Rabu, 30 Juli 2014

Jumat, 18 Juli 2014

Boh Rom-Rom Sajian Berbuka di Bulan Puasa Khas Aceh

Boh rom rom

Bulat dan kecil, tidak ketinggalan parutan kelapa dengan isi gula begitulah sekilas yang terlihat dari panganan kue yang satu ini. Ya, bagi sebagian masyarakat Aceh mengenalnya dengan sebutan boh rom-rom, namun ada juga yang menyebutnya boh meucroet atau boh meulaka.

Sajian kue kecil ini memang terbilang lucu, dari sekian banyak namanya masih ada juga yang akrab mengenal kue ini dengan nama boh duek beudeh, ada saja-saja ternyata ya.
Boh rom-rom memang bukan makanan langka, kue kecil yang menjadi pelengkap sebagai cemilan ini sering dijumpai dimana-mana.


Bulan puasa misalnya, boh rom-rom bisa jadi sajian untuk berbuka. Rasanya yang manis dengan isi gula merah, berpadu dengan parutan kelapa menjadi sensasi tersendiri di mulut, apalagi saat gula merahnya pecah. Benar-benar terasa di lidah. Lalu, bahan apa saja untuk membuat si kue kecil imut ini bisa dinikmati saat berbuka. Berikut ini resepnya untuk anda coba:


Bahan dan bumbu:

§  500 gram tepung ketan putih
§  Setengah sendok teh garam
§  100 ml air putih panas
§  80 ml air dingin
§  Air secukupnya buat merebus
§  3 lembar daun pandan
§  Setengah butir kelapa yang sudah parut
§  100 gram gula merah (bisa juga gula tebu) yang diparut kasar
§  2 lembar daun pandan
§  50 ml air


Cara Membuatnya:

§  Campur tepung ketan, garam dan air panas serta aduk sampai rata.
§  Tuang air dingin sedikit demi sekit, dan aduk hingga adonan terasa kalis.
§  Panaskan air bersama dengan daun pandan hingga mendidih.
§  Ambil satu sendok teh adonan, bulatkan dan jangan lupa mengisi dengan gula merah yang sudah diparut kasar ditengahnya.
§  Masukkan adonan yang sudah dibulatkan tadi ke air yang mendidik, masak hingga mengapung dan matang.
§  Jika sudah matang lalu angkat, dan guling-gulingkan diatas parutan kelapa tadi.
Mudah dan simpelkan? itulah resep boh rom-rom selain bisa untuk berbuka di bulan puasa juga bisa jadi cemilan disaat anda berkumpul bersama keluarga. Selamat mencoba! (afi)

Ie Bu Peudah, Menu Berbuka dari 44 Jenis Rempah Khas Aceh

Bubur khas Aceh dengan citarasa kaya mengandalkan berbagai rempah.

VIVAlife - Di teras toko itu terpajang beberapa bahan pokok kebutuhan rumah tangga. Sebagian lagi tersusun rapi di dalam toko milik Djailani. Toko ini letaknya di kawasan Blang Cut, Lueng Bata, Banda Aceh.

Setiap bulan Ramadan di toko Djailani menjual bahan-bahan Ie Bu Peudah--penganan berbuka serupa bubur. Pembeli tinggal merebus bahan-bahan dengan tambahan dedaunan dan sayuran untuk mendapatkan bubur pedas.

Bahan Ie Bu Peudah tidak diolah sendiri oleh Djailani. Ia hanya menampung dari adiknya, Khairiah Ibrahim Saad atau kerap disapa Nyak Neh. Di rumahnya yang tak jauh dari toko Djailani, Nyak Neh bercerita tentang kegiatannya meracik bahan Ie Bu Peudah.
 

Dari dalam sebuah ruangan kosong yang bersisian dengan tangga menuju rumah panggungnya, Nyak Neh mengeluarkan beberapa bahan yang lalu dibawanya ke dapur. Sore itu, dapur Nyak Neh agak berantakan. Menjelang Puasa, ia memang berbenah menyiapkan pelbagai pesanan.
 

Apalagi, Ramadan tahun ini ia dapat pesanan dari Jakarta untuk meracik Ie Bu Peudah. Dulu kesibukan ini baru terasa dua hari menjelang Ramadan. Biasanya ia meracik bahan bersama ibunya. Namun setelah ibunya meninggal enam tahun silam, Nyak Neh melanjutkan usaha itu seorang diri.
 

“Sepuluh hari atau seminggu sebelum Puasa, saya sudah mulai mengolah bahan-bahan ini sendirian,” ujarnya sambil beranjak ke ruangan yang bersisian dengan tangga.

Dari sana ia mengeluarkan keranjang rotan. Di dalamnya terdapat daun-daun kering bahan utama ie bu peudah. Sebagian bahan-bahan itu ia peroleh dari beberapa pasar, seperti Pasar Sibreh dan Pasar Lambaro. Nyak Neh bercerita kalau sangat sulit mencari bahan-bahan Ie Bu Peudah saat ini. Terkadang ia meminta bantuan adiknya yang tinggal di Aron-Ketapang untuk mencari bahan  di kebun warga atau di hutan kaki bukit.

