Sabtu, 21 November 2015

khazanah Atjeh di Malaysia

Kuala Lumpur - Atjeh pusaka
KHAZANAH adalah berupa harta benda yang dipunyai, barang yang pernah digunakan dan peninggalan masa lalu yang dipakai oleh manusia. Peninggalan Aceh di Tanah Melayu sudah wujud sejak kerajaan Islam Pasai abad ke-13 untuk mengembangkan Islam dan ketika penaklukan orang Aceh menyerang Portugis di Melaka 1537 dan beberapa kali penaklukan sampai 1629, di mana Aceh telah menguasai hampir seluruh Malaysia yang meninggalkan nama Aceh, banyak khazanah Aceh masa lalu yang masyhur dan dikagumi. Penghijrahan orang Aceh terjadi lagi pada abad ke-18 ketika perang dengan Belanda. Kedatangan seterusnya sebagai pendakwah, perantau yang menetap di berbagai daerah di Malaysia dan meninggalkan monumen sejarah yang tersohor dan peradaban yang unik.
Masyarakat Aceh berhijrah ke Malaysia dulu banyak tinggal di kampung Aceh di Kedah. Orang Aceh di Kedah bertani dan berniaga sehingga terbentuk kampung Aceh di Yan Kedah. Kampung Aceh di Yan yang paling masyhur dan terkenal di antara kampung Aceh yang lain di Malaysia. Di sini menetap banyak ulama dari Aceh yang membuka pendidikan dayah. Di kampung Aceh Yan terdapat khazanah orang Aceh berupa bangunan meunasah Aceh, bekas dayah, kuburan ulama Aceh, rumah Aceh, adat dan budaya sebagai bukti eksistensi orang Aceh. Di Kampung Yan terdapat pula jalan Teungku Chik di Lam U, nama ulama Aceh. Mereka di kampung Aceh, menggunakan bahasa Aceh, beradat Aceh dan mereka bangga dengan keturunan Aceh.
Khazanah Aceh terdapat juga di Perak yaitu kampung Aceh yang terletak di Setiawan Perak. Kampung Aceh di Perak termasuk dalam zona industri yang kini berkembang pesat sebagai tempat menanam modal. Kampung Aceh ini sangat strategis karena berdekatan dengan pelabuhan Lumut Perak. Dalam zona industri kampung Aceh terdapat banyak bidang usaha yang cukup berkembang. Dalam bidang perhiasan di Perak terdapat khazanah Aceh yang terkenal yaitu kalung Aceh, peninggalan Aceh yang dulu pengrajin emas berasal dari Aceh dan pakaian tradisional Aceh masih dipakai oleh para penari wanita di Perak. Di Perak terdapat kampung yang penduduknya mengaku orang Aceh dan berbahasa Aceh, diperkirakan orang yang tertinggal masa Aceh menyerang Perak dulu.
Masjid Lebuh Aceh
Khazanah Aceh yang terkenal di Pulau Pinang dan dikagumi adalah jalan Lebuh Aceh dan Masjid Lebuh Aceh sebagai masjid tertua, klasik, menarik dan sangat terkenal di Pulau Pinang. Masjid Lebuh Aceh dibangun pada 1808 oleh saudagar kaya, Tgk Said Husein Aidid, orang Aceh keturunan Yaman yang datang ke Pinang pada 1792, ketika Pulau Pinang dibuka oleh Kapten Francis Light abad ke-18. Orang Aceh di Pulau Pinang banyak yang menjadi saudagar sukses, membangun masjid dan membentuk komunitas masyarakat Aceh yang mendiami jalan Lebuh Aceh dan sekitarnya. Pada 1883 terdapat 347 orang Aceh di sini, yang umumnya menjadi saudagar sukses, berperan penting dan cukup berjasa dalam membangun ekonomi di Pulau Pinang ketika itu.
Said Husein yang membangun Masjid Lebuh Aceh yang mewah dan megah, menjadi khazanah Aceh. Ia taat beragama, membuka pusat pengajian Islam, membangun kantor perdagangan dan membina rumah toko dengan arsitektur tradisional yang berderetan di jalan Lebuh Aceh. Ia meninggal pada 1840 dan dimakamkan di belakang masjid. Masjid yang kini menjadi objek wisata, monumen sejarah, sarat dengan arsitektur moor, Cina dan pengaruk klasik sebagai peninggalan khazanah Aceh yang menarik dan unik. Rumah Said Husein pernah dijadikan muzium Islam Pulau Pinang dan disebut sebagai rumah Aceh. Jalan Lebuh Aceh merupakan daerah istimewa, strategis terletak pusat kota George Town dan di sekitarnya merupakan tanah wakaf masyarakat Islam peninggalan keturunan masyarakat Aceh.
Menurut Abdullah Hussain sastrawan negara, yang menulis tentang orang-orang Aceh di Malaysia menyatakan, Masjid Aceh lain di Pulau Pinang dibangun pedagang kaya Aceh Nyak Hitam di jalan Datok Kramat, dikenal dengan nama Masjid Aceh Kebun Lama sebagai khazanah orang Aceh. Jalan Datok Keramat, nama pedagang dari Aceh Haji Keramat yang berhasil dan kaya. Di sini lahir P Ramlee, seniman agung Malaysia keturunan Aceh. Padagang Aceh yang juga kaya adalah Haji Bayan sehingga namanya diabadikan nama kampung Bayan Lepas untuk mengenang jasanya dan banyak peninggalan hartanya di kampung ini. Haji Mohd Salleh, orang kaya Aceh yang mendirikan masjid di jalan Abu Siti Lane yang dikenal dengan Masjid Tarik Air Wakaf Haji Mohd Salleh Al-Achee.
