Kamis, 25 Oktober 2018

Hikayat Prang Sabi



Video Sya'ir Prang Sabi

Video Sya'ir Doda Idi

Video Sya'ir Prang Sabi by Cut Niken

Hikayat Prang Sabi

Atjeh Pusaka - Hikayat Prang Sabi adalah sebuah hikayat yang diciptakan atau dikarang oleh Tgk Chik pante kulu yang merupakan sebuah syair kepahlawanan yang membentuk suatu irama dan nada yang sangat heroik yang membangkitkan semangat para pejuang Aceh dari zaman penjajahan portugis sampai zaman penjajahan Belanda hingga sekarang. Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi adalah pendahuluan atau mukadimah.

Bagian yang juga berbentuk syair ini menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya Hikajat Prang Sabi, dalam hubungannya dengan perang melawan Belanda. Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk perang Sabil. Juga disebutkan satu pahala yang dapat diperoleh bagi mereka yang berjihad dalam perang Sabil (jalan Allah-Red). Salah satu pahala yang akan diterima mereka yang mati syahid dalam perang tersebut adalah akan bertemu dengan dara-dara dari surga ( Bidadari).




Bait-Bait Syair Prang Sabi

Salam alaikom walaikom teungku meutuah
Katrok neulangkah neulangkah neuwo bak kamoe
Amanah nabi...ya nabi hana meu ubah-meu ubah
Syuruga indah...ya Allah pahala prang sabi....

Ureueng syahid la syahid bek ta kheun matee
Beuthat beutan lee...ya Allah nyawoung lam badan
Ban saree keunoeng la keunoeng seunjata kafee la kafee
Keunan datang lee...ya Allah peumuda seudang...

Djimat kipah la kipah saboh bak jaroe
Jipreh judo woe ya Allah dalam prang sabi
Gugor disinan-disinan neuba u dalam-u dalam
Neupuduk sajan ya Allah ateuh kurusi...

Ija puteh la puteh geusampoh darah
Ija mirah...ya Allah geusampoh gaki
Rupa geuh puteh la puteh sang sang buleuen trang di awan
Wat tapandang...ya Allah seunang lam hatee...

Darah nyang ha-nyi nyang ha-nyi gadoh di badan
Geuganto le Tuhan...ya Allah deungan kasturi
Di kamoe Aceh la Aceh darah peujuang-peujuang
Neubi beu manyang...ya Allah Aceh mulia...

Subhanallah wahdahu wabi hamdihi
Khalikul badri wa laili adza wa jalla
Ulon peujoe Poe sidroe Poe syukoe keu rabbi ya aini
Keu kamoe neubri beu suci Aceh mulia...

Tajak prang meusoh beureuntoh dum sitre nabi
Yang meu ungkhi ke rabbi keu poe yang esa
Soe nyang hantem prang chit malang ceulaka tubuh rugoe roh
Syuruga tan roeh rugoe roh bala neuraka...

Soe-soe nyang tem prang cit meunang meutuwah teuboh
Syuruga that roeh nyang leusoeh neubri keugata
Lindong gata sigala nyang muhajidin mursalin
Jeut-jeut mukim ikeulim Aceh mulia...

Nyang meubahagia seujahtera syahid dalam prang
Allah pulang dendayang budiadari
Oeh kasiwa-sirawa syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamong syuruga tinggi...

Budiyadari meuriti di dong dji pandang
Di cut abang jak meucang dalam prang sabi
Oh ka judo teungku ee syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamong syuruga tinggi...




Begitulah hikayat itu didengungkan, Hikayat ini adalah salah satu inspirator besar penentuan perjuangan rakyat Aceh. Sedari dulu bangsa Aceh sudah sangat akrab dengan syair-syair perjuangan Islam, sajak-sajak akan sebuah hakikat keadilan berisi dengan puji-pujian kepada Allah Rabb Semesta Alam. 

Hikayat Prang Sabi diciptakan atau dikarang oleh Tgk Chik Muhammad Pante Kulu yang merupakan sebuah syair kepahlawanan yang membentuk suatu irama dan nada heroik yang mampu membangkitkan semangat para pejuang Aceh ratusan tahun lamanya, dari zaman kolonial portugis hingga zaman penjajahan Belanda, dan setelahnya.


Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak aceh, laki-laki, perempuan, tua muda, besar kecil dari zaman ke zaman dalam sejarah Aceh sepanjang abad.

Pengaruh hikayat perang sabil mampu membangkitkan semangat jihad siapa saja yang membaca ataupun mendengarnya untuk terjun ke medan perang. Sehingga Zentgraff dalam bukunya berjudul “ ATJEH ” (1983) menulis banyak pemuda yang memantapkan langkahnya ke medan perang karena pengaruh hikayat Perang Sabil. Menurut Zentgraf, hikayat perang sabil karangan ulama Pante Kulu telah menjadi momok yang sangat ditakuti oleh Belanda, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan-apalagi membaca hikayat perang sabil itu mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia Belanda dengan membuangnya ke Papua atau Nusa Kambangan.

Sarjana Belanda ini menyimpulkan, bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati, kecuali hikayat Perang Sabi. Kalau pun ada karya sastrawan Perancis La Marseillaise dalam masa Revolusi Perancis, dan karya Common Sense dalam masa perang kemerdekaan Amerika, namun kedua karya sastra itu tidak sebesar pengaruh hikayat perang sabil yang dikarang Tgk. Chik Muhammad Pante Kulu.

Belajar dari sejarah, maka Aceh-lah negeri yang ditakuti oleh Portugis dan sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda sejak tahun 1873 serta Jepang. Beribu macam taktik perang yang digunakan oleh para penjajah tetapi tidak dapat menguasai Aceh yang unggul dengan taktik perang gerilyanya. Sejarah mencatat bahwa perang kolonial di Aceh adalah yang paling alot, paling lama, dan paling banyak memakan biaya perang dan korban jiwa penjajah.

Itu sebabnya, sejarawan Indonesia Ali Hasjmy menilai bahwa hikayat perang sabil yang ditulis Tgk. Chik Pante Kulu telah berhasil menjadi salah satu karya sastra puisi terbesar di dunia. Menurut Hasjmy, pengaruh syair hikayat perang sabil sama halnya dengan pengaruh syair-syair perang yang ditulis oleh Hasan bin Sabit dalam mengobarkan semangat jihad umat Islam di zaman Rasulullah. Atau hikayat Perang Sabil dapat disamakan dengan illias dan Odyssea dalam kesusastraan epos karya pujangga Homerus di zaman “Epic Era” Yunany sekitar tahun 700-900 sebelum Masehi. 

Mengapa hikayat perang sabil begitu berpengaruh dalam membangkitkan semangat jihat perang orang Aceh melawan Belanda. Menurut tela'ahan, hikayat perang sabil yang ditulis Chik Pante Kulu ini terdiri dari empat bagian (cerita):
  • Pertama, mengisahkan tentang Ainul Mardhiah, sosok bidadari dari syurga yang menanti jodohnya orang-orang syahid yang berperang di jalan Allah.
  • Kedua, mengisahkan pahala syahid bagi orang-orang yang tewas dalam perang sabil.
  • Ketiga, mengisahkan tentang Said Salamy, seorang Habsi berkulit hitam dan buruk rupa. 
  • Keempat, menceritakan tentang kisah Muda Belia yang sangat mempengaruhi jiwa para pemuda untuk berjihad di medan perang melawan kezaliman penjajahan Belanda.


Naskah asli Hikayat Prang Sabi



Sejarah terciptanya Hikayat Prang Sabil

Ada dua versi pendapat tentang Tgk. Chik Pante Kulu dalam mengarang hikayat perang sabil ini. Sebagian mengatakan, hikayat perang sabil ini dikarang Chik Pante Kulu ketika beliau dalam perjalanan pulang dari Mekkah ke Aceh. Berarti hikayat perang sabil ditulis Chik Pante Kulu di atas kapal selama dalam pelayarannya dari Arab ke Aceh.

Pendapat lain mengatakan, hikayat perang sabil ini ditulis Chik Pante Kulu adalah atas suruhan Tgk. Chik Abdul Wahab Tanoh Abee yang lebih dikenal Tgk. Chik Tanoh Abee. Karena, pada waktu Tgk. Muhammad Saman Ditiro meminta izin pada Tgk. Chik Tanoh Abee untuk berperang melawan Belanda. 

