Senin, 20 Oktober 2014

Peninggalan - peninggalan bersejarah di Aceh yang terkenal di Dunia



Atjeh Pusaka - Jejak peradaban Aceh selama berabad-abad silam telah menyimpan begitu banyak tempat-tempat peninggalan sejarah Aceh yang terkenal di dunia. Masyarakat Aceh bisa mengetahui jejak peradaban bangsanya melalui peninggalan-peninggalan sejarah ini. Sejarah telah mencatat bahwa Aceh selama masa penjajahan, baik itu penjajahan Portugis, Belanda dan Jepang serta konflik bersenjata antara GAM dan RI belum sekalipun tercatat Aceh pernah menyerah. Itulah sebabnya kegilaan ini sering disebut oleh Belanda dengan "Acheh Pungo atau Aceh Gila". Diantara sekian banyak tempat peninggalan itu, ada beberapa tempat peninggalan bersejarah Aceh yang paling terkenal di dunia. Berikut adalah beberapa tempat yang dapatkami rangkum di blog ini:

1. Mesjid Raya Baiturrahman

Mesjid Raya Baiturrahman  merupakan salah satu masjid termegah di Asia Tenggara. Masjid ini dahulunya merupakan masjid Kesultanan Aceh. Masjid ini berada di pusat kota Banda Aceh yang bersebelahan dengan pasar tradisional Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Masjid yang menempati area kurang lebih empat hektar ini berarsitektur indah dan unik, memiliki tujuh kubah, empat menara dan satu menara induk. Ruangan dalam berlantai marmer buatan Italia, luasnya mencapai 4.760 m2, dan dapat menampung hingga 9.000 jama‘ah. Di halaman depan masjid terdapat sebuah kolam besar, rerumputan yang tertata rapi dengan tanaman hias dan pohon kelapa yang tumbuh di atasnya.

Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol religius, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), dan merupakan pusat pendidikan ilmu agama di Nusantara. Pada saat itu banyak pelajar dari Nusantara, bahkan dari Arab, Turki, India, dan Parsi yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu agama.

Masjid ini merupakan saksi bisu sejarah Aceh. Masjid ini merupakan markas pertahanan rakyat Aceh ketika berperang dengan Belanda (1873-1904). Pada saat terjadi Perang Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar habis oleh tentara Belanda. Pada saat itu, Mayjen Khohler tewas tertembak di dahi oleh pasukan Aceh di pekarangan Masjid Raya. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun sebuah monumen kecil di depan sebelah kiri Masjid Raya, tepatnya di bawah pohon ketapang. Enam tahun kemudian, untuk meredam kemarahan rakyat Aceh, pihak Belanda melalui Gubernur Jenderal Van Lansnerge membangun kembali Masjid Raya ini dengan peletakan batu pertamanya pada tahun 1879. Hingga saat ini Masjid Raya telah mengalami lima kali renovasi dan perluasan (1879-1993).

Peristiwa sejarah yang terakhir adalah terjadinya bencana tsunami 24 Desember 2004. Ketinggian dan derasnya air tsunami hingga 2 meter yang hampir menggenangi ruangan dalam Masjid Raya, menjadi saksi sejarah bagi kebanyakan orang yang selamat ketika berlindung di Masjid Raya. Setelah air tsunami surut, di dalam Masjid Raya dijadikan tempat meletakkan ribuan jenazah korban tsunami.

Sewaktu Belanda menyerang kota Banda Aceh pada tahun 1873, masjid ini dibakar, kemudian pada tahun 1875 Belanda membangun kembali sebuah masjid sebagai penggantinya.

Mesjid ini berkubah tunggal dan dapat diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883. Selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968).

Masjid ini merupakan salah satu masjid yang terindah di Indonesia yang memiliki bentuk yang manis, ukiran yang menarik, halaman yang luas dan terasa sangat sejuk apabila berada di dalam ruangan masjid tersebut.

2. Gunongan

Taman Sari Gunongan Salah satu bangunan peninggalan budaya yang bernilai sejarah dan masih dapat kita saksikan dalam keadaan utuh adalah Gunongan lengkap dengan taman sarinya. Gunongan ini terletak di pusat kota Banda Aceh tepatnya berada di Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturahman, Kota Banda Aceh Lokasi ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor atau sudako melalui jalan Teuku Umar. Taman Sari Gunongan merupakan salah satu peninggalan kejayaan Kerajaan Aceh, setelah kraton (dalam) tidak terselamatkan karena Belanda menyerbu Aceh.