Menurut Abdullah Hussain, di Pulau Pinang terdapat khazanah Aceh seperti jalan Nyak Abu nama padagang Aceh dulu dan ada kampung Nyak Puteh nama orang Aceh kaya, memiliki toko, puluhan truk yang membekalkan pasir kepada pemerintah. Khazanah Aceh lain di Pulau Pinang yaitu kampung Sungai Aceh, terletak di daerah Nibong Tebal. Sungai Aceh merupakan kawasan yang luas sama dengan satu Kecamatan kalau di Aceh. Daerah Sungai Aceh diwakili oleh seorang wakil rakyat (DPRD II), terdapat fasilitas lain sebagai daerah wakil rakyat. Di Pulau Pinang terdapat pantai Aceh, yang saat ini menjadi tempat melihat anak bulan (hilal) ketika menentukan awal Ramadhan dan terdapat pula komunitas masyarakat Aceh di sini.
Di Pulau Langkawi terdapat juga khazanah Aceh, menurut dua orang wartawan Berita Harian Malaysia yang menyelidiki mesteri etnik Aceh di Malaysia menceritakan bahwa, orang Aceh dulu mendarat di Langkawi pergi ke kedai untuk membeli nasi. Ketika sampai di kedai nasi sudah habis, lalu berkata langkah wie, mereka sial tidak mendapat nasi kerena menggunakan kaki kiri yaitu langkah wie. Konon nama Pulau Langkawi berasal dari kata langkah wie. Di pulau ini ada gunung yang oleh orang Aceh disebut Gunung Raya, di sini ada bukit dengan nama bukit Nyak Hitam, nama orang Aceh.
Bukit Tekoh
Menurut Abdullah Hussain lagi, orang Aceh di Langkawi menetap di daerah banyak bambu, orang Aceh beri nama kampung Trieng. Orang Melayu tidak bisa menyebut trieng, mereka menyebut Teriang, maka sampai sekarang menjadi kampung Teriang. Orang Aceh yang mengorek (kuh) bukit untuk mudah dilalui, diberi mana Buket Teukuh. Orang Melayu tidak bisa menyebut buket teukueh, mereka menyebut bukit tekoh, maka sampai sekarang menjadi Bukit Tekoh, tempat orang Aceh dulu menanam lada disebut Bukit Aceh dan Kebun Lada.
Di Negeri Johor terdapat khazanah kampung Aceh yaitu Kampung Perigi Aceh yang terletak di daerah Pasir Gudang dan dikelilingi oleh kawasan industri Tanjung Langsat Johor. Menurut sejarah, kampung perigi Aceh bekas peninggalan pendaratan tentara Aceh, tempat berkumpul, mengatur strategi dan kesiagaan tentara Aceh sebelum menyerang kota Johor Lama beberapa ratus tahun dulu. Tentara Aceh mungkin menggali perigi atau sumur untuk keperluan mereka, maka disebut Kampung Perigi Aceh.
Khazanah Aceh yang terkenal di Malaysia adalah batu nisan Aceh yang diukir oleh orang Aceh sejak abad ke-14 sampai 19 dan tersebar di seluruh Nusantara. Batu nisan Aceh digunakan pada makam raja-raja Melayu ketika itu. Batu nisan Aceh memiliki seni ukir yang cantik, menarik dan bernilai tinggi. Di komplek makam Tun Habab dan komplek makam Sultan Mahmud di Kampung Makam Kota Tinggi Johor terdapat 16 batu nisan Aceh dan komplek makan ini menjadi tempat menarik sebagai objek wisata. Menurut data Mesium dan Antikuti Kuala Lumpur, terdapat 301 buah batu nisan Aceh di seluruh Malaysia. Batu nisan Aceh yang terbanyak di Johor 211 buah, yang lain terdapat di berbagai negeri yang terkenal sebagai batu nisan khazanah Aceh.
Di Malaysia terdapat banyak khazanah Aceh seperti kitab-kitab yang ditulis oleh ulama silam yang perlu kajian dan telah lahir tokoh keturunan Aceh yang berprestasi dalam pemerintahan Malaysia seperti pernah menjadi menteri, kepala polisi negara, sebagai gubernur, anggota parlemen, sastrawan negara, seniman agung, pelukis tersohor, tokoh budaya dan orang penting. Orang Aceh di perantauan gigih dan rajin bekerja, menjadi perantau yang hebat, unggul, sukses, memberi bekas, meninggalkan kesan yang unik, lahir tokoh Aceh yang mengharumkan nama Aceh dalam catatan lipatan sejarah sebagai mercu dan simbol kegemilangannya. Semua orang Aceh mampu mengangkat mertabat Aceh yang terus maju jaya, berkembang dan berhasil di tingkat lokal dan global. Semoga!
* Dr. Razali Muhammad Ali, MA., alumnus S3 Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya.

