Rabu, 17 Oktober 2018

Bab Sejarah Aceh - Episode: TEUKU CHIK DI TUNONG

Teuku Cut Muhammad yang diangkat oleh sultan sebagai uleebalang Tunong yang kemudian diberi gelar Teuku Chik Tunong. 


Makam Teku Chik Di Tunong

Atjeh Pusaka - Bung Karno, salah seorang proklamator kemerdekaan RI, pernah mengingatkan kepada kita dengan mengatakan "hanya bangsa yang besarlah yang menghormati pahlawan-pahlawannya". Para pahlawan yang telah berjuang mati-matian, mengorbankan harta benda dan bahkan jiwa demi mempertahankan kehormatan nusa, bangsa, dan agama. Mereka adalah manusia-manusia besar yang dilahirkan seirama dengan panggilan sejarah. Merekalah yang telah menghantarkan kita pada kondisi seperti saat ini. Salah satu daerah yang banyak menyimpan kenangan sejarah terhadap perlawanan para pahlawan atau pejuang adalah Aceh.

Perang Kolonial Belanda di Aceh

Aceh yang merupakan propinsi yang paling ujung letaknya, di sebelah utara pulau Sumatra, bagian paling barat dan paling utara dari Kepulauan Indonesia. Secara astronomis, Aceh ini terletak di antara 950 13’ dan 980 17’ BT dan 20 8’ dan 50 40’ LU2 (JMBRAS, 1879). Daerah ini mencakup daerah seluas 55.390 Km. Dengan demikian, secara geografis, Aceh mempunyai letak yang sangat strategis. Daerah ini terletak di tepi Selat Malaka. Karena letaknya di tepi Selat Malaka, maka daerah ini penting pula dilihat dari sudut lalu lintas internasional sehingga merupakan pintu gerbang sebelah barat kepulauan Indonesia.

Sejak zaman Neolithikum, Selat Malaka merupakan terusan penting dalam migrasi bangsa di Asia, gerak ekspansi kebudayaan India dan sebagai jalan niaga dunia Selat Malaka adalah jalan penghubung antara dua pusat kebudayaan Cina dan India. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila wilayah sekitar Selat Malaka selalu mempunyai peranan penting sepanjang gerak sejarah Indonesia. Muncul dan berkembangnya kerajaan di sekitar wilayah ini tidak mungkin kita pisahkan dari letak georafisnya yang sangat strategis tersebut.

Karena keadaan geografis yang strategis ini membawa dampak Aceh banyak didatangi oleh berbagai bangsa asing dengan berbagai macam motif dan kepentingan, baik budaya, politis, maupun ekonomis. Dengan berbagai motif dan kepentingan tersebut akan dapat membawa dampak positif dan negatif pula bagi perkembangan sejarah Aceh itu sendiri.

Di antara bangsa asing (Barat) terdapat bangsa yang bermaksud menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Aceh, sehingga timbullah reaksi yang berupa perlawananperlawanan terhadap bangsa asing yang melakukan tindakan tersebut. Salah satu bangsa asing pertama yang menghadapi perlawanan rakyat Aceh adalah Portugis. Sejak Portugis menduduki Malaka pada tahun 1511 Aceh merasa, kedudukannya terancam.

Oleh karena itu, Aceh mencoba melawan dan mengusir Portugis dari Malaka. Konflik Aceh-Portugis ini berlangsung sepanjang abad XVI hingga akhir perempatan abad XVII. Serangan terhadap kedudukan Portugis berulang kali dilakukan, yang pertama pada tahun 1537 dan yang terakhir pada tahun 1568. Pada serangan terakhir itu, Aceh telah menggunakan kekuatan yang terdiri atas 15.000 orang Aceh, 400 orang Turki, disertai pula dengan 200 buah meriam besar dan kecil (Djajadiningrat, 1961: 65).