Taman Sari Gunongan ini terbuka untuk umum, yang dibuka dari jam 7.00-18.00 WIB. Di Pinto Khop, yang berada tidak jauh dari Gunongan, terdapat taman bermain anak-anak sehingga tempat ini ramai dikunjungi terutama pada sore hari atau hari-hari libur. Di Taman Sari ini terdapat pula kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala yang mengelola bangunan, situs bersejarah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra.
Gunongan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah tahun 1607-1636. Pada masa itu, pada tahun 1613 dan tahun 1615 melalui penyerangan dengan kekuatan ekspedisi Aceh 20.000 tentara laut dan darat, Sultan Iskandar Muda berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Utara Malaka. Sebagaimana tradisi pada zaman dahulu, kerajaan yang kalah perang harus menyerahkan glondong pengareng-areng (pampasan perang), upeti dan pajak tahunan. Di samping itu juga harus menyerahkan putri kerajaan untuk diboyong sebagai tanda takluk. Putri boyongan itu biasanya diperistri oleh raja dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan dari kerajaan yang ditaklukkannya, sehingga kerajaan pemenang menjadi semakin besar dan semakin kuat kedudukannya. Penaklukan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semenanjung Melayu berpengaruh besar terhadap diri Iskandar Muda. Putri boyongan dari Pahang yang sangat cantik parasnya dan halus budi bahasanya membuat Sultan Iskandar Muda jatuh cinta dan menjadikannya sebagai permaisuri. Demi cintanya yang sangat besar, Sultan Iskandar Muda bersedia memenuhi permintaan permaisurinya untuk membangun sebuah taman sari yang sangat indah, lengkap dengan Gunongan sebagai tempat untuk menghibur diri agar kerinduan sang permaisuri pada suasana pegunungan di tempat asalnya terpenuhi. Selain sebagai tempat bercengkrama, Gunongan juga digunakan sebagai tempat berganti pakaian permaisuri setelah mandi di sungai yang mengalir di tengah-tengah istana Brakel (1975) melukiskan dalam Bustan, gunongan ini dikenal sebagai gegunungan dari kata Melayu gunung dengan menambahkan akhiran ‘an’ yang melahirkan arti “bangunan seperti gunung” atau “simbol gunung”. Jadi gunongan adalah simbol gunung yang merupakan bagian dari taman-taman istana Kesultanan Aceh.

3. Lonceng Cakra Donya 

Lonceng Cakra Donya merupakan benda bersejarah yang kini merupakan salah satu koleksi Museum Aceh. Menurut sejarahnya lonceng ini diberikan oleh kerajaan China melalui Laksamana Cheng Ho yang merupakan pelayar tangguh, sebagai ikatan persahabatan antara kerajaan China dengan Kerajaan Aceh.

Cakra Donya adalah lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina 1409 M, dengan tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Cakra berarti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, cakrawala atau matahari. Sedangkan Donya berarti dunia. Pada bagian luar Cakra Donya terdapat hiasan dan simbol-simbol berbentuk aksara Cina dan Arab. Aksara Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5). Sedangkan aksara Arab tidak dapat dibaca lagi.
Pada dasarnya Cakra Donya adalah nama sebuah kapal perang Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yaitu Kapal Cakra Donya di mana lonceng ini digantungkan, dalam penyerbuannya terhadap Portugis di Malaka. Pada masa lalu Lonceng dari Kapal Cakra Donya tersebut, digantung dengan rantai jangkar pada pohon kuda-kuda dekat Mesjid Baiturrahnim dalam kompleks kraton untuk dibunyikan apabila penghuni kraton harus berkumpul guna mendengarkan pengumuman Sultan. Akan tetapi, sejak tahun 1915 M Cakra Donya dipindahkan ke Museum Aceh dan ditempatkan dalam kubah tersebut. Rantai Cakra Donya panjangnya 9,63 cm adalah rantai besi yang dahulu pernah dipakai untuk menggantung Lonceng Cakra Donya pada pohon kuda-kuda di depan Mesjid Baiturrahim dalam kompleks Istana Kesultanan Aceh Darussalam sampai tahun 1915. 

4. Kerkoff Peucut 

Kerkoff Peucut adalah kompleks kuburan perwira Belanda yang tewas dalam perang Aceh, jumlahnya mencapai 2000 lebih nisan yang tersimpan di dalamnya. Sejarah dunia mencatat bahwa Kherkoff Peucut adalah kompleks kuburan Belanda terbesar di dunia, belum lagi kuburan-kuburan Belanda lainnya yang tersebar di seluruh Aceh. Kuburan ini melambangkan bagaimana kegigihan orang Aceh dulu dalam mempertahankan harkat dan martabat bangsanya.

