Rabu, 22 Oktober 2014

Perang Cumbok Tragedi Perang Saudara dalam Sejarah Aceh



Atjeh Pusaka - Perang Cumbok dalam catatan Sejarah Aceh adalah perang yang terjadi pada tahun 1946 hingga 1947 dan berpusat di Pidie, timbul karena adanya kesalahan peran dan tafsir dari kaum ulama dan Uleebalang (kaum bangsawan) terhadap proklamasi Indonesia, 17 Agustus 1945. Bagi kaum ulama, proklamasi ini berarti telah berakhirnya kezaliman yang sudah lama dialami bangsa Indonesia, khususnya Aceh dari penjajahan Belanda dan Jepang. 


Sementara, sebagian pihak lain dari kaum bangsawan melihat larinya Jepang harus diganti dengan Belanda sebagai upaya untuk memulihkan kekuasaan tradisional mereka yang sebagian besar telah diminimalkan Jepang dan besar ketika Belanda berkuasa. Namun yang perlu diperhatikan dari peristiwa ini adalah lekatnya pengaruh intelijen Belanda dalam memporak-porandakan bangsa Aceh. Ulama dan Uleebalang merupakan satu kekuatan politik di Aceh, mereka sama-sama bergerak dalam memperjuangkan Aceh dari penjajahan. Belanda berniat menghancurkan Aceh dengan mengacaukan pola pikir kedua pimpinan politik ini.


Tragedi Perang Saudara Dalam Catatan Sejarah Aceh  ini di mulai ketika Ulama Aceh dipimpin Teungku Daud Beureueh dengan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), melihat proklamasi sebagai yang harus dimaknai secara nyata di Aceh. PUSA didirikan atas musyawarah ulama untuk mempersatukan pola pikir para ulama, dalam perkembangannya PUSA menjadi motor yang menggerakkan berbagai konflik dalam sejarah Aceh, termasuk dalam peristiwa Perang Cumbok. Sebagian warga Aceh pro Ulee Balang memplesetkan PUSA sebagai pembunuh Uleebalang Seluruh Aceh. Tidak semua Uleebalang ingin Belanda kembali dan berkuasa. 

Proklamasi hanya menjadi momentum puncak untuk terjadinya konflik antara ulama dan Uleebalang di sekitar Pidie. Akhirnya, Uleebalang dipimpin Teuku Keumangan dengan Panglimanya T. Daud Cumbok dan perlawanan rakyat dipimpin Daud Beureueh dengan panglimanya Husin AL-Mujahid. Dalam perlawanan, pasukan Cumbok bahkan telah menguasai kota Sigli, Pidie.


Namun penguasaan itu tidak berlangsung lama karena adanya mobilitas perlawanan rakyat yang dilakukan ulama mengakibatkan pasukan Cumbok terpaksa kembali ke markas di Lamlo atau kota Bakti. Sesampai di Lamlo, pasukan Cumbok digempur pasukan rakyat dan pemberontakan ini akhirnya dapat ditumpas pada Januari 1946. Teuku Daud Cumbok ditangkap dan dihukum mati, sementara harta peninggalan para Uleebalang dikuasai kaum Ulama. 

Perlu untuk diketahui bahwa tidak seluruh kaum Ulee Balang bersikap sama dengan kaum Ulee Balang yang di Pidie ini, banyak kaum-kaum Ulee Balang lainnya di Aceh berasal dari kaum ulama dan intelektual di Aceh. Meskipun mereka bekerja dengan Belanda, namun hati dan jiwa mereka tetap untuk rakyat Aceh di mana mereka bertugas.  Untuk memahami perang Cumbok ini lebih dalam kita harus bisa memahami teori konspirasi
Perang Cumbok ini terlebih dahulu atau mempelajari sejarah Aceh semaksimal mungkin. (Sumber: Aceh Sepanjang Abad)

Selasa, 21 Oktober 2014

Seni Murni dan Seni Rupa Terapan Aceh


Seni Murni  :
Tari Saman 

 Telah tumbuh dan berkembang di daerah Aceh Tengah khususnya dalam masyarakat Gayo.