Bangsa Asing lain yang berusaha menancapkan kuku kekuasaannya di bumi Aceh adalah Belanda. Rintisan permakluman perang Aceh oleh Belanda diumumkan oleh komisaris pemerintah yang merangkap Wakil Presiden Dewan Hindia Belanda F.N. Nieuwenhuijn, diawali dengan penandatanganan Traktat Sumatra antara Belanda dan Inggris dalam tahun 1871, yang antara lain "memberi kebebasan kepada Belanda untuk memperluas kekuasaannya di Pulau Sumatra", sehingga tidak ada kewajiban lagi bagi

Belanda untuk menghormati hak dan kedaulatan Aceh yang sebelumnya telah diakui, baik oleh Belanda maupun Inggris seperti yang tercantum di dalam Traktat London yang ditandatangani pada tahun 1824.

Pada hari Rabu tanggal 26 Maret 1873 dari geladak kapal perang Citadel van Antwerpen - yang berlabuh di antara pulau Sabang dengan daratan Aceh - Belanda memaklumkan perang kepada Aceh. Mulai saat itu, Aceh tertimpa malapetaka dan Belanda sendiri menghadapi suatu peperangan yang paling dahsyat, terbesar, dan terlama semenjak kehadirannya di Nusantara.

Namun demikian, permakluman perang tersebut tidak serta merta diikuti dengan kegiatan fisik militer karena Belanda masih menunggu terhimpunnya kekuatan perangnya yang sedang bergerak menuju Aceh dan kapal-kapal perang Belanda yang telah tiba di Aceh terus melakukan pengintaian dan provokasi di perairan Aceh. Selain itu, Belanda mengirim surat kepada Sultan yang meminta agar ia mengakui kedaulatan Belanda. Dinyatakan pula bahwa Aceh telah melanggar pasal-pasal perjanjian pada tahun 1857. Batas waktu yang diberikan 1 x 24 jam oleh Belanda kepada Sultan Aceh menunjukkan bahwa Belanda benar-benar akan menyerang. Jawaban yang diberikan Sultan jauh dari memuaskan bahkan ditegaskan bahwa di dunia tidak seorang pun yang berdaulat kecuali Allah semata (Said, 1961: 397).

Dihadapkan dengan kenyataan perang yang akan segera meletus, maka Aceh melakukan mobilisasi, baik di sekitar pantai yang berhadapan langsung dengan armada Belanda seperti di sekitar Ule Lheue, Pantai Ceureumen, Kuta Meugat, Kuala Aceh maupun di tempat strategis lainnya serta pusat-pusat kekuatan di Mesjid Raya, Peunayong, Meuraksa, Lam Paseh, Lam Jabat, Raja Umong, Punje, Seutuy, dan di sekitar Dalam (Kraton Sultan).

Akhirnya, tindak lanjut dan Permakluman perang Belanda kepada Aceh menjadi kenyataan. Pada tanggal 6 April 1873 dengan kekuatan 3.200 prajurit dan 168 perwira yang dipimpin J.H.R. Kohler, Belanda mendaratkan pasukananya di Pantai Ceureumen. (Sofyan, 1990: 26). Dengan demikian, terlihatlah nyata niat jahat Belanda untuk menancapkan kekuasaannya di bumi Aceh. Suatu perang kolonial resmi telah dikibarkan oleh pihak Belanda. Perang ini kemudian dikenal oleh masyarakat Aceh sebagai "Perang Belanda atau Perang Kaphe Ulanda", yang oleh Belanda dikenal dengan "Perang Aceh".

Kemudian, pantai Ceureumen pun menjadi lautan darah. Banyak anggota pasukan Belanda dan rakyat Aceh yang gugur. Menurut catatan para pejuang Aceh yang gugur diperkirakan 900 orang (Reid, 1969: 21-35). Walaupun demikian, penyerangan pertama Belanda ini dianggap gagal karena serangan ini tidak berhasil menundukkan Aceh. Di samping kuatnya perlawanan, kurangnya informasi tentang Aceh serta keadaan musim yang tidak menguntungkan menjadi sebab serangan pertama Belanda ini gagal. J.H.R. Kohler sebagai panglima perang pun tewas tertembak oleh seorang anggota pasukan Aceh di dekat Masjid Raya. Belanda tidak dapat menguasai kraton. Mereka dipukul mundur dengan menderita kekalahan berat, 45 orang tewas termasuk 8 opsirya serta 405 orang luka-luka diantaranya 23 opsir. Pada tanggal 29 April 1873 pasukan Belanda ditarik kembali ke Batavia (Sofyan, 1990: 85).