ACEH, yang juga dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah, menyimpan cerita tentang perjuangan yang gigih ketika melawan penjajahan Belanda. Dalam pertempuran melawan Belanda sejak 1873 hingga 1942, pejuang Aceh berhasil menewaskan komandan perang Belanda, Jenderal Kohler. Salah satu jejak sejarah itu dapat ditelusuri di Kerkoff Peucut, Banda Aceh. Dalam bahasa Indonesia Kerkoff berarti "kuburan".
Ada rasa bangga bagi belanda jika mayatnya di kuburkan di tanah aceh. bahkan mayat petinggi belanda yang tidak tewas di Aceh pun di akan di usahakan untuk di kuburkan di Aceh. di dekat pintu gerbang, ukiran cantik mulai terlihat oleh mata. Ukiran itu tak lain adalah nama-nama serdadu Belanda yang meninggal pada saat melakukan pertempuran dengan masyarakat Aceh.
Nama-nama serdadu yang meninggal itu terukir dengan rapi pada relief dinding gerbang. Setiap relief memuat 30 nama serdadu, daerah pertempuran dan tahun mereka mengembuskan napas terakhir. Kejadiannya berkisar antara tahun 1873 - 1910. Di antara nama-nama yang terpampang rapi tersebut, ada beberapa prajurit yang berasal dari Jawa, Manado, dan Ambon. Menurut cerita, mereka dulunya tergabung dalam tentara Marsose.
Serdadu Jawa yang berada di bawah pimpinan Belanda biasanya disertai dengan identitas IF (inlander fuselier) di belakang namanya. Tentara Belanda diikuti kode EF ataupun F. Art dan serdadu dari Ambon ditandai dengan AMB dan serdadu dari Manado ditandai dengan MND.
Sedangkan, beberapa wilayah pertempuran itu antara lain: Sigli, Moekim, Tjot Basetoel, Lambari en Teunom, Kandang, Toeanko, Lambesoi, Koewala, Tjot Rang - Pajaoe, Lepong Ara, Oleh Karang - Dango, Samalanga dan sebagainya. Tempat itu untuk mengubur jasad-jasad serdadu Belanda yang tewas seketika pada pertempuran di Aceh maupun orang Belanda lainnya. Bagi serdadu yang meninggal seketika di medan pertempuran akan disertai dengan keterangan Gesneuveld. Sedangkan bagi yang meninggal karena sakit akan disertai dengan keterangan overleden.
Sementara itu, di bagian kiri pintu gerbang tertulis kalimat "in memoriam Generaal - Majoor JHR Kohler, Gesneuveld, 14 April 1873". Kalimat tersebut intinya mengenang Jenderal Kohler yang meninggal seketika dalam pertempuran di Aceh pada 14 April 1873.

Catatan Sejarah
Menurut catatan sejarah, pada 1873, serdadu Belanda masuk ke Aceh untuk menguasai daerah tersebut. Namun, upaya Belanda untuk menguasai wilayah Aceh tidak dapat segera terlaksana. Mereka mendapat perlawanan sengit dari pejuang Aceh yang gagah berani. Bahkan, Jenderal Kohler yang memimpin penyerangan tersebut harus kehilangan nyawanya pada tahun 1873 itu juga. Dia terkena tembakan tepat di dahinya di depan Masjid Raya Baiturrahman pada 14 April 1873.
Usaha menguasai Aceh tersebut tetap tidak dapat berjalan mulus hingga pada tahun 1942. Belanda hanya dapat menguasai daerah perkotaan. Sedangkan, di daerah-daerah pedesaan, Belanda dapat dikatakan mengalami kekalahan.
Akibat penjajahan yang dilakukan selama 59 tahun itu, ribuan serdadu Belanda tewas. Serdadu yang terdiri dari orang Belanda sendiri dan pasukan antigerilya atau Marsose yang serdadunya berasal dari orang Jawa, Ambon dan Manado tewas di ujung senjata khas Aceh, yaitu Rencong dan bedil. Pada mulanya, mereka yang tewas di daerah-daerah pertempuran seperti Sigli, Samalanga, Meulaboh, Bakongan, Idi, Paya Bakong langsung dimakamkan di derah itu pula. Namun, karena banyaknya graven atau kompleks kuburan yang berceceran di Aceh, maka dilakukan upaya untuk mengumpulkan jasad para inlander tersebut menjadi satu.
Kerkoff yang sebelumnya merupakan kawasan ilalang dan kemudian menjadi kandang kuda disulap menjadi kompleks kuburan oleh Belanda. Saat ini, di sana dikuburkan 2.200 serdadu Belanda dari yang berpangkat Jenderal sampai berpangkat rendah.
Jasad-jasad tersebut dikumpulkan dari daerah-daerah. Misalnya di dinding gapura disebutkan serdadu Belanda yang tewas di Idi. Walaupun di dinding dicantumkan nama serdadu Marsose yang berasal dari orang Jawa atau Ambon seperti nama Paijo (ditambah nama-nama orang Jawa dan Ambon), namun mereka tidak dikuburkan di Kerkoff, tetapi mereka dikuburkan di Taman Makam Pahlawan sekitar 500 meter dari Kerkoff.

