Minggu, 08 November 2009
PEMERINTAH ACEH DIMINTA NATURALISASI KRUENG LANGSA
Eddyanto,8-10-2009
Langsa,(Analisa)
Pemerintah Aceh diminta segera melakukan Naturalisasi (pengembalian
bentukan alami) Krueng Langsa guna mengatasi proses pengikisan
sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Langsa tersebut.
Hal ini dikarenakan pasca pelaksanaan proyek pelurusan Krueng Langsa
ternyata memberikan dampak negatif terhadap ekosistem Daerah Aliran
Sungai (DAS) setempat. "Pelurusan bantaran sungai telah mengakibat
kecepatan debit air Krueng Langsa tinggi
disaat mengaliri badan sungai dibandingkan dengan sebelumnya yang
memiliki landscape (bentangan alam) yang masih berkelok-kelok,"tegas
Manager Program Aceh Landscape Development
Centre (ALDEC) Edi Syahputra, ST, Minggu(8/11) kepada
Analisa.Sebutnya, kondisi Krueng
Langsa cukup sensitif terhadap peningkatan volume air khususnya pada
musim hujan dengan intensitas yang tinggi akhir-akhir ini.
Sebelum dilakukan proyek pelurusan Krueng Langsa disaat voleme air
meningkat, masih bisa masyarakat sekitar DAS menyeberang badan sungai
tersebut tapi saat ini kecepatan
debit airnya memberikan danger signal (tanda bahaya) bila masyarakat
ingin melewatinya.
Karenanya, terhadap kondisi ini, Menejer Program ALDEC mengharapkan
Pemerintah Aceh mengembalikan bentukan DAS Krueng Langsa semula sesuai
dengan riverscape (bentukan alam sungai) yang berkelok kelok yang
berfungsi untuk mengurangi kecepatan debit air pada saat peningkatan
volume air.
"Program naturalisasi akan memberikan
stabilisasi ekosistem Krueng Langsa dengan berbagai fungsi kegunaannya,
seperti kawasan konservasi, sumber air bersih, habitat beberapa satwa
dan fauna,"tegas Edy Syahputra.
Dalam kesempatan tersebut, Menejer Program ALDEC ini juga menegaskan
agar penataan Krueng Langsa agar berpedoman kepada aturan yang berlaku
seperti halnya UU tentang Tata Ruang, UU Nomor 23 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan UU tentang Kehutanan.
Selanjutnya program
naturalisasi Krueng Langsa ini harus dilengkapi pula dengan dokumen
lingkungan seperti
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atau UPL dan UKL untuk
memberikan keberlanjutkan terhadap
pemanfaatan sumber daya alam secara ramah lingkungan,"tutupnya.(ed)
Realisasi APBA 2009 Memprihatinkan
| Realisasi APBA 2009 Memprihatinkan |
| Banda Aceh, (Analisa) Tingkat realisasi serapan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2009 sebesar Rp9,7 triliun untuk mempercepat pembangunan, hingga saat ini ternyata masih sangat memprihatinkan, karena lemahnya kinerja Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) seperti dinas, badan dan lembaga daerah lainnya. Menurut data yang diperoleh, hingga 30 September 2009, realisasi rata-rata fisik proyek APBA 2009 baru mencapai 32,15 persen dan keuangan 24,04 persen atau senilai Rp2,353 triliun dari pagu Rp9,791 triliun. Rendahnya realisasi fisik proyek APBA 2009, karena 22 SKPA dari 42 SKPA yang ada, tingkat realisasi fisik proyeknya masih berada di bawah 50 persen. Realisasi fisik proyek APBA 2009 yang baru mencapai 32,15 persen tertinggal jauh, bila dibandingkan dengan realisasi fisik proyek Badan Kesinambungan Rekontruksi Aceh (BKRA) yang mencapai 54 persen persen dan proyek APBN dari dana dekonsentrasi yang telah mencapai 74 persen. Kenyataan ini ternyata kurang mendapat perhatian dari Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf. Gubernur saat ini malah sedang sibuk dengan urusan lain kunjungan kerja ke luar negeri yang dilakukannya sejak 1-15 Oktober 2009, yaitu ke Amerika Serikat, Jepang dan China. Sejumlah kalangan masyarakatmengkritik keras sikap Gubernur Aceh itu yang kurang peduli terhadap persoalan yang terjadi di daerah saat ini, karena masih banyaknya program pembangunan yang tidak bisa berjalan. Sementara kunjungan ke luar negeri dengan alasan memenuhi undangan pihak ketiga, serta menjaring investor dinilai tidak bermanfaat bagi masyarakat Aceh, karena hingga dua tahun ini banyak yang belum terealisasi meskipun sudah