Selasa, 28 Juni 2016

10 Air Terjun Yang Terindah Di Aceh

1. Air Terjun Suhom ( Aceh Besar )
Air terjun ini terdapat di daerah aceh besar. tetapi tidak terlalu jauh dari ibu kota aceh, yaitu banda aceh. dari banda aceh menuju ke lokasi air terjun ini lebih kurang 1 jam. jalan menuju ke air terjun ini juga bagus. kalau main ke aceh, rugi kalau tidak datang ke tempat ini. setiap hari libur, banyak orang yang datang ke sini untuk menikmati panorama alamnya yang dapat membuat pikiran dan beban yang ada di kepala hilang.

2. Air Terjun Akang Siwah ( Gayo Lues )
Alam Air Terjun Akang Siwah Objek wisata ini merupakan wisata alam/ekowisata yg mempesona, dan masih sangat alami, cocok bagi yang menginginkan ketenangan dan merasakan kesejukan udara disini. wisata alam air terjun akang siwah hanya berjarak 6 Km dari Ibukota kabupaten yaitu Blangkejeren, Air Terjun ini memiliki panorama tiga(3) tingkat (8m, 14m dan 80m). 

3.Air Terjun Kuta Malaka ( Aceh Besar )
Air Terjun Kuta Malaka merupakan air terjun yang terletak di Kuta Malaka Kecamatan Samahani Kabupaten Aceh Besar yang berada pada ketinggian lebih kurang 600 m dpl, dengan bentuk bertingkat-tingkat.  Namun kata masyarakat setempat mencapai 7 tingkat dan bahkan ada yang mengatakan 20 tingkat.Untuk dapat berkunjung ke tempat wisata indah ini pengujung harus menempuh perjalan sejauh lebih kurang 30 km dari pusat kota Banda Aceh. Hampir setiap hari minggu atau hari libur, tempat ini ramai di kunjungin, baik masyarakat lokal, maupun luar kota. Memang Sungguh Indah Alam Nanggroe Aceh Darussalam.

4. Air Terjun Pucok Krueng ( Abdya )
Objek wisata air terjun Pucok Krueng yang berlokasi di Gampong Alue Laseh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), dalam beberapa tahun terahir ini menjadi kawasan waisata yang paling diincar para wisatawan lokal. Pasalnya, selain lokasi yang mudah dijangkau, suasana di kawasan objek wisata dimaksud juga masih tampak asri.

5. Air Terjun Tansaran Bidin ( Bener Meriah )
Air Terjun Tansaran Bidin terletak di Desa Tansaran Bidin, Kec. Bandar Kabupaten Bener Meriah dengan ketinggian mencapai 50 M menobatkannya menjadi Air Terjun Paling Tinggi di Kabupaten Bener Meriah. Lokasinya tidak jauh dari Pondok Baru yang merupakan Ibukota Kec. Bandar Kab. Bener Meriah tapi karena sarana jalan yang belum memadai, untuk mencapai lokasi air terjun terpaksa ditempuh dengan jalan kaki selama kira-kira 1,5 jam (tergantung kekuatan kaki dan kecepatan langkah masing²) jalan menuju ke lokasi air terjun yang berhutan dan agak berbukit membuat liburan anda makin penuh dengan petualangan 

6. Air Terjun Terujak ( Aceh Timur )
Objek Wisata Air Terjun Terujak merupakan Tempat wisata yg berudara sejuk, serta mempunyai pemandangan hutan alam yg indah. Air Terjun Terujak berada di Desa Terujak, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur, Cara Menuju Lokasi bisa Menggunakan kendaraan mobil ataupun sepeda motor, Dilokasi wisata ini selain air terjun yg indah, terdapat juga tempat pemandian air panas yg bersumber dari belerang dilereng gunung, dan juga terdapat tempat pemandian air dingin.