Tari Seudati

Ija Songket/ kain songket
Kain tenun Kain tenun Songket (berfungsi sebagai pakaian adat)

Ija Songket/ kain songket kini hanya digunakan pada upacara-upacara tertentu, meskipun demikian, semangat untuk melestarikan Kain songket tetap diupayakan agar Kain songket tak menghilang begitu saja ditelan perubahan jaman.
Salah satunya adalah upaya untuk membuat Kain songket lebih nyaman digunakan dengan mengembangkan material yang digunakan untuk membuat Kain songket. Dari benang katun kasar, mulai diganti ke serat yang lebih halus sehingga makin nyaman untuk digunakan.

Pakaian Adat Aceh
Pakaian adat Aceh dilengkapi dengan beberapa macam pernik  yang biasa selalu dikenakan pada acara-acara tertentu. Pernik-pernik tersebut antara lain :

Keureusang



Keureusang adalah perhiasan yang memiliki ukuran panjang 10 Cm dan lebar 7,5 Cm. Perhiasan dada yang disematkan di baju wanita (sejenis bros) yang terbuat dari emas bertatahkan intan dan berlian. Bentuk keseluruhannya seperti hati yang dihiasi dengan permata intan dan berlian sejumlah 102 butir. Keureusang ini digunakan sebagai penyemat baju (seperti peneti) dibagian dada. Perhiasan ini merupakan barang mewah dan yang memakainya adalah orang-orang tertentu saja sebagai perhiasan pakaian harian.

Phatam Dhoe

 Phatam Dhoe adalah salah satu perhiasan dahi wanita Aceh. Biasanya dibuat dari emas/perak yang disepuh emas. Bentuknya seperti mahkota. Terbagi atas tiga bagian yang satu sama lainnya dihubungkan dengan engsel. Di bagian tengah terdapat ukuran kaligrafi dengan tulisan-tulisan Allah dan di tengahnya terdapat tulisan Muhammad motif ini disebut Bungong Kalimah yang dilingkari ukiran bermotif bulatan-bulatan kecil dan bunga.

Peuniti
  
Peuniti ialah Seuntai Peun iti yang terbuat dari emas; terdiri dari tiga buah hiasan motif Pinto Aceh. Motif Pinto Aceh dibuat dengan ukiran piligran yang dijalin dengan motif bentuk pucuk pakis dan bunga. Pada bagian tengah terdapat motif  boheungkot (bulatan-bulatan kecil seperti ikan telur). Motif Pinto Aceh ini diilhami dari bentuk pintu Rumah Aceh yang sekarang dikenal sebagai motif ukiran khas Aceh. Peuniti ini dipakai sebagai perhiasan wanita, sekaligus sebagai penyemat baju.

 Simplah

Simplah merupakan suatu perhiasan dada untuk wanita. Terbuat dari perak sepuh emas. Terdiri dari 24 buah lempengan segi enam dan dua buah lempengan segi delapan. Setiap lempengan dihiasi dengan ukiran motif bunga dan daun serta permata merah di bagian tengah. Lempengan-lempengan tersebut dihubungkan dengan dua untai rantai. Simplah mempunyai ukuran panjang dan lebar masing-masing 51 cm.

 Subang Aceh
 

Subang Aceh memiliki diameter dengan ukuran 6 cm. Subang terbuat dari emas dan permata. Bentuknya seperti bunga matahari dengan ujung kelopaknya yang runcing-runcing. Bagian atas berupa lempengan yang berbentuk bunga Matahari disebut "Sigeudo Subang". Subang ini disebut juga subang bungong mata uro.

 Taloe Jeuem

Seuntai tali jam yang terbuat dari perak sepuh emas. Terdiri dari rangkaian cincin-cincin kecil berbentuk rantai dengan hiasan bentuk ikan (dua buah) dan satu kunci. Pada kedua ujung rantai terdapat kait berbentuk angka delapan. Tali jam ini merupakan pelengkap pakaian adat laki-laki yang disangkutkan di baju.