Maka saat itu Tgk. Chik Tanoh Abee menanyakan pada Tgk. Chik Ditiro:

“Soe yang muprang dan soe yang taprang? (Siapa yang berperang dan siapa yang akan diperangi)”.

Chik Ditiro menjawab: “Yang muprang Muhammad Saman, yang ta prang kafe Beulanda, (Yang berperang Muhammad Saman, yang kita perangi kafir Belanda)”.

Menurut hikayat marga tanoh abee, sekiranya waktu itu Chik Ditiro menjawab, yang muprang ureung Islam, yang ta prang Belanda. Kemungkinan Tgk. Chik Tanoh Abee tidak akan merestui Chik Ditiro untuk berperang, sebab jika orang Islam yang berperang, karena di kalangan orang Islam sendiri masih banyak yang harus diperangi, yaitu orang-orang yang bukan Islam sejati.

Maka Tgk. Chik Tanoh Abee merestui Tgk. Chik Ditiro mengobarkan peperangan terhadap Belanda. Dalam mendukung gerakan perang ini Tgk. Chik Tanoh Abee mengarang khusus hikayat perang sabil dalam bahasa Arab untuk pimpinan-pimpinan perang.

Sedangkan untuk laskar perang hikayat perang sabilnya dikarang oleh Tgk. Chik Pante Kulu dalam huruf Jawi berbahasa Aceh, yang kemudian hikayat perang sabil karangan Tgk. Chik Pante Kulu ini membawa pengaruh luar biasa dalam membangkitkan semangat jihad lasykar Aceh berperang melawan Belanda.

Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi adalah pendahuluan atau mukadimah. Bagian yang juga berbentuk syair ini menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya Hikayat Prang Sabi, dalam hubungannya dengan perang melawan Belanda. Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk perang Sabil.

Juga disebutkan satu pahala yang dapat diperoleh bagi mereka yang berjihad dalam perang Sabil (di jalan Allah). Salah satu pahala yang akan diterima mereka yang mati syahid dalam perang tersebut adalah akan bertemu dengan bidadari surga.

Ulama dan pujanggawan kelahiran 1836 M di Desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kota Bakti, Pidie, memang telah lama meninggalkan kita. Namun hikayat perang sabil yang ditinggalkan tetap hidup di jiwa orang Aceh sebagai hasil karya sastra terbesar yang diakui dunia pada zamannya. Tidak mengherankan, Sehingga kemudian penyair Taufik Ismail mengabadikan kedahsyatan pengaruh Hikayat Perang Sabil dalam sebuah syair panjangnya berjudul: “Teringat Hamba Pada Syuhada Kita Dihari Kemerdekaan, Musim Haji 1406 H” . 

Taufik bersyair:

Lihat, seorang penyair abad sembilan belas, Teuku Cik Pante Kulu
Dalam umur matang 45 tahun sedang menuliskan puisi panjangnya Hikayat Perang Sabil

Terdengarkah olehmu?
Gurasan kalamnya berdesir di atas sebuah kapal layar
Menampakkan namanya digoyang anging Samudera Hindia
Seberkas puisi besar dalam empat bagian yang tidak ada tandingannya sedang dituliskan dalam membangkitkan nyali mempertahankan kemerdekaan

Tampakkah olehmu?
Puisi itu diserahkannya kepada Teuku Cik Ditiro di sebuah desa dekat Sigli
Dan puisi itu berubah menjadi sejuta rencong melawan penjajahan Belanda

Terdengarkah olehmu?
Merdunya Al Furqan dinyanyikan
Kemudian puisi Hikayat Perang Sabil dibacakan
Yang mendidihkan darah, memanggang udara

Menjelang setiap pasukan terlibat pertempuran
Mengibarkan panji fii sabilillah
Puisi itu dibacakan setiap mereka akan pergi bertempur

Allah,
Berilah barokah kepada penyair besar ini
Beri dia Firdaus sebesar langit dan bumi di alam yang dimensi waktunya tak dapat dikira
Dia telah menulis puisi yang berfaedah


Pengaruh Hikayat Prang Sabi terhadap masyarakat Aceh ternyata mempunyai jangkauan yang cukup panjang baik dalam waktu maupun dalam lingkungannya dan ini dikatakan telah membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme kepada pembaca dan pendengarnya selama perlawanan masyarakat Aceh terhadap Belanda yang cukup panjang (Misri A. Muchsin, 2014:35-36).