Hal ini menunjukkan bahwa Belanda tidak tahu kondisi Aceh secara menyeluruh. Semula Belanda menduga Aceh dapat ditaklukkan dengan mudah seperti daerah-daerah lain di Indonesia. Menurut Belanda pada saat itu Aceh berada dalam masa kemunduran apabila dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, baik dari segi politik maupun segi ekonomi. Tentang ini Kraijnhoof, misalnya, menyimpulkan bahwa situasi pemerintahan kesultanan Aceh lemah dan perlengkapan militer tidak berarti dibandingkan dengan Belanda. Oleh karena itu, Belanda berani menyerang Aceh. Namun kenyataanya perang Belanda di Aceh tidak hanya mencakup masalah ekonomi dan politik, tetapi ada segi-segi lain yang tidak diperhitungkan oleh Belanda, sehingga Belanda menelan kekalahan (Ahmad, dkk, 1993:4).

Kegagalan ekspansi pertama ini menyebabkan pemerintah Belanda melipatgandakan pasukannya untuk menundukkan Aceh. Untuk itu, Pemerintah Hindia Belanda memanggil seorang pensiunan jenderal, J. Van Swieten. la diangkat sebagai panglima perang pada agresi kedua ini dengan kekuatan 249 perwira dan 6.950 tentara (Sofyan, 1990: 28). Dipundaknya terdapat tugas berat untuk menyerang dan merebut Aceh dan kepadanya juga diberi wewenang mengadakan perjanjian dengan sultan. Selain menjadi panglima perang, ia diangkat pula sebagai Komisaris Pemerintah Hindia Belanda di Aceh.


Dalam agresi kedua ini Belanda berhasil menduduki istana dan mesjid raya pada tanggal 24 Januari 1874. Namun Belanda tidak berhasil menangkap Sultan beserta keluarganya. Sementara itu, Sultan beserta keluarganya dan pengikutnya sudah lebih dulu menyingkir ke Longbata pada tanggal 15 Januari 1874 sehingga usaha Van Swieten untuk menangkap Sultan menemui kegagalan. Di tempat baru ini Sultan mendirikan markas pertahanannya. Bersama-sama dengan Panglima Polem dan para pengikutnya yang lain bertekad untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda. Namun nasib buruk tidak dapat dihindari Sultan Mahmud Syah, ia diserang wabah kolera dan mangkat pada tanggal 29 Januari 1874 di Pagar Ayer dan dimakamkan di Cot Bada (Pusponegoro, dkk, 1992: 249). Sebagai penggantinya diangkatlah Sultan Muhammad Daud yang masih kecil sebagai Sultan Aceh.

Sejak itulah pemerintah Belanda dengan bermacam-macam siasat politiknya berusaha menaklukkan seluruh Aceh seperti yang dilakukan di berbagai daerah di Indonesia. Pembesar kerajaan, panglima dan rakyat Aceh yang masih mencintai kemerdekaan mengungsi ke pedalaman dan mengadakan perlawanan. Pada waktu Seulimum jatuh pada tahun 1879 dapat dikatakan seluruh Aceh Tiga Sagi berada dalam kekuasaan Belanda dan pemerintahan sipil pun berjalan dengan lancar (Jakub, 1952: 21).

Kaum pejuang mundur ke daerah yang masih merdeka Sultan. Muhammad Daud yang masih kecil itu serta pengiringnya mengungsi ke pedalaman di Keumala, daerah Pidie, sedangkan rakyat pejuang mundur ke Gunung Biram Lamtamot, di kaki Gunung Seulawah. Mereka tidak mau menyerah, biar mati dalam hutan, asal jangan ditangkap musuh. Namun perlawanan secara teratur tidak ada lagi.

Kaum pejuang yang berada di kaki Gunung Selawah tersebut lama kelamaan tidak sabar dan menderita terus-menerus dalam hutan menahan gigitan nyamuk Malaria dan kekurangan makanan. Oleh karena itu, muncullah kemudian dua golongan di kalangan kaum pejuang tersebut, ada yang terpaksa menyerah pulang ke kampung halaman karena tidak tahan menderita lebih lama. Ada pula yang mendaki Seulawah menuju daerah Pidie mencari bantuan untuk meneruskan perjuangan.