Seni Terapan  :

Rumah Aceh (berfungsi sebagai tempat tinggal/rumah adat)
Rencong (berfungsi sebagai senjata)
Tombak Aceh (digunakan dalam upacara kebesaran raja)

Partai Aceh Dukung Pemerintah Perjuangkan UUPA

Tuesday, 21 October 2014 23:04   
BANDA ACEH – Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA PA) memberikan dukungan besar kepada pemerintah setempat untuk memperjuangkan turunan Undang Undang Nomor 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh terkait dengan sejumlah Peraturan Pemerintah (PP) yang belum disahkan pusat.

“Kita harus memberikan dukungan besar kepada Pemerintah Aceh memperjuangkan butir-butir perjanjian bersama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Aceh yang berkaitan beberapa PP tersebut,” kata Juru Bicara DPA PA Suadi Sulaiman di Banda Aceh, hari ini.

Disebutkan beberapa PP yang hingga kini belum disahkan itu antara lain tentang kekuasaan dan kewenangan yang bersifat nasional di Aceh, pembagian hasil migas, dan pertanahan. Persatuan dan kesatuan Aceh menjadi modal utama untuk mewujudkan impian daerah ini dari berbagai sektor. “Mari kita seayun langkah dan seimbang bahu untuk Aceh. Pemerintah Aceh dan DPR Aceh harus benar-benar mampu melakukan komunikasi langsung dengan rakyat dan semua pihak secara intens,” katanya menambahkan.

Suadi mengatakan, keberhasilan pemerintah dalam merealisasikan sesuatu sangat dibutuhkan keberpihakan semua elemen masyakat yang bersinergis dengan kepekaan pemerintah juga terhadap aspirasi rakyat.

“Ditengah perjalanan Pemerintah Aceh dibawah kepemimpinan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf kita harapkan mampu menyelesaikan turunan UUPA tersebut dengan bekerja ekstra. Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla, kita harapkan juga tetap memberikan perhatian khusus kepada Aceh,” katanya.

Dipihak lain, Suadi Sulaiman juga menyesalkan pernyataan anggota “Tuha Peuet” Partai Aceh Tgk Zakaria Saman yang menyebutkan Aceh tidak butuh bendera, dan hanya meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk menuntaskan berbagai butir MoU Helsinki dan UUPA.

“Apa yang dikatakan Tgk Zakaria Saman itu benar dan patut kita dukung bersama, namun berkaitan dengan bendera Aceh sebenarnya bukan lagi suatu persoalan, dan itu sudah selesai. Bendera Aceh sudah sah secara hukum berdasarkan Qanun Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh,” kata dia.

Bahkan penetapan Qanun tersebut, dia menjelaskan dilakukan secara aklamasi yang mendapatkan persetujuan bersama dari semua fraksi di DPRA yang merupakan refresentatif rakyat Aceh dan partai politik baik nasional maupun lokal.

Penetapan dan pengesahan bendera juga satu mandat bersama antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Aceh yang termaktub dalam perjanjian Helsinki dan UUPA.

Sesuai Undang Undang Nomor 32/2004 ditegaskan bahwa masa klarifikasi untuk sebuah aturan (qanun untuk Aceh) selambat-lambatnya 60 hari, kata Suadi Sulaiman. (WOL)

Gubernur Aceh Rotasi Pejabat Eselon II




BANDA ACEH - Gubernur Aceh Zaini Abdullah kembali melakukan rotasi sejumlah pejabat eselon II di lingkup Sekretariat Daerah (Setda) Aceh.

Pelantikan yang dilangsungkan di Aula Serbaguna kantor gubernur hari ini, di hadiri sejumlah pejabat eselon dan tamu undangan lainnya.

Sekda Aceh Dermawan yang mewakili Gubernur saat pelantikan pejabat eselon II mengatakan, pelaksanaan pelantikan hari ini merupakan momen penting yang harus dimaknai sebagai upaya penguatan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan dilingkup pemerintahan Aceh.