Yang Tersisa Dari 10 tahun Peringatan MoU Antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia di Helsinki

Mantan Panglima GAM Linge, Marzuki AR atau yang akrab disapa Wien Rimba Raya . Foto/SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN M NUR

Atjeh Pusaka 
Mantan Panglima GAM Linge, Marzuki AR atau yang akrab disapa Wien Rimba Rayamengatakan peringatan 10 tahun perjanjian MoU Helsinki tahun ini hanya sebatas kegiatan seremonial yang sia-sia.

Karena tidak ada upaya untuk menegaskan penyelesaian poin dari UUPA setelah sepuluh tahun, seharusnya dihadapan wakil presiden Yusuf Kalla dan tamu undangan asing, Gubernur Aceh mempertegas dan memberi target untuk menyelesaikan semua isi UUPA.
“Sebagai mantan kombatan GAM, saya kecewa melihat peringatan Mou Helsinki kali ini yang hanya seromonial dan nostalgia para tokoh perdamaian, sehingga hanya menghabiskan uang rakyat”, ujar Win Rimbaraya.
Ia melihat di usia 10 tahun perdamaian, Aceh kehilangan moment bahkan hilang “ceudah” dan “beuhe”. Artinya, tidak ada lagi kecerdasan dalam merealisasikan UUPA dan berani bersuara lantang memperjuangkan UUPA.
Win juga mengaku kecewa, karena dalam acara seremonial dalam 3 hari itu, tidak ada tokoh dari kombatan GAM yang ditunjuk sebagai pembicara atau keynote spiker.
Padahal kombatan GAM merupakan ujung tombak terwujudnya perdamaian di Aceh. Karena semuanya bersedia turun gunung demi damai Aceh.

Mantan menteri pertahanan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Zakaria Saman berbincang dengan mantan ketua Aceh Monitoring Mission (AMM) Pieter Feith pada gala dinner jelang konferensi Internasional Peringatan 10 Tahun Perjanjian MoU Helsink/ SERAMBI/M ANSHAR

Setelah 10 menit perbincangan, Serambi pun mendekati Apa Karya, menanyakan apa yang dibicarakan dengan Pieter Feith. Apa Karya mengaku, ia bicara singkat dengan Pieter Feith, hanya sekadar mengenang sejarah yang tak bisa dilupakan, yakni saat dirinya dijumpai Pieter Feith di sebuah hutan di Aceh.
“Waktu itu, keputusan Helsinki, GAM, dan Jakarta, tidak boleh teken dulu kalau belum berjumpa dengan pasukan yang masih berada di gunung atau di dalam hutan. Jadi, Pieter Feith waktu itu pergi dengan helikopter mencari saya atas arahan Wali Nanggroe. Jadi jumpalah kami di gunung dan sempat bicara selama tiga jam. Pulang Pieter Feith dari situlah baru diteken,” kata Apa Karya seraya menambahkan sudah sekitar empat tahun mereka tidak berjumpa.
Perintah untuk menjumpai dirinya saat itu dilakukan Pieter Fieth sebagai arahan sebelum penandatanganan MoU Helsinki. Pertemuan itu, kata Apa Karya dimaksudkan untuk meminta persetujuan dari pasukan GAM yang masih berjuang di gunung. “Karena jika tidak dilakuakn begitu akan sangat bahaya, di sana diteken, pasukan tidak terima. Saya ingat sekali Piter Feith datang denga Helikopter bersama rombongan dan mencari-cari tanda yang sudah kami beri untuk mendarat, saya bicara dengannya pakai bahasa Sweden saat itu,” kata Apa Karya mengenang.
Perjumpaan itu, sebut Apa Karya, sebagai keputusan terakhir sebelum kesepakatan damai ditanda tangani di Helsinki, Finlandia. Setelah Pieter Feith bicara selama tiga jam dengan dirinya, Piter Feith bersama rombongan langsung kembali ke Helsinki untuk melanjutkan perundingan.