puluhan Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani. Juru Bicara Kaukus Pantai Barat Selatan (KPBS) Aceh, TAF Haikal menyayangkan sikap Gubernur Aceh itu, yang untuk kesekian kalinya dalam tahun ini melakukan kunjungan ke sejumlah negara dengan berbagai alasan dalam jangka waktu yang lama. Tidak Dilakukan Sebaiknya, kunjungan ke luar negeri yang lama tidak dilakukan oleh gubernur dan rombongan. Mengingat realisasi anggaran di Aceh masih sangat rendah yaitu masih 32 persen, sementara waktu yang tersedia hanya 2,5 bulan lagi. "Kami mempertanyakan bentuk perhatian gubernur terhadap pembangunan daerah yang masih sangat lamban, jangan hanya asyik jalan-jalan saja," ujar Haikal kepada wartawan di Banda Aceh, Sabtu (10/10). Menurutnya, jika Irwandi Yusuf tidak segera menghentikan kebiasaan jalan-jalan ke luar negeri, maka akan banyak program pembangunan yang terbengkalai, kepercayaan rakyat Aceh kepada dirinya akan sia-sia saja. Banyak agenda pembangunan ke depan yang sudah di depan mata, perlu diprioritaskan oleh kepala daerah, seperti tahapan-tahapan penyusunan Rancangan APBA 2010. Jangan sampai terlalu lamanya gubernur di luar bisa mengganggu percepatan realisasi anggaran 2009 dan juga tepatnya jadwal pengesahan APBA 2010, kata Haikal. Direktur Aceh Judicial Monitoring Institute (AJMI), Hendra Budian, meminta agar anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) yang baru untuk berani melarang kunjungan Gubernur Irwandi Yusuf ke luar negeri, karena tidak ada manfaat sama sekali bagi masyarakat Aceh. Seharusnya gubernur lebih memerhatikan persoalan yang muncul di daerah dulu, ketimbang jalan-jalan terus ke luar negeri. Tugas utama anggota parlemen baru Aceh harus segera melakukan evaluasi terhadap kinerja eksekutif yang hingga saat ini belum juga menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik, kata Hendra Budian. Harus segera kembali Ketua sementara DPRA, Drs Hasbi Abdullah dari Partai Aceh (PA), sudah mengingatkan Gubernur Irwandi Yusuf terkait kegemarannya melakukan kunjungan ke luar negeri. "Jangan terlalu banyak ke luar negeri, dan harus segera kembali, karena masih sangat banyak tugas lain yang harus kita kerjakan dan pikirkan bersama Pemerintah Aceh," kata Hasbi Abdullah mengingatkan. Sebelumnya, Kepala Bappeda Aceh, Munirwansyah dalam rapat evaluasi APBA 2009 triwulan III, meminta supaya 22 SKPA yang kinerja fisik proyeknya masih di bawah 50 persen, agar menggenjot kinerja fisik proyeknya dalam sisa waktu kerja sekitar 2,5 bulan lagi. Sehingga pada akhir tahun nanti realisasi fisik proyeknya bisa mencapai di atas 90 persen. Seperti Dinas Pengairan Aceh, realisasi fisik proyeknya sampai bulan lalu menurut laporan yang disampaikan kepada Biro Administrasi Pembangunan Setdaprov Aceh baru mencapai 29,72 persen, dan keuangan 29,72 persen dari pagu yang diperoleh dalam APBA 2009 Rp 695,3 miliar. Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh yang mendapat alokasi anggaran sangat besar pada tahun ini mencapai Rp2,239 triliun, realisasi fisiknya lebih baik dari Dinas Pengairan, yakni mencapai 31,30 persen dan keuangan baru 17,65 persen. (mhd) |
Plus Minus Pembangunan Kota Langsa
PADA 17 Oktober 2009, Pemko Langsa genap berusia 8 tahun. Sebagai sebuah kota hasil pemekaran dari kabupaten induk Aceh Timur, sudah sepantasnya pula kita sebagai warga yang lahir dan dibesarkan di daerah ini bersyukur dengan hasil yang telah dicapai. Memang, plus-minus dalam derap pembangunan kota Langsa masih kita jumpai dan rasakan, namun yang patut kita sadari bahwa pembangunan akan terwujud dan berhasil bila mendapat dukungan dan partisipasi aktif seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah atau pejabat pemerintah hanya sebagai salah satu alat untuk menakhodai pembangunan, namun pelaku-pelaku utama pembangunan itu adalah masyarakat kota Langsa seluruhnya. Tanpa dukungan masyarakat, mustahil pembangunan yang diharapkan dapat terwujud apalagi bila masyarakat sendiri menaruh rasa apatis dan tak mau peduli dengan keberadaan kotanya yang tercinta.