“Bahan-bahannya sudah susah saya beli di pasar. Kadang-kadang kalau tidak ketemu, harus cari di kebun atau di hutan,” ujarnya.

Bahan racikan ie bu peudah terbilang asing bagi masyarakat awam. Masakan ini menggunakan 44 bahan berbeda. Namun terkadang, Nyak Neh tidak mampu menemukan semua bahan itu.

Ie bu peudah adalah makanan serupa bubur yang penuh rempah-rempah. Namun ie bu peudah berbeda dengan bubur kebanyakan. Ie Bu Peudah tidak menggunakan potongan ayam ataupun udang seperti bubur kanji. Isinya didominasi rempah-rempah sehingga sangat kaya rasa.
 

Makanan ini jarang ditemui, kecuali saat Puasa. Selain dijual di pasar, warga di setiap Meunasah di Aceh rutin bersama-sama menyantap masakan ini saat berbuka. Sebelumnya, warga secara bersama-sama memasak penganan tersebut.

Bahan meracik masakan itu antara lain kacang hijau, beras, jagung, lada, jahe, kunyit, serai, ketumbar, bawang putih, pala, hingga lamkeuweuh. Bahan-bahan dibersihkan dan ditumbuk halus lalu, disangrai hingga kering.

Hal yang sama juga dilakukan pada bahan pelengkap dedaunan yang memperkaya racikan bubur. Misalnya daun mireuk, daun saga, daun jeruk purut, daun teumurui, daun camplie buta, daun balek baloe, daun lada, daun kunyit, daun serapat, seumalu batee, seurumpung, tahe peuha, dan balek angen.

“Buatnya capek sekali. Bahannya harus dicuci semua, terus dikeringkan. Setelah dikeringkan baru dihaluskan satu per satu,” kata Nyak Neh.

Terkadang, ia membutuhkan waktu sepekan untuk menyiapkan bahan-bahan. Rempah-rempah itu lalu ia haluskan menggunakan Jeungkie, alat tradisional yang sering digunakan untuk menumbuk beras.

Bahan-bahan yang telah halus kemudian diaduk rata dengan beras tumbuk kasar. Campuran itu lalu dimasak kering menyerupai bumbu pecel. Racikan bumbu yang dijual Nyak Neh di toko Djailani mampu bertahan hingga tiga bulan.
 

“Biar bumbunya tetap bagus, simpan di dalam botol kaca, jangan dalam plastik,” ungkap Nyak Neh.

Racikan Ie Bu Peudah ini tentu mempermudah siapa saja yang ingin mencicipinya. Pembeli tinggal merebus air dan mencampur racikan dengan potongan dedaunan, seperti daun melinjo, daun jeruk purut, daun singkong, jagung, ketela, jahe, kunyit, kacang hijau, daun pepaya, potongan pisang, dan kelapa muda. Bahan tersebut dimasak dan diaduk hingga matang.
 

“Biar lebih enak, tambahkan sedikit air kelapa,” ujar Nyak Neh.

Zuriyati Irfan, warga Lueng Bata, pelanggan rutin Ie Bu Peudah Nyak Neh mengaku bubur itu memiliki rasa yang khas. Zury mengkonsumsi Ie Bu Peudah untuk menghangatkan tubuh dan mencegah masuk angin selama berpuasa.

Masakan yang didominasi dedaunan herbal dan rempah ini memang memiliki khasiat tinggi. Selain menjaga stamina tubuh sepanjang Ramadan, asupan karbohidratnya tinggi karena bersumber dari beras, kacang hijau, dan jagung. Seporsi racikan bahan ie bu peudah, kata Zury, cukup untuk digunakan hingga dua minggu Ramadan, tergantung pemakaian.
 

“Racikannya dipakai sedikit aja, nanti baru ditambah banyak sayuran,” ujarnya.

Khasiat itu dibenarkan oleh Nyak Neh. Karena itu, ia tetap bertahan meracik bubur Ie Bu Peudah yang mulai langka itu.

3 (TIGA) PEMBAGIAN BULAN RAMADHAN BERDASARKAN SABDA RASULULLAH MUHAMMAD SAW


10 Pertama :

Pada 10 hari pertama bulan Ramadhan Allah SWT memberikan rahmat  dan limpahan pahala dari berbagai amalan yang kita lakukan selama puasa. Fase-fase 10 hari pertama Ramadhan memang merupakan fase terberat dan tersulit karena merupakan fase peralihan dari kebiasaan pola makan normal menjadi harus menahan lapar dan haus mulai dari subuh hingga magrib.