Rotasi dan mutasi pejabat, kata Sekda, juga dapat dimaknai sebagai upaya Pemerintah Aceh dalam mendorong keberhasilan reformasi birokrasi yang saat ini sedang digulirkan pemerintah.

"Kami terus memantau dan mengevaluasi jabatan strategis guna mendapatkan sosok yang memiliki kualifikasi dalam menjalankan program pemerintahan," katanya.

Pejabat eselon II yang dilantik hari ini diantaranya adalah: Taqwallah sebagai staf ahli gubernur, Yani, sebagai kepala Dinas Kesehatan, Syahrul staf ahli gubernur, Fahrul Jamal, Kepala BLUD RSUDZA, Mustafa, staf ahli gubernur, Hasanudin Darjo kepala badan arsip dan perpustakaan, Iskandar Idris, Kepala Badan Ketahanan Pangan, M Jafar, staf ahli gubernur, Bustami Usman, kepala Badan Pendidikan Dayah, Diadudin, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Lukman Yusuf, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Aznal Zahri kepala Biro Umum , Mahyuzar kepala biro humas, dan Arifin kepala biro administrasi dan pembangunan. (WOL 20 Oktober 2014)

Sukee


Keturunan atau sukee dalam bahasa Aceh dikenal sejak zaman Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah yang diperkirakan pada tahun 1537 Masehi. Sultan Ala’uddin juga dikenal dengan nama dan sebutan lain, yakni Sultan Alaudin Al Qahhar, Al-Kahhar atau Al-Kahhas setelah mangkat menjadi sultan. 
 
Terdapat empat kaum atau dalam bahasa Aceh disebut kawom, untuk mengenal hal tersebut masyarakat sering mengingatnya dengan lantunan baik itu melalui syair dan sajak yakni sebagai berikut:  

" Sukee Lhee Reutoh ban aneuk drang; Sukee Ja Sandang jeura haleuba; Sukee Tok Batee na bacut-bacut; Sukee Imum Peuet nyang gok-gok donya "   

Bila diartikan menjadi “Kaum Tiga Ratus sebagai biji drang, sebangsa kacang tanah yang tumbuh setelah musin memotong padi; segala jerami mati lalu tumbuh sendiri pohon drang dengan subur. Kaum Ja Sandang sebagai jeura haleuba (biji kelabat) warna kuning. Biji ini digunakan untuk campuran menghilangkan bau hanyir. Biji tersebut lebih besar sedikit dari biji drang. Kaum Ja Batee atau disebut Tok Batee bacut-bacut, yakni hanya sedikit. Kaum Imum Peuet, mereka yang mengguncang dunia maksudnya berpengaruh besar dan berperanan penting dalam pemerintahan.” 

Syair yang sering dikenal dalam masyarakat tersebut, kini juga populer dinyanyikan oleh seniman asal Aceh, Rafly dalam albumnya Surga Firdaus dengan judul Sukee 300. Jadi, secara tidak langsung banyak juga orang Aceh yang lupa dengan keberadaan kawom dan suku yang berada di Aceh. Sehingga tidak mengherankan, jika sekarang orang akan bertanya-tanya dengan sukee, bahasa apa itu serta apa maksudnya.  

Asal muasal sebutan Lhee Reutoh atau “Tiga Ratus”, menurut cerita suatu ketika terjadi sengketa hebat antara golongan rakyat asli sekitar tiga ratus orang, dengan golongan pendatang Hindu sekitar empat ratus. Persengketaan hampir saja disusul dengan bentrok senjata antara dua golongan tersebut yang dipicu oleh kasus perzinahan. Namun, ditengah kecamuk tersebut, hadirlah penengah untuk memberikan jalan keluar dari persengketaan yang berlangsung. 

Mereka yang bersalah akhirnya menerima keputusan, sehingga kesalahan mereka dimaafkan dan kedua pihak kemudian mengikat silaturrahmi dengan akrab. Cerita ini memang tidak terjamin kebenarannya, karena ada pendapat yang menyatakan bahwa sebutan lhee reutoh dimaksudkan 300 keluarga atau 300 pria yang sanggup berperang, bahwa yang dimaksud disini adalah persekutuan (konfederasi) zaman dulu dan pasti terjadi dalam masa kesukaran atau perjuangan bersama. 