Desa Alur Merbau, Buket Metuah, Alur Pinang yang merupakan pemasok utama padi sawah untuk Pemko Langsa malah masyarakatnya masih mengandalkan sawah tadah hujan. Bila hujan turun, maka persawahan ditanami namun bila kemarau petani kelimpungan kekurangan air.
Masih Kurang Zulkifli, salah seorang pengurus KTNA Kecamatan Langsa Timur kepada wartawan baru-baru ini menyatakan perhatian Pemko Langsa terhadap sektor ini masih sangat kurang. Irigasi yang didambakan petani masih sangat minim. Kalaupun ada banyak yang rusak akibat dibangun asal jadi seperti irigasi di Desa Asam Petek yang hancur akibat diterjang banjir.
Hal senada juga dikatakan M Yusuf, salah seorang pengurus KTNA Kota Langsa. Pemko Langsa masih kurang perhatian terhadap nasib para petani. Pemerintah Pusat sudah berencana menaikkan harga pupuk bersubsidi, tapi Pemko Langsa masih terkesan diam saja. "Harga tidak naik saja, pupuk susah kita dapatkan apalagi bila harga naik, maka penderitaan rakyat akan makin bertambah," katanya.
Untuk bidang olahraga lainnya, masih kurang mendapat perhatian dibandingkan sepakbola. Padahal ada sejumlah cabang olahraga yang lebih berprestasi membanggakan.
Hanya di bidang pendidikan yang patut dibanggakan, karena prestasi-prestasi pelajar Langsa cukup disegani oleh daerah lain.
Menyimak dari uraian diatas, rasanya masyarakat kota Langsa pantas menaruh harapan tinggi pada Walikota Zulkifli Zainon, apalagi Aceh sudah memasuki dan menikmati gerbang damai, UU-PA sudah lahir dan sebagainya. Demikian pula dengan anggota dewan (DPRK) Langsa yang baru sudah dilantik dan ureung nanggroe (sebutan untuk orang Aceh-red) sudah memimpin dewan yang terhormat ini.
News about Hasan Tiro return to Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam = NAD) leader highest ASNLF (Atjeh Sumatra National Liberation Font), which has lived in Sweden has a page of various newspapers overseas. Here I show some papers and news related to the return of the desired by the people of Aceh to become a leader in Aceh.
Return of an Aceh rebel leader
BANDA ACEH (Indonesia) - TENS of thousands of people packed the capital of Indonesia's war-torn Aceh province on Saturday for the emotional homecoming of the founding father of its separatist rebel movement.
Police said up to 100,000 people were set to pack the historic Grand Mosque in Banda Aceh, still bearing the scars of the 2004 tsunami, to greet Free Aceh Movement (GAM) founder Hasan di Tiro, returning after almost 30 years in exile. ........Continue reading in Straits Times
BANDA ACEH, Indonesia, Oct 11, 2008 (AFP) - The founder of Aceh's separatist rebel movement made an emotional homecoming today after nearly 30 years in exile and a war that killed thousands of people........Continue reading The Sunday Times
Thousands welcome exiled rebel in Indonesia's Aceh ...Reuters,Published: October 11, 2008
BANDA ACEH, Indonesia: Hasan di Tiro, founder of the former rebel group GAM in Indonesia's Aceh, returned to the once restive province on Saturday after 30 years in exile, calling for everyone to help keep the peace.
His return to the island of Sumatra came a day after Finland's former president Martti Ahtisaari won the Nobel Peace Prize for his role in global peaemaking including in Aceh...........Continue reading in International HERALD TRIBUNE
Aceh rebel leader returns from exile to Indonesia for visit www.chinaview.cn 2008-10-11 16:24:41
JAKARTA, Oct. 11 (Xinhua) -- Tengku Muhammad Hassan di Tiro, top leader of the former separatist organization Free Aceh Movement (GAM), arrived in Aceh Saturday from his exile, police said.
He was greeted by enthusiastic people in Aceh as he and entourages passed the street, said Tengku Adnan Brangsa, an aide of Tiro and the spokesman of the local party the Partai Aceh. ........Continue reading in Xinhua
Exiled rebel leader returns to Indonesia, By Jakarta correspondent Geoff Thompson and wires Posted Sat Oct 11, 2008 5:04pm AEDT
The 83-year-old founder of Aceh's rebel movement has returned to the tsunami-scarred Indonesian province for the first time in almost 30 years.