Pada awal tahun 1881, mereka tiba di Tiro menjumpai Tgk Chik Muhammad Amin Dayah Tjut, seorang ulama Tiro yang mempunyai pengaruh besar. Dua kali diadakan musyawarah antara pemimpin- pemimpin dan ulama- ulama seluruh Pidie. Keputusannya diangkatlah Tgk Sjech Saman, yang terkenal kemudian dengan Tgk Chik Di Tiro, menjadi panglima perang untuk merebut kembali tanah air yang telah jatuh ke tangan musuh.

Dengan demikian, dalam kondisi yang amat genting di mana kraton, mesjid raya, wilayah lainnya dikuasai Belanda sata semangat pejuang yang mulai menurun amatlah tepat kalau kemudian muncul kepemimpinan Tgk Sjech Muhammad Saman Dia seorang pejuang yang mendengungkan perang di jalan Allah, Perang Sabil. Siapa pun yang mati di medan perang, maka disebut mati syahid, surgalah ganjarannya. Pada akhirnya, perang dikumandangkan menyebar ke seluruh wilayah Aceh. Seluruh lapisan masyarakat bahumembahu mengangkat senjata untuk mengusir Belanda dari bumi Aceh.


Keureuto Pada Akhir Abad ke-19

Keureuto adalah sebuah daerah yang mempunyai kedudukan yang khas di antara wilayah Aceh sebagai salah daerah yang terkemuka dan terkaya. Daerah ini merupakan salah satu daerah dalam wilayah Kesultanan Aceh yang mempunyai uleebalang sendiri, terletak di daerah Kabupaten Aceh Utara sekarang. Daerah uleebalang Keureto mencakup daerah dan Krueng Pase sampai ke Panton Labu (Krueng Jambo Aye). Pusat Pemerintahannya di daerah Jiraat Manyang, yang terletak lebih kurang 20 km dari Lhoukseumawe sekarang.

Negeri ini sedemikian padat penduduknya sehingga dijuluki dengan nama Keujreun Lalat. Dalam lembaran sejarah Keureuto mengambil tempat terkemuka. Dalam pemerintahan Sultan Aceh, uleebalangnya turut bersama dalam musyawarah (Said, 1977). Karenanya melihat potensi yang dipunyai daerah ini kemudian Belanda berusaha menguasainya. Ketika Belanda dapat menguasai daerah ini, maka daerah yang begitu luas telah diperkecil dengan dijadikan suatu landskap di bawah onderafdeling Lhok Sukon.

Daerah uleebalang Keureuto dapat dikatakan suatu federasi dari beberapa daerah. Sepuluh dan daerah itu merupakan daerah inti yang diperintah langsung oleh Teuku Chi. Delapan daerah disebut uleebalang lapan (hulubalang delapan), yang diperintah uleebalang secara turun temurun dengan kedudukan uleebalang cut. Biasanya daerah ini adalah daerah yang baru dibuka dengan kompleks tanaman-tanaman lada yang dibuka atas anjuran dan bantuan keuangan dari Teuku Chi karena itu uleebalang cut selalu tergantung kepada Teuku Chi. Empat daerah disebut uleebalang peut, diperintah oleh Dewan Tuha Peut (H.C. Zentgraff, 1982: 382). Wewenang Tuha Peut yang paling nyata di masa yang lalu ialah hal-hal yang berkaitan dengan pengadilan, sehingga Teuku Chi tidak dapat memutuskan suatu perkara tanpa adanya persetujuan Tuha Peut.

Uleebalang pertama yang memerintah Keuleebalangan Keureuto adalah Teuku Keajreua Peugamat dan yang terakhir hingga Indonesia merdeka adalah Teuku Raja Sabi. Namun ada seorang uleebalang yang terkenal dari daerah ini yaitu Cut Nyak Asiah. la menggantikan suaminya yang bernama Teuku Chik Muhammad Ali setelah suaminya itu meninggal. Cut Nyak Asiah adalah seorang wanita yang tangkas dan bijak dalam berbicara di majelis. Dalam tiap konsultasi dengan uleebalangcutnya, dia sendiri yang memimpin pertemuan tanpa dibantu oleh orang lain (Zainuddin, 1966: 85).

