Sabtu, 21 Maret 2015

Wali Kota Lhokseumawe membekukan Lhokseumawe Development Committee (LSW-Dec).

LHOKSEUMAWE - Bagai efek domino, satu per satu bupati/wali kota di Aceh membekukan keberadaan lembaga swadaya masyarakat (LSM) Development Committte (Dec) di wilayahnya. Bila Senin (16/3) lalu Bupati Bireuen membekukan Bireuen Development Committee (Bi-Dec), Rabu (18/3) kemarin giliran Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, membekukan Lhokseumawe Development Committee (LSW-Dec).
Sementara itu, Kantor AU-Dec di Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, ditembak, Minggu malam lalu ditembak dua pelaku bersenjata api, sedangkan di Pidie Jaya DPRK-nya mendesak agar pemerintah setempat segera membekukan (Pija-Dec) karena dianggap meresahkan masyarakat setempat.
Menurut Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, pada Rabu kemarin pihaknya sudah mengambil kesimpulan untuk menghentikan permanen dan menarik kembali surat keterangan terdaftar (SKT) atas nama LSW-Dec.
“Menghentikan LSW-Dec secara permanen merupakan hasil kesepakatan Muspida Lhokseumawe dalam rapat yang digelar beberapa hari lalu,” ujarnya via telepon kepada Serambi kemarin. Pembekuan LSW-Dec, kata Suaidi, didasarkan atas berbagai pertimbangan, terutama efek dari kehadiran mereka yang mulai meresahkan masyarakat kota petrodolar itu.
“Pastinya LSM tersebut akan dibekukan secara permanen di Lhokseumawe. SK-nya masih dalam proses pembuatan di Kesbangpol dan Linmas. Kalau sudah siap nantu akan langsung saya tandatangani, selanjutnya kita kirim ke sejumlah pihak terkait, termasuk nantinya kepada seluruh keuchik yang ada di Kota Lhokseumawe,” tegasnya.
Wali Kota meambahkan, ke depan, LSM ataupun yayasan asing yang ingin beroperasi di Lhokseumawe, lebih dulu harus mengantongi rekemondasi Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), baru bisa dikeluarkan SKT-nya. “Hal ini dilakukan agar kita bisa mengetahui secara pasti asal-usul dan tujuan mereka,” pungkas Suaidi Yahya. (Serambi Indonesia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.