Hassan di Tiro was greeted by thousands of cheering supporters in Banda Aceh..........Continue reading in ABC News
Ex-Aceh rebel leader returns home after 30 years in Saturday 11th October, 11:34 PM JST JAKARTA —
Hasan di Tiro, the founder of a former rebel group that fought for almost three decades for Aceh’s independence, was greeted by thousands of people on Saturday when he arrived back in the once-restive Indonesian province after almost 30 years in exile in Sweden........Continue reading in Japan Today
Aceh guerrilla leader flies home Page last updated at 04:46 GMT, Saturday, 11 October 2008 05:46 UK
Thousands of former rebels have flocked to Banda Aceh to welcome him home.........Continue reading in BBC News
Indonesia's exiled Aceh rebel leader returns home
The founder of Aceh's separatist rebel movement has returned to Indonesia after nearly 30 years in exile in Sweden.
Tens of thousands of people are gathering in the Grand Mosque in the provincial capital Banda Aceh, to meet Hasan di Tiro founder of the Free Aceh Movement or GAM. ...........Continue reading in australia NETWORK
Exiled rebel leader returns to Indonesia's Aceh
Tajikistan News.Net
Saturday 11th October, 2008 (IANS)
Greeted by thousands of cheering supporters, the 83-year-old founder of Aceh's rebel movement returned to the tsunami-wracked Indonesian province of Aceh Saturday for the first time in almost 30 years.
Hassan di Tiro fled to Sweden in late 1970s after declaring Aceh independent in 1976, a move triggered that a long-running conflict in the northwestern Indonesian province.........Continue reading in Tajikistan News
Saturday, October 11, 2008 11:48:43 AM Oman Time
BANDA ACEH: The founder of Aceh's separatist rebel movement made an emotional homecoming Saturday after nearly 30 years in exile and a war that killed thousands of people.
Free Aceh Movement (GAM) founder Hassan di Tiro was greeted by thousands of cheering supporters and former guerrillas as he flew into the capital of the war-torn and tsunami-scarred Indonesian province........Continue reading in Time of Oman
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia Sat Oct 11, 12:57 AM ET
BANDA ACEH, Indonesia (AFP) - The founder of Aceh's separatist rebel movement returned to Indonesia Saturday after nearly 30 years in exile and after a war that killed thousands of people.......Continue reading in Yahoo ! News
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia Sat, Oct 11, 2008 AFP
BANDA ACEH, Indonesia, Oct 11, 2008 (AFP) - The founder of Aceh's separatist rebel movement made an emotional homecoming Saturday after nearly 30 years in exile and a war that killed thousands of people.
Free Aceh Movement (GAM) founder Hassan di Tiro was greeted by thousands of cheering supporters and former guerrillas as he flew into the capital of the war-torn and tsunami-scarred Indonesian province..........Continue reading in Asian One News
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia The Daily Star, Bangladesh
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia Zee News, India
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia Today Online
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia Channel News Asia
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia Daily Time, Pakistan
Exiled rebel leader returns to Indonesia's Aceh Trend Newws
Indonesia's exiled Aceh rebel leader returns home Radio Australia
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia by Stephen Coates France 24
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia MSN Arabia
Exiled Aceh leader returns Aljazeera
Exiled rebel leader returns to Indonesia's Aceh AOL News , India
Exiled Aceh rebel leader returns to Indonesia
Lycos News Thousands welcome exiled rebel in Indonesia's Aceh
AOL News Thousands welcome exiled rebel in Indonesia's Aceh
News STV TV Thousands welcome exiled Aceh's insurgent
World Bulletin Free Aceh's founder returns from exile
Radio Netherlands
sumber: Aceh Blogging
Seulamat Uroe Raya
Admin Blog Atjeh Pusaka mengucapkan Seulamat Uroe Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H... Neu peu meu'ah lahee ngon batein...
-
PEUTRON ANEUK Oleh: TA Sakti Jameun ka maju sang dumpeue bereh Keu adat Aceh hansoele kira Buet peutron aneuk bacut lon cukeh La...
-
Atjeh Pusaka - Hadih Maja atau Nariet Maja adalah suatu ungkapan atau pribahasa didalam kehidupan masyarakat Aceh. Hadih Maja ini mengandun...
-
Video Sya'ir Prang Sabi Video Sya'ir Doda Idi Video Sya'ir Prang Sabi by Cut Niken Hikayat Prang Sabi ...