Pasukan Bang Din Minimi di dalam hutan Aceh Timur
Eks GAM Aceh Timur Tuntut Janji “Angin Surga” Dalam MoU Helsinki Kepada Pemerintah Aceh
Konflik di Aceh telah lama berakhir, penandatanganan MoU RI-GAM telah membuahkan sebuah solusi yakni Perdamaian.
Dalam hal ini pemerintah Indonesia menyepakati beberapa tuntutan GAM diantaranya yakni dukungan pemerintah indonesia dalam segi pemberdayaan ekonomi bagi para Mantan TNA maupun Tapol,/Napol GAM.
Hal tersebut tertuang dalam isi MoU,dimana pemerintah indonesia berjanji akan mendukung pelaksanaan Reintegrasi mantan TNA dan Tapol- napol GAM ke tengah masyarakat dengan berbagai dukungan dukungan dana bantuan usaha dan penyediaan rumah, lahan pertanian maupun pembukaan peluang pekerjaan.
Namun janji dalam MoU tersebut di nilai oleh para mantan combatan dan tapol-napol GAM hanyalah sebuah angin surga pemerintah dan jika janji tersebut memang ada direalisasi hanya sebatas para pimpinan GAM.
Seperti di ungkapkan oleh Musliadi alias krengkeng mantan combatan GAM Wilayah Peudawa Idi, Dirinya merasa kecewa terhadap realisasi isi MoU Helsinki yang juga janji pemerintah RI akan memberi lapangan kerja untuk para mantan TNA juga Tapol GAM.
Namun hingga telah 10 tahun perdamaian di Aceh berlalu dirinya dan rekan-rekan eks TNA lainnya tidak memiliki pekerjaan apapun meski telah beberapa kali berupaya meminta pekerjaan pada pimpinan pemerintahan aceh yang saat ini dipimpin oleh para pimpinan GAM yang juga juru runding dalam Penandatangan MoU Helsinki.
Menurut musliadi yang juga mantan napol GAM yang ditahan atas kasus Bom Plaza Medan Mall di sumut, kehidupan dirinya bersama rekan-rekannya tidak berbeda jauh ketika konflik,namun sayangnya hanya sebahagian kecil mantan combatan yang hidup berkecukupan pasca perdamaian.
“ Usia perdamaian sudah 10 tahun tapi kami mantan TNA,jangankan mau diberi rumah ataupun lahan pertanian, peluang lapangan pekerjaan pun tidak diberikan oleh pemerintah,apa arti perdamaian jika toh semua janji pemerintah tidak pernah di realisasi Cuma “Angin Surga”, ujar musliadi kepada wartawan Senin (17/11).
Ketika ditanya mengenai munculnya kelompok eks combatan TNA bersenjata seperti Din minimi yang berlatar belakang menuntut keadilan dalam perdamaian kepada Pemerintahan Aceh yang juga pimpinan GAM.
Musliadi menyatakan dirinya sangat setuju dengan aksi yang dilakukan oleh kelompok tersebut yang juga adalah mantan TNA GAM ketika Aceh masih konflik.
“Meunyoe Pemerintahan Aceh ato pimpinan GAM hana geupakoe mantan teuntra dilapangan maka akan le timoh kelompok laen lom yang beut senjata lake keadilan dalam perdamaian di Aceh”.
(Kalau Pemerintahan Aceh atau Pimpinan GAM tidak memperhatikan nasib mantan Teuntara GAM dilapangan maka akan banyak tumbuh kelompok lain lagi yang angkat senjata tuntut keadilan dalam perdamaian di Aceh), ungkap Musliadi yang telah memiliki 3 orang anak .