Tiang tempat T. Chik Di Tunong di eksekusi oleh kompeni

Perkawinan antara Cut Nyak Asiah dengan Teuku Chik Muhammad All menghasilkan dua orang anak, tetapi keduanya telah meninggal sejak kecil. Menurut adat seorang uleebalang yang meninggal harus digantikan oleh keturunannya. Karenanya kemudian Cut Nyak Asiah mengambil dua putera dari saudaranya T Ben Berghang yang bernama Teuku Syamsarif dan Teuku Cut Muhammad sebagai anaknya.

Setelah Cut Nyak Asiah meninggal Belanda yang telah menduduki Keuleebalangan Keureuto mencoba menerapkan politik adu domba. Belanda mengangkat Teuku Syamsarif, yang tidak disenangi rakyat dan bersedia bekerja sama dengan Belanda, sebagai uleebalang. Teuku Cut Muhammad tidak menerima kerja sama itu. Kemudian, ia memimpin rakyatnya menentang Belanda dan berjuang di gunung-gunung bersama rakyat (Zakaria, dkk, 1993: 24).

Perjuangan Teuku Chik Tunong 

Dalam peperangan dengan Belanda, Teuku Chik Muhammad bergabung dengan pasukan Teuku Ben Daud. Sebelumnya Teuku Chik Muhammad berperang bersama dengan Sultan pada waktu Sultan dan Panglima Polem menjadikan Pasee dan Aceh Utara sebagai pusat pertahanan. Atas jasa-jasanya itu, akhirnya Teuku Cut Muhammad diangkat sebagai uleebalang Keurueto dari sultan dengan sebuah surat pengangkatan yang menggunakan cap sikeureung (cap sembilan). Oleh karena itu, daerah keureuto terdapat dua uleebalang, yaitu Teuku Syamsarif yang diangkat oleh Belanda sebagai uleebalang Baroh (yang dikenal dengan nama Teuku Chik Di Baroh atau Teuku Chik Bentara) dan Teuku Cut Muhammad yang diangkat oleh sultan sebagai uleebalang Tunong yang kemudian diberi gelar Teuku Chik Tunong.

Teuku Chik Tunong adalah bukan orang yang gila pangkat dan kedudukan, bebas dari pengaruh asing. la sama sekali tidak mau tunduk kepada pengaruh asing yang seringkali menginjak-injak kehormatan nusa, bangsa, dan agama serta selalu menganggap musuh kepada bangsa asing seperti Belinda. Sifat ini dibawanya ketika menjadi uleebalang, Teuku Chik Tunong bukan sekedar uleebalang yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda, tetapi ia juga seorang pemimpin muslimin yang ditakuti lawan dan dihormati kawan.

Setelah menikah dengan Cut Nyak Meutia, Teuku Chik Tunong lebik bersemangat dalam melakukan perjuangann menentang kekuasaan Belanda karena perjuangannya didukung penuh oleh sang istri. Jadilah, mereka pasangan serasi yang saling membahu dalam perjuangan melawan imprialis dan kolonialis Belanda. Mengenai perjuangan Teuku Chik Tunong, Zentgraaff (1982: 148), pemah mengomentari dengan kata-kata

"Sungguh sebuah kisah tersendiri. Mendadak, bagaikan kilat, ia melakukan serangan-serangan, sebentar di sini kemudian beralih di sana, dan menghilang jauh-jauh. Dia cukup arif memahami, agar tidak selalu melakukan perlawanan-perlawanan yang teratur terhadap pasukan Belanda".

Dalam melakukan peperangan Teuku Chik Tunong mempunyai strategi yang jitu dan matang. la bersama-sama dengan istrinya, sebelum mencegat patroli Belanda terlebih dahulu menyebar mata-mata. Dengan demikian, mereka dapat mempersiapkan pasukannya yang sedang melakukan operasi yang dianggap strategis. Cara ini dapat memberikan keuntungan besar karena Belanda dicegat secara tiba-tiba sehingga Teuku Chik Tunong dapat merampas senjata-senjata anggota pasukan Belanda.