Hikayat Prang Sabi, hikayat yang mampu membangkitkan semangat cinta tanah air. Demikian juga yang sering dilakukan oleh orang terdahulu, menanamkan jiwa nasionalisme dan patriotisme terhadap generasi muda dengan mendendangkan Hikayat Prang Sabipada saat dodaidi (mengayun) anak (Badruzzaman Ismail, 1994:221).

Apabila kita menelaah Hikayat Prang Sabi dengan teliti maka kita akan mengetahui bahwa Hikayat Prang Sabisebagai suatu karya sastra memenuhi segala syarat pendidikan. Ia telah sanggup mendidik akal manusia Aceh dalam zaman sesulit itu dan bahkan telah sanggup memberi nilai-nilai keindahan pada jiwa setiap pemuda pada zaman itu untuk membela tanah air. Hingga tak heran jika pada abad 19 ketinggian nilai sastra Hikayat Prang Sabi sebagai suatu karya sastra telah dipelajari dan diteliti oleh sejumlah sastrawan Belanda yang ahli bahasa Aceh.

Seorang ahli bahasa dan sastra Aceh H.T, Damste yang menerjemahkan Hikayat Prang Sabi dan memeperkenalkannya ke dunia barat sehingga menjadi bacaan wajib bagi para mahasiswa fakultas sastra Aceh di Belanda, dan juga menjadi perhatian umum bagi para mahasiswa sastra pada umumnya (A. Hasjmy, 1977: 16).

Zaman dahulu juga mengajarkan kepada anak-anak tentang Hikayat Prang Sabi. Hikayat Prang Sabi mampu menumbuhkan semangat nasionalisme para anak muda zaman dahulu untuk membela bangsa dan negara. Terbukti dengan banyaknya buku-buku pelajaran yang dibawa mengungsi dan terdapatnya Hikayat Prang Sabi (Mohammad Said, 2017:319). 

Lirik Hikayat Prang Sabi memiliki arti dan makna yang mendalam bagi rakyat Aceh. Seperti yang tertera di buku Apa Sebab Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi Belanda karya Ali Hasjmy bahwa Hikayat Prang Sabi dapat membangkitkan semangat patriotisme dan nasionalisme. Bahkan ketika kecil dahulu, Ali Hasjmy kerap didendangkan lagu Hikayat Prang Sabi oleh neneknya ketika diayunan, guna menumbuhkan semangat cinta pada kebudayaan dan tanah air. 

Menurut Teuku Ibrahim Alfian buah naskah mengenai perang sabil yang tertua kita jumpai di Perpustakaan Univerista Negeri Leiden, Belanda ditulis pada 11 Sya’ban 1122 H. Atau 5 Oktober 1710 tertulis dalam bahasa Aceh. Namun sayang nya nama pengarangnya tidak tertera di dalamnya. Hanya penggubah hikayat itu menyebutkan tidak tertera di dalamnya




Fungsi Hikayat Prang Sabi 

Perang Aceh atau yang lebih tepat dengan nama Perang Kolonial Belanda di Aceh yang berlangsung puluhan tahun ini memperkuat tradisi penentangan yang keras terhadap kolonialisme barat, yang di Aceh dengan mudah dirumuskan kolonialis atau penjajah itu sebagai Kaphe

atau kafir. Tradisi penentangan ini telah menyebabkan berkembangnya suatu sikap politik tertentu dalam masyarakat Aceh. Di samping itu juga mempengaruhi corak serta tempo perkembangan sosial di Aceh. Bagi orang Aceh perang melawan kolonialisme merupakan perang yang telah disakralkan/disucikan. 