5. Benteng Indra Patra 

Benteng Indra Patra adalah benteng peninggalan kerajaan Hindu pertama di Aceh yang digunakan sebagai tempat peribadatan dan benteng pertahanan dari gempuran musuh. Kemudian benteng ini direbut oleh Kerajaan Islam Aceh dan dijadikan sebagai benteng pertahanan. Benteng ini di pimpin oleh seorang laksamana perang perempuan Aceh yang sangat terkenal yaitu Laksamana Malahayati.

Benteng indra patra terletak di kecamatan krueng raya aceh besar. benteng ini dibangun oleh kerajaan hindu sebelum masuknya islam di aceh. Pada masa pemerintahan kerajaan Aceh benteng ini digunakan sebagai benteng pertahanan melawan armada portugis.

Jika dilihat dari posisi geografis benteng ini berada di teluk krueng raya dan berhadapan dengan Benteng Inong Balee yang berada pada kawasan perbukitan diseberangnya. Sangat dimungkinkan bahwa benteng ini berperan dalam menghadang armada portugis yang ingin memasuki aceh melalui teluk krueng raya. Pada kawasan pantai teluk dimuara sungai krueng raya juga terdapat sebuah benteng lain yang bernama Benteng Iskandar Muda. Keberadaan 3 buah benteng yang membentuk rangkaian segitiga ini menjadi pelindung Teluk Krueng Raya dari armada asing yang ingin memasuki wilayah Kerajaan Aceh pada waktu itu. 

Dalam kawasan benteng Indra Patra terdapat 4 buah benteng namun hanya 2 buah saja yang masih bagus, 2 buah lainnya hanya berupa reruntuhan saja.
Benteng utama berukuran 70x70 meter dan tinggi sekitar 4 meter yang terbuat dari susunan batu gunung setebal kira kira 2 meter. Perekat dinding benteng diperkirakan berupa campuran kapur, tanah liat, dan tumbukan kulit kerang. Disebelah dalam benteng utama terdapat 2 buah sumur yang dinaungi oleh bangunan berbentuk kubah.

6. Rumoh Aceh 

Rumoh Aceh adalah rumah adat Aceh yang difungsikan sekarang sebagai museum yang menyimpan ribuan peninggalan sejarah Aceh mulai dari peninggalan sejarah pra modern hingga peninggalan sejarah masa penjajahan selain itu di rumoh Aceh ini juga disimpan berbagai macam kebudayaan Aceh yang berupa kerajinan tangan dan budaya Aceh lainnya.