Ja Sandang atau Tok Sandang. ja atau to yang berarti nenek moyang, kedua nama tersebut juga disebut Eumpee (dalam bahasa Melayu: empu). Sedangkan Cut berarti kecil, dipakai untuk awal nama pria atau wanita terkemuka. Sandang yang sebenarnya berarti membawa sesuatu di bawah lengan yang diikat pada tali yang melingkar bahu, nama ini masih melekat pada seorang pria saudara lelaki dan banta dari Teuku Nek yang sekarang disebut Teuku Sandang.  

Selain ada cerita turun temurun di kawasan Mukim XXII, wilayah suku pribumi Manteue atau sering disebut sekarang daerah Lampanah yang menceritakan bahwa ketika Sultan Al-Kahhar berangkat ke Pidie untuk suatu pengamanan, maka melewati Mukim XXII Lampanah dan mengalami kehausan, tiba-tiba saja dia bertemu dengan orang penyandang nira (ie jok). Orang tersebut menawarkan air niranya kepada Sultan dan menyambutnya dengan begitu rasa lega terutama setelah selesai meminumnya.  

Sultan pun berterima kasih dan mengundang orang tersebut ke Dalam (sebutan Istana) di Banda Aceh untuk memberikan dia penghargaan sebagai tanda balas jasa atas kebaikan yang diberikannya kepada Sultan. Namun, orang tersebut pun bertanya, bagaimana bisa dia masuk ke Dalam dan dikenal oleh para pengawal istana. Sultan pun memberi petunjuk kepada orang tersebut dengan menyandang bambu (pacok) nira serta memberikan tanda sehelai daun kelapa di kepalanya. Akhir cerita setiap kali Ja Sandang pergi ke Istana, lambat laun diangkat oleh Sultan menjadi kadi dengan gelar Malikul 'Adil (Malikon Ade) karena dipercaya sebagai orang baik. 
Ja Batee atau Tok Batee, menurut cerita ketika Sultan Al-Kahhar merencanakan pembangunann sebuah istana batu, maka dikeluarkan perintah supaya golongan pendatang dari luar daerah ini bergotong royong untuk mencari dan membawa batu-batu untuk pembangunan istana. Tiba-tiba pada suatu hari golongan ini saat mengumpulkan batu, Sultan memberikan seruan bahwa pencarian batu bisa dihentikan dan sudah cukup (tok batee). Sejak itulah golongan tersebut dinamakan kaum Tok Batee.

Sedangkan kawom terakhir yang dikenal dengan Imum Peueut (Empat Imam) disebabkan karena mereka menempati empat mukim, yaitu Tanoh Abe, Lam Loot, Montasik dan Lam Nga. Setiap mukim yang didiami dikepalai oleh seorang imam masing-masing dan kesemuanya ada empat imam sehingga menjadi Imum Peueut. Memang jika dilihat lebih telisik, Imum Peueut menunjukkan persekutuan berbeda dibandingkan tiga sukee (Lhee Reutoh, Ja Sandang dan Tok Batee)

Perlu diketahui bahwa jabatan Imum sama sekali terpisah dari kawom. Imum ini bertugas sebagai pemimpin dalam hal ibadah dan tidak memperoleh pangkat apa pun di dalam masyarakat. Selain itu juga ada Imum yang menjadi kepala daerah (mukim), jabatan yang dimaksud adalah penguasa yang membentuknya tentu ada hubungan dengan agama. 

Begitulah sederatan kisah Sukee atau keturunan dalam masyarakat Aceh, yang sampai saat ini cukup banyak mengalami kehilangan identitas diri dalam masyarakat Aceh sendiri, hadirnya sukee dalam masyarakat Aceh terjadi sama sekali tidak membuat perbedaan yang sangat berarti, melainkan sebagai media penyatu umat yang dinilai oleh bangsa luar sebagai bentuk susunan kesempurnaan keturunan yang lengkap sekali. (sumber: Sejarah Aceh)