang putih, pala, hingga lamkeuweuh. Bahan-bahan dibersihkan dan ditumbuk halus lalu, disangrai hingga kering.

Hal yang sama juga dilakukan pada bahan pelengkap dedaunan yang memperkaya racikan bubur. Misalnya daun mireuk, daun saga, daun jeruk purut, daun teumurui, daun camplie buta, daun balek baloe, daun lada, daun kunyit, daun serapat, seumalu batee, seurumpung, tahe peuha, dan balek angen.

“Buatnya capek sekali. Bahannya harus dicuci semua, terus dikeringkan. Setelah dikeringkan baru dihaluskan satu per satu,” kata Nyak Neh.

Terkadang, ia membutuhkan waktu sepekan untuk menyiapkan bahan-bahan. Rempah-rempah itu lalu ia haluskan menggunakan Jeungkie, alat tradisional yang sering digunakan untuk menumbuk beras.

Bahan-bahan yang telah halus kemudian diaduk rata dengan beras tumbuk kasar. Campuran itu lalu dimasak kering menyerupai bumbu pecel. Racikan bumbu yang dijual Nyak Neh di toko Djailani mampu bertahan hingga tiga bulan.
 

“Biar bumbunya tetap bagus, simpan di dalam botol kaca, jangan dalam plastik,” ungkap Nyak Neh.

Racikan Ie Bu Peudah ini tentu mempermudah siapa saja yang ingin mencicipinya. Pembeli tinggal merebus air dan mencampur racikan dengan potongan dedaunan, seperti daun melinjo, daun jeruk purut, daun singkong, jagung, ketela, jahe, kunyit, kacang hijau, daun pepaya, potongan pisang, dan kelapa muda. Bahan tersebut dimasak dan diaduk hingga matang.
 

“Biar lebih enak, tambahkan sedikit air kelapa,” ujar Nyak Neh.

Zuriyati Irfan, warga Lueng Bata, pelanggan rutin Ie Bu Peudah Nyak Neh mengaku bubur itu memiliki rasa yang khas. Zury mengkonsumsi Ie Bu Peudah untuk menghangatkan tubuh dan mencegah masuk angin selama berpuasa.

Masakan yang didominasi dedaunan herbal dan rempah ini memang memiliki khasiat tinggi. Selain menjaga stamina tubuh sepanjang Ramadan, asupan karbohidratnya tinggi karena bersumber dari beras, kacang hijau, dan jagung. Seporsi racikan bahan ie bu peudah, kata Zury, cukup untuk digunakan hingga dua minggu Ramadan, tergantung pemakaian.
 

“Racikannya dipakai sedikit aja, nanti baru ditambah banyak sayuran,” ujarnya.

Khasiat itu dibenarkan oleh Nyak Neh. Karena itu, ia tetap bertahan meracik bubur Ie Bu Peudah yang mulai langka itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.