Rumoh Aceh telah menjadi topik pembahasan di kalangan para arsitek dan juga tim rekontruksi pembangunan pasca Tsunami 26 Desember 2004 silam. Pasca gempa dan stunami di Aceh pernah dipaparkan tentang rumah tahan gempa. Dan mereka mengatakan bahwa struktur bangunan rumah tahan gempa adalah rumah adat Aceh (rumoh Aceh). Kearifan lokal dari nenek moyang kita sudah merancang bangunan yang peduli pada kondisi alam sekitarnya dengan membuat rumah yang tahan gempa.
Meski di tiap kabupaten/kota detilnya berbeda, rumoh Aceh secara umum memiliki komponen utama yang sama. Komponen utama rumoh Aceh ini diungkap dalam buku Budaya Masyarakat Aceh. Komponen itu adalah:
  • Seuramou-keu (serambi depan) , yakni ruangan yang berfungsi untuk menerima tamu laki-laki, dan terletak di bagian depan rumah. Ruangan ini juga sekaligus menjadi tempat tidur dan tempat makan tamu laki-laki.
  • Seuramou-likoot (serambi belakang), fungsi utama ruangan ini adalah untuk menerima tamu perempuan. Letaknya di bagian belakang rumah. Seperti serambi depan, serambi ini juga bisa sekaligus menjadi tempat tidur dan ruang makan tamu perempuan.
  • Rumoh-Inong (rumah induk), letak ruangan ini di antara serambi depan dan serambi belakang. Posisinya lebih tinggi dibanding kedua serambi tersebut. Rumah induk ini terbagi menjadi dua kamar. Keduanya dipisahkan gang atau disebut juga rambat yang menghubungkan serambi depan dan serambi belakang.
  • Rumoh-dapu (dapur), biasanya letak dapur berdekatan atau tersambung dengan serambi belakang. Lantai dapur sedikit lebih rendah dibanding lantai serambi belakang.
  • Seulasa (teras), teras rumah terletak di bagian paling depan. Teras menempel dengan serambi depan.
  • Kroong-padee (lumbung padi), berada terpisah dari bangunan utama, tapi masih berada di pekarangan rumah. Letaknya bisa di belakang, samping, atau bahkan di depan rumah.
  • Keupaleh (gerbang), sebenarnya ini tidak termasuk ciri umum karena yang menggunakan gerbang pada umumnya rumah orang kaya atau tokoh masyarakat. Gerbang itu terbuat dari kayu dan di atasnya dipayungi bilik.
  • Tameeh (tiang), kekuatan tiang merupakan tumpuan utama rumah tradisional ini. Tiang berbentuk kayu bulat dengan diameter 20-35 cm setinggi 150-170 cm itu bisa berjumlah 16, 20, 24, atau 28 batang. Keberadaan tiang-tiang ini memudahkan proses pemindahan rumah tanpa harus membongkarnya.
Di masa lalu, atap rumoh Aceh terbuat dari rumbia. Jika terjadi kebakaran, atap rumbia itu bisa diturunkan hanya dengan memotong salah satu tali pengikat yang terbuat dari rotan atau ijuk. Dulu, di depan tangga menuju rumah, biasanya terdepat guci. Benda ini berfungsi untuk menyimpan air untuk cuci kaki setiap hendak masuk ke rumah.
Salah satu bagian yang juga penting pada rumoh Aceh adalah tangga. Biasanya, tangga rumah terletak di bawah rumah. 
Setiap orang harus menyundul pintu dengan kepala supaya terbuka dan bisa masuk.
Jumlah anak tangganya, selalu ganjil. Satu lagi yang khas dari rumoh Aceh adalah bangunan tersebut dibuat tanpa paku. Untuk mengaitkan balok kayu yang satu dengan yang lain cukup digunakan pasak atau tali pengikat dari rotan atau ijuk. Sebagian masyarakat Aceh, kadang juga menjadikan pekarangannya sebagai tempat pemakaman.

7.Pesawat Seulawah Agam

Pesawat Seulawah Agam ini merupakan pemberian atau sumbangan orang Aceh kepada Republik Indonesia setelah Aceh bergabung dengan Indonesia. Pesawat ini digunakan oleh RI sebagai sarana untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia. Sumbangan orang Aceh ini sekarang menjadi monumen di Blang Padang Banda Aceh untuk menjadi saksi pengorbanan masyarakat Aceh untuk Indonesia, meskipun akhirnya Indonesia melupakan segalanya untuk ambisi yang sia-sia.

8.Monumen Kerajaan Islam Peureulak 

Monumen Kerajaan Islam Peureulak ini terletak Desa Paya Meuligau, kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur. Kawasan ini dahulu tempat Kerajaan Islam Peureulak berada, monumen ini dibangun sebagai simbol tempat Kerajaan Islam Peureulak sebagai Kerajaan Islam yang pertama di Asia Tenggara yang didirikan pada tahun 840-864 M dengan raja pertama Sultan Alaidin Sayed Maulana Abdul Aziz Syah. Di lokasi ini juga terdapat makam Beliau dan isterinya. 

9. Makam Sultan Iskandar Muda 

Makam Sultan Iskandar Muda terletak di kota Banda Aceh. Beliau merupakan tokoh penting dalam sejarah kesultanan Aceh. Kerajaan Aceh pernah mengalami masa kejayaan, kala Sultan memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam di masa abad ke 17 yaitu pada tahun 1607-1636. Pada masa pemerintahan Beliau, kerajaan Islam Aceh menduduki peringkat kelima kerajaan Islam terbesar di dunia.

(di kutip dari berbagai sumber)



3 komentar:

  1. Luar biasa indahnya kapan ya bisa ke sana

    BalasHapus
  2. Temukan berbagai macam informasi wisata yang ada di Indonesia beserta makna/arti/cerita tentang wisata tersebut yang ada di indonesia
    Dan juga artikel-artikel tentang wisata di wisataIndonesiaraya.com dan like page facebook wisataIndonesiaraya.com

    BalasHapus
  3. pengen terulang kembali masa masa kerajaan di aceh

    BalasHapus

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.