Di bawah pimpinan para ulama perang bukanlah sekedar menyabung nyawa dalam membela negeri, tetapi juga sebagai tindakan yang mempunyai nilai spiritual yang tinggi. Di sini perang telah merambah ke dimensi agama. Hampir setiap peperangan/perlawanan yang dihadapi dimensi agama sangat menonjol. Ideologi perang suci atau perang sabil selalu dimunculkan. Mulai dalam perang dengan pihak Portugis, perang dengan kolonial Belanda sampai dalam perang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia di Aceh. Dan di sini peranan kaum elite religius sangat menentukan. 

Kepada para pejuang dibekali pengetahuan yang berhubungan dengan keyakinan bahwa mati di dalam medan pertempuran tidaklah berarti berakhirnya kehidupan, tetapi merupakan awal kehidupan yang semurninya dan seabadinya yang menjanjikan kebahagiaan tanpa henti atau surga. Sebab mati dalam perang melawan kafir adalah syahid di jalan Allah. Di bawah pimpinan para ulama idiologisasi perang dilakukan. Sesuai dengan kedudukannya, para ulama pertama kali melancarkan seruan jihad lewat khutbah-khutbah Jum’at dan tabliq-tabliq. Bahan-bahan khutbah tersebutkemudian diolah menjadi sebuah hikayatyang populer dengan sebutan Hikayat Perang Sabil. 

Hikayat ini merupakan salah satu bentuk sastra Aceh yang paling digemari dan dinikmati secara berkelompok dalam penyampaian secara lisan oleh seorang juru baca hikayat. Rupanya para ulama sadar betul akan daya gugah semangat perlawanan para pejuang melalui Hikayat Perang Sabil.

Karena melalui sarana ini dianggap lebih efektif bila dibandingkan dengan khutbah-khutbah yang disampaikan pada setiap hari Jum’at. Hikayat yang digubah dalam berbagai versi ini dalam istilah Aceh dikenal dengan nama Hikayat Prang Sabi. Hikayat ini dibaca di Meunasah-Meunasah, dayah-dayah dan di tempat persembunyian para pejuang Aceh. Di samping juga di rumah-rumah atau secara berkelompok di tempat-tempat tertentu. Berikut ini dikutip beberapa model Hikayat Prang Sabi yang berisi tentang keutamaan perang di jalan Allah.

“Hanya perang sabil ibadah utama, tiada satu pun tandingannya Firman Tuhan Rabbul Jalil. Hadits Nabi Saydil Anbia Terbaik jalan kembali pada ilahi, hanya perang sabil, lainnya tiada”

Pada bagian di bawah ini dikutip pula beberapa baris syair dalam Hikayat Prang Sabi karya Teungku Chik Pante Kulu alih akasara Anzib 1964 halaman 17 sebagai berikut:

“Wahe teungku donya ka akhe, agama tan le soe peuduli Bandum ulama narit tan le, keu prang kaphe han peuduli Gadoh akai dum habeh klo, tan le hiroe buet prang sabi Meulaenkan nyang na ngon izin po, Teungku Chik Tiro teladan Nabi”

Artinya,“Wahai teungku dunia telah lahir, agama tak ada yang peduli Semua ulama tak lagi bicara, perang kafir tak lagi peduli Hilang akal semua sudah tuli, tak lagi hiraukan perang sabil Melainkan dengan izin Rabbi, Teungku Chik Tiro teladan Nabi”

Hikayat Prang Sabi yang digubah oleh para ulama ini, secara nyata memang mendapat sambutan dari masyarakatnya. Berkat kegiatan penyalinan, karya-karya tersebut dalam waktu yang tidak begitu lama segera tersebar ke seluruh tanah Aceh. Potongan-potongan kisah dari karya Teungku Chik Pante Kulu menjadi nyanyian (radat) dimeunasah-meunasah.

Untuk sekedar contoh di sini dikutip beberapa lirik nyanyian yang dimaksud yang diolah kembali dari karyaTgk. Chik Pante Kulu:

(1) Bidadari sebagai pengantin perang 
Batee di pante pudoe ngon intan, lam krueng meukawan budiadari Budiadari dum seudang-seudang, ji teubiet u blang ji dong meuriti Jimat ngon kipaih ka saboh sapoe, jipreh woe lakoe nibak prang sabi.