Beberapa kali mereka berhasil mencegat patroli Belanda. Pada tahun 1902 pasukan Teuku Chik Tunong menyerang Detasemen Infantri di bawah komandan Van Steijn Parve yang berkekuatan 30 serdadu. Pada pertempuran itu, Belanda kehilangan 8 serdadu tewas dan luka sedangkan pada pihak pasukan Teuku Chik Tunong menderita 14 orang yang tewas (Zentgraff, 1982). Dalam bulan Agustus ia mencatat kembali penyerangan yang berhasil terhadap pasukan Belanda yang sedang melakukan patroli dari Simpang Ulim menuju ke Blang Ni.

Teuku Chik Tunong dapat mengetahui rute yang dilewati oleh pasukan Belanda tersebut dan kemudian menghancurkannya dekat jalan setapak tidak jauh dari Meunasah Jeuro. Kemenangan demi kemenangan yang diperoleh selama pertempuran dengan Belanda menambah kekuatan moral pasukan Teuku Chik Tunong untuk terus bertempur.

Salah satu pukulan keras yang diberikan pasukan Teuku Chik Tunong kepada Belanda terjadi pada bulan November 1903. Ketika itu, sebuah pasukan patroli yang dipimpin oleh Letnan Kok menaiki dua buah perahu yang bertolak dari Krueng Sampoe Niet menuju ke kampung Matang Reyeuk. Pasukan ini akan menghancurkan pasukan Teuku Chik Tunong yang akan mengadakan kenduri besar. Namun sebetulnya kenduri itu tipuan belaka. Sesuai dengan rencana, pasukan Kok akhirnya dapat dihancurkan oleh pasukan Teuku Chik Tunong.

Pukulan telak ini membawa pengaruh yang cukup besar kepada tentara Belanda, mereka merasa diperdayakan oleh orang Aceh.

Tindakan Belanda yang dilakukan untuk menghadapi perjuangan Teuku Chik Tunong adalah sebagai berikut:
  1. Mengadakan perundingan dengan Cut Nyak Asiah (bekas uleebalang Keureuto sebelum dibagi dua atau orang tua Teuku Chik Tunong). Melalui Cut Nyak Asiah, Van Heutz, gubernur sipil dan militer Aceh, menyatakan bahwa Teuku Chik Tunong sebagai uleebalang Keureuto di bagian Tunong dan hanya mengakui satu-satunya uleebalang Keureuto di bawah kepemimpinan Teuku Syamsarif (Teuku Chik Bentara Keureuto). 
  2. Memperbesar pasukan dan mengirim perwira-perwira yang cakap dalam menghadapi perang gerilya untuk melakukan operasi besar-besaran di daerah Pase/Keureuto. Pasukan ini dipercayakan kepada Kapten HNA Swart yang terdiri dari dua batalyon infantri dan enam brigade pasukan Marsose (Ahmad, 1993: 44-45). 
Menghadapi pasukan Belanda yang besar dan terlatih itu, pasukan Teuku Chik Tunong yang dibantu Cut Nyak Meutia tidak gentar sedikitpun. Selain dari seranganserangan yang gemilang. Seperti itu masih banyak lagi serangan-serangan kecil yang dilakukannya terhadap prasarana milik Belanda seperti jalan kereta api, hubungan telepon dan sejenisnya.

Semakin ganasnya serangan yang dilakukan oleh pasukan Teuku Chik Tunong menyebabkan Belanda gusar. Belanda membalasnya dengan membunuh penduduk yang tidak bersalah agar penduduk membenci Teuku Chik Tunong. Namun rupanya perhitungan ini meleset, penduduk malah makin percaya kepada Teuku Chik Tunong.

Selain itu Belanda yang kehabisan akal untuk menghadapi pasukan Teuku Chik Tunong ini, akhirnya pada bulan September 1903 Swart selaku komandan detasemen yang berkedudukan di Lhokseumawe meminta kepada Cut Nyak Asiah dan Teuku Syamsarif agar membujuk Teuku Chik Tunong turung gunung. Apabila tidak berhasil, Cut Nyak Asiah akan dijatuhi hukuman pembuangan (pengasingan) ke Subang. Pesan ini kemudian disampaikan kepada Teuku Chik Tunong dan Cut Nyak Meutia melalui utusan. Beberapa hari kemudian Teuku Chik Tunong pun turun menjumpai Cut Nyak Asiah (Zainuddin, 1966: 89).