Selain itu ternyata tidak hanya tubuh saja yang melakukan adaptasi, pada fase 10 hari pertama Ramadhan ini pikiran kita juga sedang berusaha melakukan beradaptasi atau penyesuaian dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk dapat menunaikannya. Oleh sebab itu pada 10 hari pertama Ramadhan ini Allah SWT memberikan keistimewaan dengan membukakan pintu rahmat yang sebesar-besarnya bagi hamba-Nya yang telah sabar dan ikhlas dalam menunaikan puasa selama 10 hari pertama dibulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Untuk itu jangan sampai kita melewatkan kesempatan mendapatkan rahmat dari Allah SWT selama 10 hari pertama Ramadhan dengan hanya berdiam diri tanpa melakukan aktifitas. Manfaatkanlah setiap hari dibulan Ramadhan sebagai ladang ibadah. Lakukanlah kebaikan sebanyak-banyaknya dengan memperbanyak tilawah Al Quran, berdoa, sholat shunah, beramal shaleh dan membantu orang lain. Selain itu bekerja, memperbanyak silahturahmi, serta menjaga hubungan baik juga merupakan sebuah ibadah. Semoga semua ibadah yang kita lakukan selama bulan Ramadhan diberkahi serta dirahmati Allah SWT.




10 Kedua :

Setelah berhasil melalui fase pertama yang sudah pasti cukup berat karena tubuh dan pikiran berusaha beradaptasi dengan kondisi saat puasa, maka 10 hari kedua Ramadhan ini mungkin akan terasa lebih ringan karena akhirnya tubuh sudah mulai terbiasa dengan aktivitas puasa yang menuntut seseorang untuk tidak makan dan minum dimulai sejak matahari terbit hingga saat matahari terbenam.

Untuk keutamaan 10 hari kedua Ramadhan seperti yang disebutkan didalam hadist Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dimana Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Awal bulan Ramadhan adalah Rahmah, pertengahannya Maghfirah dan akhirnya Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka)”. Nah, pada fase kedua atau fase 10 hari kedua Ramadhan inilah Allah membukakan pintu magfirah atau ampunan yang seluas-luasnya.

Karenanya Jangan sampai kita melewatkan hari-hari penuh ampunan yang telah dijanjikan oleh Allah SWT dengan sia-sia. Pada waktu-waktu inilah saat yang paling tepat untuk memperbanyak doa serta memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa-dosa yang telah kita lakukan di masa lalu agar diampuni dan dibebaskan dari hukuman.

Perbanyaklah melakukan sholat malam, berdoa dan berdzikir karena pada 10 hari kedua Ramadhan ini merupakan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT untuk mengurangi dosa-dosa yang telah kita perbuat. Dengan memohon ampunan dengan tulus dan bersungguh-sungguh serta bertobat dari hati yang terdalam Insya Allah pasti mendapatkan ampunan-Nya.


10 Terakhir
 
Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 terakhir Ramadhan kurang lebih sebagai berikut :

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.” Muttafaqun ‘alaihi


Pertama : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serius dalam melakukan amaliah ibadah lebih banyak dibanding hari-hari lainnya. Keseriusan dan peningkatan ibadah di sini tidak terbatas pada satu jenis ibadah tertentu saja, namun meliputi semua jenis ibadah baik shalat, tilawatul qur`an, dzikir, shadaqah, dll.


Kedua : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan istri-istri beliau agar mereka juga berjaga untuk melakukan shalat, dzikir, dan lainnya. Hal ini karena semangat besar beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar keluarganya juga dapat meraih keuntungan besar pada waktu-waktu utama tersebut. Sesungguhnya itu merupakan ghanimah yang tidak sepantasnya bagi seorang mukmin berakal untuk melewatkannya begitu saja.


Ketiga : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada 10 Terakhir ini, demi beliau memutuskan diri dari berbagai aktivitas keduniaan, untuk beliau konstrasi ibadah dan merasakan lezatnya ibadah tersebut.

Keempat : Pada malam-malam 10 Terakhir inilah sangat besar kemungkinan salah satu di antaranya adalah malam Lailatur Qadar. Suatu malam yang penuh dengan keberkahan, yang lebih baik daripada seribu bulan.

Selasa, 15 Juli 2014

Nuzulul Qur'an


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Nuzulul Quran dikenal sebagai peristiwa diturunkannya Al Qur’an pertama sekali. Wahyu Allah yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW, saat beliau sedang bertafakkur di Gua Hira’. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, surat Al ‘Alaq (1-5) adalah wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW.


Sebahagian ulama menyebutkan bahwa turunnya Alquran pada 17 Ramadhan. Malam itu (juga) disebut malam mulia Lailatul Qadr, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (QS. Al Qadr: 1).  Malam itu lebih baik dari seribu bulan, yang kalau dihitung dalam tahun menjadi 83 tahun lebih.
  
Dilihat dari ayat pertama turun, ada perintah yang sangat penting bagi setiap insane, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat kelak. Yaitu perintah membaca. Namun, membaca harus selalu bersandar kepada Allah sebagai pemilik segala ilmu, agar manusia tak tersesat dalam hidup ini. 

Dan yang tak kalah pentingnya setelah membaca ialah menulis. Dengan tulisanlah, ilmu bisa mudah diingat, disebar, dan dipelajari dari satu orang kepada yang lain dari satu generasi ke generasi lainnya. Semoga kita mengamalkannya dengan membiasakan membaca dan menulis sebagai amal untuk akhirat kelak...
Aamiin yaa rabbal 'alamiin....