(Tebing sungai berturap intan, ditepian bertabur bidadari Bidadari remaja kembang, ke kancah perang datang menanti Tangan menggenggam kipas surgawi,menanti suami di kancah sabil)

(2) Enaknya Syahid di Medan Jihad 
Nibak mate di rumoh inong, bahle bak keunong aneuk tan tangke Nibak mate di ateuh tilam, bahle dalam blang cahid meugule Mate dalam prang sabilillah, teungku meutuah cit mangat sabe Tamse tajeb ie teungoh grah, meunanlah mangat bukon le 

(Daripada mati di rumah istri, baiklah ditembusi peluru kafir Daripada mati di atas tilam, baiklah di padang syahid hampiri Mati di kancah sabililillah, Teungku bertuah enak sekali Tamsil harus disuguhi air, begitu rasanya nyaman sekali)

Para ibu menina-bobokkan anaknya dengan memetik lirik-lirik hikayat perang tersebut atau mengubah lagu nina bobok itu dengan situasi aktual yang dihadapi saat itu. Hal ini sesuai dengan sifat puisi lisan yang dengan mudah dapat selalu disesuaikan dengan situasinya. Dinukilkan di sini beberapa lagu nina bobok dimaksud.

Alah hai do doda idi 
Boh giri sikarang dua
Reujang rayek banta sidi
Jak prang sabi bila agama

La Ilaha illallah
Bak meutuah bak mubahgia
Bagaih keuh rayek muda seudang 
Jipuga prang poh Beulanda

Jak kudoda doda idi
Anoe pasi rayeuek timang 
Reujang rayek Nyak puteh di
Jak prang sabi ji gantoe nang

Sebaliknya, pihak Belanda memandang HPS sebagai karya sastra subversif, karena itu menjadi karya yang dilarang menyimpan atau membacakannya. Begitu giatnya pihak Belanda membasmi naskah-naskah HPS yang mereka anggap berbahaya itu, sehingga setelah tahun 1924, HPS praktis hanya dibawakan secara lisan saja, sebab sebagian besar naskahnya sudah dirampas atau dibakar oleh penguasa Belanda. 

Kiranya perlawanan gigih rakyat Aceh menghadapi invasi Belanda yang memakan waktu lebih setengah abad itu erat kaitannya dengan peranan para ulama dan fungsi HPS di dalamnya. Perang terpanjang yang pernah dihadapi Belanda ini, telah menelan ratusan juta florin dengan ribuan korban, dan di pihak Aceh telah merenggut korban mendekati 100 ribu jiwa, hampir 20% dari jumlah penduduknya menurut perhitungan tahun1890.

Penutup 

Perang Kolonial Belanda di Aceh berlangsung cukup lama dan memakan biaya yang tidak sedikit. Dapat dikatakan pihak Belanda kewalahan menghadapinya.Tentunya, banyak faktor yang menyebabkan kegigihan dan keteguhan pihak rakyat Aceh untuk tetap bertempur melawan Belanda. Salah satu pendorong kekuatan dan keteguhan masyarakat Aceh adalah nilai-nilai yang diajarkan oleh agama Islam, yang dianut oleh rakyat Aceh. Nilai-nilai ajaran Islam ini kemudian dituturkan dalam bentuk tradisi lisan, yaitu berupa hikayat. Hikayat ini dituturkan kepada semua pejuang sebagai pembakar semangat mereka. Bagi mereka yang mendengar timbul rasa keberanian yang cukup tinggi. Apalagi bagi mereka yang mati di dalam pertempuran akan mendapat pahala sebagai mati syahid dengan imbalan surga di akhirat kelak.

Daftar Pustaka:
  • M. Adnan Hanafiah, “Semangat Kepahlawanan dalam Karya Sastra Aceh”, dalam LK. Ara, Taufiq Ismail dan Hasyim KS (eds) Seulawah Antologi Sastra Aceh Sekilah Pintas, (Jakarta: Yayasan Nusantara bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Istimewa Aceh, 1995). 
  • H.T. Damste. ”Hikajat Prang Sabi”,BKI 84.(’s-Gravenhage, 1928). 
  • Paul Van’t Veer,Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje. (Jakarta: Grafiti Pers, 1985).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.

Seulamat Uroe Raya

Admin Blog Atjeh Pusaka mengucapkan Seulamat Uroe Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H... Neu peu meu'ah lahee ngon batein...