7. Air terjun Lae Gecih ( Aceh Singkil  )
Air terjun Lae Gecih obyek wisata ini. Berlokasi di desa kuta tinggi / lae gecih kecamatan simpang kanan. Jarak dengan ibukota kabupaten yaitu kira2 90 km dan kecamatan 20 km. kegiatan masyarakat di daerah ini mayoritas budidaya ikan air tawar dan bertani, sehingga wisatawan yang berkunjung di daerah ini dapat melihat kegiatan pedesaaan.

8. Air Terjun SKPC ( Subussalam )
Air Terjun SKPC dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan salak pondoh milik transmigrasi setempat itu terlihat indah meski belum tertata rapi. Obyek wisata yang berada sekitar delapan km dari pusat Kota itu ramai dikunjungi masyarakat setiap hari libur. Lokasi air terjun SKCP yang berada di kawasan kampung SKPC Kecamatan Penanggalan, tidak begitu jauh dari pusat kota itu bisa dijadikan tempat rekreasi karena alam sekitarnya indah dikelilingi perkebunan kelapa sawit dan salah pondoh milik masyarakat setempat. Subulussalam berada diperbatasan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dengan Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Kota ini baru definitif dan terpisah dari Kabupaten induk Aceh Singkil. Komoditi dominan daerah kelapa sawit, di samping pertanian. Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam kini sedang giat membangun berbagai fasilitas publik, sehingga terlihat indah pusat kota “transit” yang berbatasan dengan Aceh Singkil,Aceh Selatan, Aceh Tenggara dan Provinsi Sumut itu dinilai strategis prospeknya ke depan. 

9. Air Terjun Sabang ( Pulau Weh )
Sungai Pria Laot berhulu dari Gunung Sarung Keris. Di tengah-tengah hutan, teidak terlalu jauh dari desa Pria Laot, sungai tersebut berubah menjadi air terjun bertingkat yang menakjubkan. Disana Anda dapat berenang di bawah air terjun, atau sekedar menikmati suasanan hutan lindung dengan kupu-kupu yang bertebaran di sekelilingnya. Air terjun tesebut terletak 1,7 km dari jembatan Pria Laot. 

10  Air Terjun Mengaya ( Aceh Tengah-Takengon)
Air Terjun Mengaya ini Terletak di Desa Mengaya, Kec.Bintang. Kabupaten Aceh tengah berdekatan dengan obyek wisata Danau Lut Tawar. Melalui jalan setapak yang sudah beraspal, pengunjung bisa menikmati panorama hutan yang asri dan udara yang sejuk di sepanjang jalan menuju lokasi air terjun ini. (sumber: Aceh Info)

Senin, 27 Juni 2016

Jeungki: Alat Penumbuk Padi Tradisional di Aceh

Atjeh Pusaka - Jeungki, salah satu alat penumbuk padi. Dulunya biasa digunakan orang Aceh di daerah pedesaan, kini  mulai langka di Aceh Utara dan daerah lainnya. Kelangkaan itu terjadi selama menjamurnya kilang padi mini (mesin gilingan gabah ukuran kecil) di berbagai desa, sehingga ibu rumah tangga cenderung membawa gabah kering giling ke kilang mini yang prosesnya lebih cepat.
Masyarakat Aceh membuat Jeungki dari  pohon kayu mene yang dibuat dengan bagus dan penuh dengan seni.  Panjang Jeungki 2,5 meter dengan di ujungnya dibuat alu, biasanya untuk alu kayu yang lebih lunak diujungnya dibuat lesung juga dari pohon kayu mane atau kayu lainnya. Dulunya, tiap rumah memiliki Jeungki, karena dengan Jeungki proses penumbukan gabah (padi) lebih  murni. Lebih-lebih kalau mendekati hari lebaran, banyak ibu rumah tangga di daerah pedesaan, mulai melakukan kegiatan menumbuk tepung (top teupong) sebagai bahan baku berbagai jenis kue persiapan dalam menyambut  tamu  lebaran yang datang ke rumahnya.
Selain dijadikan sebagai alat penumbuk gabah kering giling dan teupung, Jeungki bagi masyarakat Aceh terutama bagi ibu rumah tangga dan dara gampong, dapat juga dijadikan sebagai sarana olah raga, sebab  dengan adanya sitem penumbukan padi  dalam bahasa Aceh disebut  (Rhak Jeungki) dapat menguatkan otot-otot dan gerakan anggota tubuh bagi wanita gampong secara rutin, juga menjadi sebuah penghematan ekonomi dalam rumah tangga.
Kebiasaan wanita desa ramai-ramai melakukan top teupong sebagai menu kue persiapan menyambut hari lebaran, dalam sebuah jeungki ada empat-sampai lima wanita bekerja secara saling membantu. Bagi para gadis berdiri menginjak di ujung jeungki, sementara ibu rumah tangga duduk di pinggir lesung menjaga tepung sambil menghaliskan (hayak). Dengan adanya Jeungki juga menjadi  budaya saling membantu atau bekerjasama ibu rumah tangga dalam segala hal. Namun, selama langkanya Jeungki bagi wanita desa mulai renggang pula keakraban dan kebersamaan di dalam gampong.(Sumber: Aceh Info)

Hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien


Sumedang, 6 November 1908
HARI itu.. tepat 11 Desember 1906, Bupati Sumedang, Pangeran Aria Suriaatmaja kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya merupakan tawanan titipan pemerintah Hindia Belanda. Seorang perempuan tua renta, rabun serta menderita encok, seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih 50 tahun dan remaja tanggung berusia 15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga tampak tabah. Pakaian lusuh yang dikenakan perempuan itu merupakan satu-satunya pakaian yang ia punya selain sebuah tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.
Belakangan karena melihat perempuan tua itu sangat taat beragama, Pangeran Aria tidak menempatkannya di penjara, melainkan memilih tempat disalah satu
rumah tokoh agama setempat. Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak mengungkap siapa perempuan tua renta penderita encok itu. Bahkan sampai kematiannya, 6 November 1908 masyarakat Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya perempuan itu.
Perjalanan sangat panjang telah ditempuh perempuan itu sebelum akhirnya beristirahat dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka tahu, karena kesehatan yang sangat buruk, perempuan tua itu nyaris tak pernah keluar rumah. Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau mengajar mengaji ibu-ibu dan anak-anak setempat yang datang berkunjung. Sesekali mereka membawakan pakaian atau sekadar makanan pada perempuan tua yang santun itu, yang belakangan karena pengetahuan ilmu-ilmu agamanya disebut dengan Ibu Perbu.
Waktu itu tak ada yang menyangka bila
perempuan yang mereka panggil Ibu Perbu itu adalah "The Queen of Aceh Battle" dari Perang Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien. Singa betina dengan rencong ditangan yang terjun langsung ke medan perang. Pahlawan sejati tanpa kompromi yg tidak bisa menerima daerahnya dijajah.
Hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari tanah kelahiran dan orang-orang yang dicintai. Gadis kecil cantik dan cerdas dipanggil Cut Nyak dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat di Lampadang tahun 1848. Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku Nanta Setia, keturunan perantau Minang pendatang dari Sumatera Barat ke Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.
Tumbuh dalam lingkungan yang memegang tradisi beragama yang ketat membuat gadis kecil Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Di usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga yang merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII.
Suasana perang yang meggelayuti atmosfir Aceh pecah ketika tanggal 1 April 1873 F.N. Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh, dan Tjoet Nyak tentu ada disana. Diantara tebasan rencong, pekik perang wanita perkasa itu dan dentuman meriam, dia juga yang berteriak membakar semangat rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan dibakar tentara Belanda...
“..Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh ! Lihatlah !! Saksikan dengan matamu Masjid kita dibakar !! Tempat Ibadah kita dibinasakan !! Mereka menentang Allah !! Camkanlah itu! Jangan pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan para kaphe (kafir) Belanda !!". Perlawanan Aceh tidak hanya dalam kata-kata (Szekely Lulofs, 1951:59).
Perang Aceh adalah cerita keberanian, pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir. Begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan suaminya, setiap hari.. setiap waktu dihabiskan untuk berperang dan berperang melawan kaphe-kaphe Belanda. Tetapi perang juga lah yang mengambil satu-persatu orang yang dicintainya, ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam pertempuran di Glee Tarom 29 Juni 1870.
Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.
Tetapi bagi Tjoet Nyak, perang melawan Belanda bukan hanya milik Teuku Umar, atau Teungku Ibrahim Lamnga suaminya, bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia ayahnya, atau para lelaki Aceh. Perang Aceh adalah milik semesta rakyat.. Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak, dia tetap mengorganisir serangan-serangan terhadap Belanda.
Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan pemikiran putri bangsawan itu hanya dicurahkan kepada perang mengusir penjajah.. Berpindah dari satu tempat persembunyian ke persembunyian yang lain, dari hutan yang satu ke hutan yang lain, kurang makan dan kurangnya perawatan membuat kondisi kesehatannya merosot. Kondisi pasukanpun tak jauh berbeda.
Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada 16 November 1905 Kaphe Belanda menyerbu ke tempat persembunyiannya.. Tjoet Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak. Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-sakitan, Tjoet Nyak memang tak bisa berbuat banyak. Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela diri. Ya, Tjoet Nyak tertangkap dan dibawa ke Koetaradja (Banda Aceh) dan dibuang ke Sumedang, Jawa Barat.
Perjuangan Tjoet Nyak Dhien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing hingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini. Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu.
Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor, Jauh sebelum dunia barat berbicara tentang persamaan hak yang bernama emansipasi perempuan.
Tjoet Nyak, "The Queen of Aceh Battle", wanita perkasa, pahlawan yang sebenarnya dari suatu realita jamannya.. berakhir sepi di negeri seberang.. Innalillahi wainna ilaihi raji'un..