Pada saat yang bersamaan pada pertengahan tahun 1903 Sultan Muhammad Daudsyah bersama dengan pengikutnya seperti Panglima Polem, Muhammad Daud, dan lain-lain telah menghentikan perlawanan. Hal inilah menjadi bahan pertimbangan Teuku Chik Tunong dan istrinya Cut Nyak Meutia untuk menghentikan perlawanan terbuka. Akhirnya pada tanggal 5 Oktober 1903 ia datang menyerahkan diri beserta pasukannya, dengan ditandai berlangsungnya suatu pertemuan antara Cut Nyak Asih dan Teuku Chik Tunong dengan HNA Swart, komandan Detasemen Belanda di Lhokseumawe. Teuku Chik Tunong diterima oleh Belanda dan diperlakukan dengan baik serta dibenarkan menetap di Kenegerian Keureuto. Walaupun demikian mereka akan tetap melakukan perjuangan di bawah tanah (Zainuddin, 1966: 89; Talsya, 1977: 10).


Gugurnya Teuku Chik Tunong

Walaupun Keureuto tampaknya aman setelah penyerahan diri Teuku Chik Tunong dan istrinya, namun Belanda tetap mengadakan patroli untuk mengejar sisa-sisa pejuang Aceh yang masih tinggal. Dari sekian banyak patroli yang mereka lakukan terdapat sebuah patroli yang membawa petaka yang menggemparkan Belanda dari Lhokseumawe dan Kutaraja sampai ke Batavia. Malapetaka besar yang diderita Belanda tersebut terjadi pada 26 Januari 1996.

Saat itu, sebuah patroli yang dikomandoi oleh sersan Vollaers dengan 16 orang anggota pasukan membangun bivak di Meurande Paya. Pasukan itu rupa-rupanya tidak bersikap hati-hati. Mereka membiarkan saja orang-orang Aceh yang berjualan ayam dan buah-buahan masuk dalam pagar. Tiba-tiba ada seorang Aceh memberi isyarat agar melakukan penyerangan. Semua anggota pasukan Belanda tewas, kecuali seorang yang sempat melarikan diri (Zentgraff, 1982: 120).

Peristiwa ini amat menyakitkan bagi Belanda. Guna menebus kekalahan ini, Swart memerintahkan mencari pelaku utamanya. la memerintahkan Van Vuuren untuk menyelidikinya. Dari hasil penelitiannya, dia menemukan bukti yang cukup menyakinkan bahwa yang melakukan penyerbuan itu adalah Uleebalang Buah bersama-sama Petua Dullah. Van Vuuren berhasil juga menyingkap sebuah tabir rahasia yang selama ini terselubung, yaitu bahwa dalam penyerbuan itu sesungguhnya dimatangkan oleh Teuku Chik Tunong dan disalurkan melalui Keujereun Buah dan Peutua Dulah (Zentgraff, 1982: 121-122).

Terlepas benar atau tidaknya hasil penyelidikan itu, akhirnya Teuku Chik Tunong dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah kolonial Belanda, yang berarti ia menjalani hukuman gantung. Namun Van Daalen, yang waktu itu menjabat gubernur militer, merasa tidak pantas bagi seorang pejuang yang dahulunya seorang pejuang yang gagah berani kini akan menjalani hukuman gantung. Dia berhak menerima kematian yang terhormat, maka kemudian Van Daalen merubah vonis itu menjadi hukuman tembak mati. Pada tanggal 25 Maret 1905 pagi Teuku Chik Tunong dibawa ke tepi pantai Lhokseumawe untuk menghadapi regu tembak. Gugurlah seorang pahlawan Aceh (Zentgraff, 1982: 122). Perjuangannya kemudian diteruskan oleh istrinya Cut Nyak Meutia dan pengikut-pengikutnya. 


(sumber: atjeh dalam sejarah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ulon tuan preh kritik ngoen nasihat jih. Maklum ulon tuan teungoh meuruno.

Seulamat Uroe Raya

Admin Blog Atjeh Pusaka mengucapkan Seulamat Uroe Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H... Neu peu meu'ah lahee ngon batein...