Senin, 20 Juni 2016

Tanda Tanda Datangnya Malam Lailatul Qadar

Lailatul Qadar, Malam yang lebih mulia daripada Seribu Bulan. Lailatul Qadar merupakan malam yang sangat istimewa. Siapapun orang yang beriman pasti menginginkan dirinya beruntung mendapatkan keberkahan dari Lailatul Qadar.

Jika kita cermati dari namanya, Lailatul Qadar berasal dari bahasa Arab yang berarti malam ketetapan. karena pada malam Lailatul Qadar, Alqur’an diturunkan sebagai pedoman hidup manusia dan barang siapa yang beribadah di malam itu maka pahalanya akan dilipat gandakan lebih dari 29.500 lipat. pahalanya sama saja dengan terus menerus beribadah lebih dari seribu bulan atau lebih dari 83 tahun.

Oleh karena itu, dianjurkan bagi kita untuk berdo'a dan beribadah saat Lailatul Qadar. Karena isnyaallah doa di malam Lailatul Qadar akan diijabah dan dosa-dosa kita diampuni.
Dari Aisyah. Ia berkata, “Saya bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya dapat mengetahui malam qadar itu, apakah yang sebaiknya kita ucapkan di malam itu?” jawab beliau, “ucapkanlah olehmu: ya Allah, sesungguhnya engkau pengampun, suka mengampuni kesalahan, maka ampunilah kesalahanku.” (Muttafaq Alaih)
Pada malam Lailatul Qadar, para malaikat yang membawa rahmat turun ke bumi termasuk malaikat Jibril. Ini mengindikasikan bahwa Lailatul Qadar benar-benar malam penuh keberkahan. , malam penuh kesejahteraan hingga terbit fajar. Dimana setan tidak bisa berbuat jahat dan manusia hanya bergelut dengan nafsu dirinya sendiri untuk bisa memanfaatkan momentum ini. Takdir tahunan pun dicatat pada malam Qadar ini.

Namun ternyata, Lailatul Qadar dijadikan rahasia oleh Allah. Kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya malam Lailatul Qadar itu akan datang. Sekalipun begitu, Para ulama telah memberikan beberapa penjelasan mengenai datangnya Lailatul Qadar ini.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan Lailatul Qadar itu tiba. Akan tetapi pendapat yang lebih bisa dipercaya adalah di malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadhan berdasarkan hadits dibawah ini.
"Rasulullah SAW sangat bersungguh-sungguh pada 10 hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya." (HR. Muslim)
Sebuah hadits shohih datang Dari sahabat Abdullah Bin Umar, “Rasulullah SAW telah bersabda, “barang siapa yang ingin menjumpai malam Lailatul Qadar, hendaklah ia mencarinya pada malam dua puluh tujuh.” (HR. Ahmad)
Berdasarkan hadits diatas, Lailatul Qadar akan terjadi di malam ke-27 Ramadhan. Namun, perbedaan penentuan awal mulai 1 Ramadhan membuat kita tak bisa menjadikan pendapat itu sebagai patokan yang mutlak.

Lalu bagaimana kita bisa tahu jika Lailatul Qadar telah tiba? Rasulullah SAW pernah bersabda tentang tanda-tanda datangnya Lailatul Qadar. Bila kita merasakan keempat hal dibawah ini, maka kemungkinan besar Lailatul Qadar telah kita jumpai. Keempat tanda dan ciri tersebut antara lain:
1.   Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, teduh, seperti tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Subuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) 
2.    Keesokan hari malam Lailatul Qadar, sinar matahari tampak cerah namun teduh.
3.   Di malam Lailatul Qadar, udara tidaklah dingin, tidak berawan, tidak panas, dan tidak ada badai.
4.  Malaikat akan menurunkan ketenangan sehingga manusia bisa merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Semoga Allah mudahkan kita untuk meraih pahala dan keutamaan di malam Lailatul Qadar.. Amiin Ya Mujiibas Saailiin. 
(Sumber : Kabarmakkah.com)

Jumat, 17 Juni 2016

Info Dana Hibah Untuk LSM Lokal Indonesia Dari Kedutaan Besar Kanada

Atjeh Pusaka - Canada Fund untuk Prakarsa Lokal (CFLI) menyediakan bantuan untuk kelompok-kelompok masyarakat, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, organisasi-organisasi masyarakat dan, dalam kondisi tertentu, lembaga swadaya masayarakat internasional dan lembaga pemerintah, guna mendanai proyek-proyek skala kecil di bidang tata pemerintahan, demokrasi, ekonomi, dan masalah pembangunan sosial lainnya. Kedutaan Besar Kanada di Jakarta bertanggung jawab terhadap program CFLI di Indonesia dan Timor-Leste.

Penerimaan proposal periode 2016-2017
Kedutaan Besar Kanada di Jakarta membuka penerimaan proposal untuk CFLI. Proposal yang kami cari adalah untuk proyek dengan jangka waktu paling lama tujuh bulan (seluruh kegiatan harus selesai selambatnya tanggal 28 Februari 2017). Permintaan untuk dana inti (core funding) tidak akan dipertimbangkan. Kontribusi rata-rata adalah sekitar 30.000 – 50.000 dolar Kanada untuk tiap proyek. Proyek-proyek yang lebih besar dapat dipertimbangkan dalam kondisi istimewa, dengan disertai justifikasi yang pantas untuk penggunaan dana. Setelah proposal Anda kami nilai secara keseluruhan, Anda akan kami hubungi mengenai keputusannya. Tidak perlu menghubungi Kedutaan Besar untuk mengetahui kabar terbaru mengenai status proposal Anda. Proposal selambat-lambatnya kami terima hari Senin, 20 Juni 2016.

Baca Selengkapnya Di : http://www.kerja-ngo.com/2016/06/info-dana-hibah-untuk-lsm-lokal.html#ixzz4BqNjRugk


Dana Hibah CFLI